Saat ini hanya 15 % bangunan yang dibangun di kota itu dan hanya 1 % dari rumah tinggal itu yang dihuni.
"Saya berhasil kabur dari tempat ini," kata Nazmi Hanafiah sambil tertawa getir.
Setahun lalu insinyur IT berusia 30 tahun itu pindah ke Forest City, sebuah kompleks perumahan yang dibangun oleh pengembang properti terbesar di China, Country Garden, di sebelah selatan Malaysia pada 2016.
Setelah enam bulan dia merasa tidak lagi betah. Dia tidak mau lagi tinggal di tempat yang dia sebut "kota hantu". Baginya, tempat ini terlalu sepi dan tidak menawarkan banyak aktivitas.
Advertisement
"Saya tidak peduli dengan deposit saya, saya tidak peduli dengan uang saya itu. Saya hanya harus keluar," katanya, seperti dilansir BBC Desember lalu.
"Saya merinding tiap kali kembali ke sini," kata dia. "Di sini saya sendirian kesepian. Cuma ada saya dan pikiran saya sendiri."
Proyek senilai USD 100 miliar atau Rp 1.581 Triliun itu dibangun dengan tujuan menampung hingga satu juta orang dan diharapkan menjadi tempat impian bagi orang China yang ingin memiliki rumah kedua di luar negeri, namun saat ini hanya segelintir unit yang ditempati.
Harga properti yang mahal dan lokasi yang terpencil membuat sebagian besar masyarakat Malaysia tidak mampu membeli properti di sana.
Advertisement
Sebagian besar pembeli dari China berencana menyewakan properti mereka kepada warga lokal atau menggunakannya sebagai tempat liburan.
Lokasi terpencil dan kurangnya fasilitas hidup membuat Forest City mendapat julukan "kota hantu". Tempat ini terasa seperti resor liburan yang ditinggalkan, dengan taman bermain yang rusak, toko dan restoran yang tutup, dan suasana yang suram.
Para penghuni yang tinggal di sana juga mengeluhkan keadaan yang tidak menguntungkan. Mereka merasa proyek ini tidak memenuhi ekspektasi mereka dan merasa terasing.
"Sejujurnya, tempat ini menyeramkan," kata Nazmi. "Saya memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap tempat ini, namun ternyata ini adalah pengalaman yang buruk. Tidak ada yang bisa dilakukan di sini" sambungnya.
Advertisement
Meski pemerintah Malaysia saat ini mendukung proyek ini, situasi pasar properti yang sulit di China dan masalah politik lokal telah membuat banyak pembeli ragu untuk melanjutkan investasi mereka di Forest City.
Pada 2016 sektor properti China tumbuh subur. Para pengembang meminjam dana dalam jumlah besar untuk membangun rumah tinggal di dalam dan luar negeri bagi kelas menengah.
Di Malaysia, Country Garden kala itu berencana membangun kota metropolitan yang ramah lingkungan, ada fasilitas golf, taman bermain air, perkantoran, bar dan restoran.
Delapan tahun kemudian, orang tidak perlu ada di China untuk merasakan krisis properti. Saat ini hanya 15 % bangunan yang dibangun di kota itu dan hanya 1 % dari rumah tinggal itu yang dihuni.
Faktor-faktor tak terduga seperti pembatasan perjalanan akibat Covid-19 dan kontrol terhadap pembelanjaan di luar negeri juga telah menghambat proyek-proyek luar negeri Country Garden.
Advertisement
Tidak hanya menghadapi masalah penjualan yang sulit, Country Garden juga menghadapi utang hampir USD 200 miliar. Meskipun begitu, perusahaan ini mengatakan kepada BBC mereka “optimis” dapat menyelesaikan seluruh rencana pembangunan Forest City.
Kesulitan yang dihadapi oleh Country Garden dan proyek-proyek properti lainnya di China menunjukkan bahwa membangun mega-pembangunan di negara dengan lingkungan politik dan ekonomi yang tidak stabil tidak selalu merupakan keputusan yang bijaksana.
Forest City tadinya diharapkan menjadi "surga impian bagi segenap umat manusia". Tapi kenyataan kini sungguh berbanding terbalik.
Forest City berlokasi di tempat terpencil di pulau yang jauh dari kota besar terdekat Johor Bahru.
Dalam era krisis properti China, Forest City adalah contoh klasik ambisi versus kenyataan. Sejumlah faktor lokal memang mempengaruhi situasi saat ini tapi ini adalah bukti bahwa membangun puluhan ribu apartemen rumah tinggal di lokasi antah berantah tidak cukup untuk meyakinkan orang agar mau tinggal di sana.
Advertisement