Dokter Palestina yang 9 Anaknya Dibunuh Israel Meninggal Karena Luka Parah Akibat Serangan Pasukan Zionis di Gaza

Hamdi al-Najjar sempat dirawat di rumah sakit karena luka tembus di perut dan fraktur pada tengkorak.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Dokter Palestina yang 9 Anaknya Dibunuh Israel Meninggal Karena Luka Parah Akibat Serangan Pasukan Zionis di Gaza
Dokter Palestina yang 9 Anaknya Dibunuh Israel Meninggal Karena Luka Parah Akibat Serangan Pasukan Zionis di Gaza (Merdeka.com)

Seorang dokter Palestina, Hamdi al-Najjar, yang juga ayah dari sepuluh anak, terluka parah dalam serangan Israel pada Mei lalu di rumah mereka yang bertempat di Khan Yunis, Jalur Gaza. Hanya satu putranya yang selamat, yakni Adam, dan Istrinya Dr. Alaa al-Najjar yang saat kejadian tengah bekerja di rumah sakit.

Serangan itu terjadi setelah Hamdi mengantar istrinya ke tempat kerja dan ia kembali ke pulang. Rumah Hamdi diserang hingga terbakar dan sembilan anaknya terbunuh.

Istrinya adalah dokter di Rumah Sakit Nasser. Saat kejadian tersebut, Alaa tengah merawat pasien di rumah sakit itu dan mendapati sepuluh anak dan suaminya dibawa ke rumah sakit tersebut. Sembilan dari sepuluh anaknya meninggal, dan suaminya kritis. Namun saat ini, suaminya telah meninggal dunia karena luka yang terlalu parah.

Sebelumnya, Pusat Hukum Gisha untuk Kebebasan Bergerak telah mengajukan permohonan kepada pasukan pendudukan Israel (IDF) agar Hamdi dan putranya menerima perawatan medis di luar negeri, dengan catatan keduanya masih menderita cedera parah yang mengancam nyawa mereka akibat serangan brutal Israel di rumah mereka, demikian dilansir Haaretz, Minggu (1/6).

Gisha mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberitahu Alaa bahwa mereka bermaksud mengevakuasi putra dan suaminya, seraya menambahkan Malta dan Irlandia telah menyatakan kesediaannya untuk merawat pasien dari Gaza.

“Dokumen medis terlampir menunjukkan bahwa serangan Israel menyebabkan cedera yang sangat serius dan mengancam jiwa ayah dan anak itu,” kata LSM itu.

“Akumulasi sejumlah besar darah di rongga dada telah menyebabkan tekanan pada paru-paru Hamdi menyebabkannya kolaps.”

Gisha menambahkan Hamdi kemudian “menjalani operasi darurat untuk membedah dadanya, dan lobus bawah paru-paru kanannya diangkat.” LSM ini juga menambahkan Hamdi “menderita luka tembus di perutnya, fraktur tengkorak yang membahayakan otak, dan cedera serius pada anggota tubuh kanannya yang mengakibatkan amputasi pada salah satu jarinya.”

Rekan kerja Alaa di Al-Tahrir, yang merupakan bagian dari kompleks medis Nasser, telah memberitahu media berita lokal dan asing bahwa Alaa tidak berhenti bekerja sejak saat itu.

Salah satu dari mereka, Ahmad al-Farra, yang mengepalai unit perawatan anak mengatakan bahwa Alaa terus bekerja di ruang gawat darurat sambil “secara berkala memeriksa suaminya.”

Reporter Magang: Devina Faliza Rey

Rekomendasi