Film Bollywood Diprediksi akan Jadi Perekat Hubungan India-China

Senin, 10 Juni 2019 07:00 Reporter : Hari Ariyanti
Film Bollywood Diprediksi akan Jadi Perekat Hubungan India-China ilustrasi film bollywood. ©Bollywood Blog Quiz

Merdeka.com - Ribuan penggemar berada di bandara internasional utama di Beijing untuk menyambut megabintang Bollywood, Shah Rukh Khan saat dia mendarat di China untuk pertama kalinya April lalu. Kehebohan itu mengejutkan aktor berusia 53 tahun itu, hal yang tak pernah terbayangkan olehnya.

Sambutan hangat dari penggemarnya di China, kata Khan, menandai tren yang berkembang dari para pembuat film India yang memandang para penonton bioskop di negara itu sebagai sumber pendapatan baru yang potensial. Aktor yang biasa dipanggil King Khan ini dan merupakan figur yang memiliki pengaruh besar dalam industri film India, terlibat dalam China-India Film Cooperation Dialogue dengan proyek terbaru, Zero, ditampilkan pada Festival Film Internasional Beijing ke-9, yang khususnya tidak menghadirkan produksi film Hollywood tahun ini.

Sepanjang kunjungannya, Khan berbicara tentang potensi proyek bersama antara industri hiburan India dan China. Dengan hati-hati menghindari diskusi politik tentang hubungan India-China, Khan mengisyaratkan dalam wawancara dengan media pemerintah China pandangannya bahwa pertukaran budaya akan membuat hubungan warga kedua negara akan lebih kuat.

"Hubungan orang ke orang, saya pikir, 99 persen dipilih dengan pertukaran budaya, tidak ada masalah, atau pertukaran olahraga," kata Khan kepada China Daily, dilansir dari South China Morning Post, Minggu (9/6).

Tetapi dia menambahkan,"Anda melebih-lebihkan peran seni dan budaya jika Anda mulai menempatkannya di arena politik, karena itu terpisah satu sama lain".

Sentimen Khan menggaungkan komentar Perdana Menteri India Narendra Modi pada pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping di Wuhan tahun lalu di mana Modi menyerukan peningkatan kerja sama budaya.

Setelah pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri India, Vijay Gokhale, yang juga mantan Duta Besar untuk China, mengatakan saat itu Xi menanggapi Modi dengan menyatakan seruan itu merupakan ide yang bagus untuk dikembangkan dan seharusnya lebih banyak film India didatangkan ke China dan lebih banyak lagi film produksi China yang dikirim ke India.

Manfaat Hubungan Bilateral Bollywood

China adalah pasar film terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Potensi ini terbaca oleh radar Bollywood setelah keberhasilan tak terduga film Dangal (2017), yang dibintangi Aamir Khan. Dangal mengisahkan tentang seorang pegulat yang melatih anak-anak perempuannya untuk mencapai kesuksesan di tingkat dunia.

Drama olahraga ini mencetak lebih dari USD 190 juta di China - dua kali lipat dari box-office domestik - dan menjadi film non-Hollywood terlaris sepanjang masa di negara ini. Xi dilaporkan memberi tahu Modi bahwa ia telah melihat Dangal dan menikmatinya.

Film India dengan cerita roman atau pergulatan sosial yang jauh dari politik sejauh ini telah menarik penonton terbesar China.

India menghasilkan lebih banyak film dibandingkan negara lain dengan lebih dari 1.000 film panjang yang dibuat setiap tahun - kira-kira dua kali lipat dari Hollywood. Namun jumlah layar bioskop di negara tersebut berkurang dari 12.000 menjadi 9.000 selama lima tahun terakhir.

China, yang memiliki lebih dari lima kali jumlah layar bioskop di India, tidak pernah dilihat sebagai pasar konvensional untuk film berbahasa Hindi terutama karena diaspora India yang terbatas. Dari 5 juta orang India yang tinggal di luar negeri, hanya sekitar 55.000 di China. Sejauh ini Bollywood menargetkan penonton bioskop India tetapi tidak pernah penonton dari warga lokal. Namun, itu berubah dengan fokus pada China.

Raksasa konsultan Deloitte pada bulan Maret tahun lalu menerbitkan sebuah laporan berjudul "Kontribusi Ekonomi Industri Film dan Televisi di India" yang menjelaskan peluang yang berkembang bagi para pembuat film India. Jehil Thakkar, mitra di Deloitte India, mengatakan keberhasilan Dangal, Secret Superstar dan film thriller kriminal komedi hitam Andhadhun telah memotivasi para produsen untuk menjaga pasar China.

"Ini tiba-tiba menjadi pasar aspirasional. Bahkan jika sebuah film berkinerja cukup baik di China dibandingkan dengan India, itu adalah angka yang cukup besar karena jumlah layar dan harga tiket," kata Thakkar.

Harga tiket bioskop rata-rata sekitar USD 1,50 di India dan jauh lebih mahal di China yaitu sekitar USD 12.

Meski demikian, pasar China memiliki serangkaian tantangan seperti ketentuan hanya 34 film asing yang dapat diputar di bioskop setiap tahunnya. Ini membuat pusing Bollywood karena bersaing dengan Hollywood. Penyensoran ketat China terkadang bisa menjadi masalah untuk tampilan lagu dan tarian yang menjadi ciri khas Bollywood.

Kendati sulit membayangkan Bollywood menjadi soft power dalam urusan geopolitik India-China, beberapa analis mengatakan hubungan budaya ini dapat menjaga hubungan bilateral kedua negara.

"Seperti yang ditunjukkan Andhadhun dan Thugs of Hindostan, hal yang paling penting adalah film yang bagus, terutama sejak promosi mulut ke mulut begitu penting di China," kata pakar industri film China dari Lembaga AS-China Universitas Southern California, Stanley Rosen.

Rosen menambahkan, hubungan budaya selalu mengambil tempat di belakang prioritas politik Beijing.

"Politik selalu berkuasa di China, jadi jika hubungan berubah menjadi masam lagi karena masalah perbatasan atau gangguan lainnya, maka film India, perjanjian produksi bersama, dan lainnya, akan terdampak," pungkas Rosen. [pan]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini