Enam Pria Ditetapkan Bersalah atas Pembunuhan dan Pemerkosaan Massal Bocah di India

Senin, 10 Juni 2019 18:20 Reporter : Hari Ariyanti
Enam Pria Ditetapkan Bersalah atas Pembunuhan dan Pemerkosaan Massal Bocah di India Demo anti-pemerkosaan di India. ©Reuters/Ahmad Masood

Merdeka.com - Enam dari delapan tersangka pemerkosaan, penyiksaan dan pembunuhan seorang bocah muslim delapan tahun di wilayah Kashmir, India ditetapkan bersalah di pengadilan.

Korban, yang merupakan warga suku nomaden muslim, mayatnya ditemukan di tengah hutan dekat Kota Kathua pada Januari 2018.

Kasus ini menjadi berita utama ketika kelompok sayap kanan Hindu dan kuasa hukumnya melakukan protes atas penangkapan delapan pria tersebut. Mereka semua membantah tuduhan itu.

Salah satu dari mereka - putra dari salah seorang terpidana - telah dibebaskan. Kedelapan terdakwa termasuk seorang pensiunan pejabat pemerintah, empat petugas polisi dan seorang anak di bawah umur.

Anak di bawah umur tersebut akan diadili secara terpisah sesuai dengan hukum remaja India, karena itu hanya tujuh orang yang dikenakan putusan pengadilan pada Senin, dilansir dari BBC, Senin (10/6).

Ibu korban menuntut hukuman mati untuk dua terpidana - pensiunan pejabat pemerintah Sanji Ram dan petugas polisi Deepak Khajuria - mengklaim bahwa mereka adalah "otak" di balik kejahatan tersebut.

"Wajah anak saya masih menghantui saya dan rasa sakit itu tak akan pernah hilang. Ketika saya melihat anak-anak lain yang seusianya bermain di sekelilingku, itu menghancurkan hatiku," ujarnya kepada wartawan BBC, Divya Arya di rumah keluarganya. Keluarga tersebut memilih tidak menghadiri persidangan untuk mendengarkan putusan.

"Ini adalah kemenangan semangat konstitusional. Seluruh negara memperjuangkan kasus ini, terlepas dari afiliasi agama," kata pengacara yang mewakili keluarga korban kepada BBC Punjabi.

Saat menyampaikan putusannya, pengadilan mengatakan hukuman keenam terpidana akan diumumkan pada pukul 14.00 waktu setempat.

Pengacara yang mewakili terdakwa mengatakan, meskipun bersalah, kasus ini didasarkan pada "bukti tidak langsung" dan telah meminta hukuman minimum untuk keenam pria tersebut. Dia menambahkan bahwa ada keadaan yang meringankan, termasuk fakta bahwa laki-laki adalah satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga mereka.

Perkosaan dan pembunuhan Kathua adalah satu di antara banyak kasus terkenal yang mendorong India untuk memperkenalkan undang-undang baru yang mewajibkan hukuman mati bagi siapa pun karena memperkosa anak di bawah 12 tahun.

Rincian cedera yang diderita anak itu membuat banyak orang India ngeri.

Kemarahan bertambah setelah dua menteri dari Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di India menghadiri sebuah rapat umum untuk mendukung para tersangka, yang komunitasnya terlibat dalam sengketa tanah dengan suku nomaden muslim itu.

Penyelidik pada waktu itu mengatakan, anak itu menjadi sasaran karena para pelaku ingin meneror suku-suku yang dikenal sebagai Gujjars- agar pergi dari wilayah tersebut.

Sentimen seputar kasus itu mendorong pengadilan tinggi untuk memindahkan persidangan dari Jammu dan Kashmir ke pengadilan di Pathankot di negara bagian Punjab utara dan memulai persidangan baru.

Orang tua korban mengaku mereka merasa terancam di Kathua, wilayah yang masyarakatnya mayoritas beragama Hindu. [pan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini