Erdogan Sebut Mursi Meninggal Sebagai Syahid

Selasa, 18 Juni 2019 17:18 Reporter : Merdeka
Erdogan Sebut Mursi Meninggal Sebagai Syahid Kemenangan Erdogan di Referendum Turki. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kemarin menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi, yang meninggal dalam persidangan di Mesir pada hari yang sama.

Berbicara kepada wartawan di Istanbul, Erdogan mengatakan Presiden Mesir saat ini Abdul Fattah al-Sisi menggulingkan Muhammad Mursi yang terpilih secara demokratis, mengeksekusi 50 warga Mesir lainnya dan mengabaikan demokrasi.

"Sayangnya, insiden itu terjadi di ruang sidang. Pertama-tama saya memohon semoga Allah mengampuni saudara kita, Mursi, yang meninggal syahid, " kata Erdogan, sebagaimana dikutip dari situs web Aa.com pada Selasa (18/6).

"Negara Barat selalu diam menghadapi eksekusi Sisi. Negara-negara anggota Uni Eropa yang melarang eksekusi menerima undangan si pembunuh, Sisi untuk menghadiri pertemuan di Mesir," kata Erdogan, menggambarkan negara-negara Uni Eropa sebagai "munafik".

Dalam kesempatan itu, Erdogan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Mursi dan rakyat Mesir.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Mursi.

"Kudeta membuatnya lepas dari kekuasaan, tetapi ingatannya tidak akan terhapus dari hati kita. Umat tidak akan melupakan sikap tegasnya! Beristirahatlah dengan tenang Mursi," tulis Cavusoglu dalam pesan yang ditulis di akun Twitter miliknya.

Dalam sebuah posting di Twitter, pejabat ketua Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) di Turki, Numan Kurtulmus menyebut Mursi sebagai "martir" yang telah dipilih oleh suara sah rakyat Mesir. Dia juga menyatakan belasungkawa atas kematian mantan pemimpin Mesir tersebut.

"Presiden Mesir pertama terpilih, Muhammad Mursi, diadili di ruang sidang di bawah kendali junta setelah kudeta yang tidak bermoral dan melanggar hukum. Dia menjadi syahid di ruang sidang," kata juru bicara Partai AK Omer Celik dalam pesan Twitter di akun miliknya.

"Mereka yang mendukung kudeta dan mencari cara-cara banding terpenuhi dan sedang berusaha untuk memenuhi tugas mereka. Tetapi apa yang disebut dunia demokrasi tidak bisa lulus dalam kasus ini. Mereka diam terhadap eksekusi dan meletakkan karpet merah untuk para pemberontak. Rasa malu ini akan selalu tertulis di dahi mereka," papar Celik.

Presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, Muhammad Mursi, meninggal kemarin persidangan pengadilan atas tuduhan spionase, menurut televisi pemerintah.

Mursi yang kini berusia 67 tahun pertama kali kehilangan kesadaran selama persidangan yang dia hadapi untuk sejumlah tuduhan sejak dia digulingkan dan dipenjara dalam kudeta militer 2013.

Sejauh ini ada enam tuduhan kriminal terhadap mantan pemimpin termasuk, pembobolan penjara, pembunuhan, mata-mata untuk Qatar, mata-mata untuk Hamas dan Hizbullah, menghina pengadilan dan keterlibatan dalam terorisme.

Reporter: Tanti Yulianingsih

Sumber: Liputan6.com [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini