Advertisement
Mumi ini ini seribu tahun lebih tua dari mumi Mesir.
Arkeolog menemukan mumi bocah berusia tiga tahun di pegunungan gurun barat daya Libya, yang dikenal sebagai Uan Muhuggiag. Mumi ini disebut mumi Tashwinat, dan merupakan mumi anak tertua di dunia.
Sumber: IFL Science
Advertisement
Menurut para arkeolog, mumi ini seribu tahun lebih tua dari mumi Mesir.
Mumi ini ditemukan pada musim dingin tahun 1958, ketika arkeolog Fabrizio Mori menjelajahi gua Uan Muhuggiag. Gua ini merupakan situs arkeologi yang pernah ditempati oleh para penggembala pada masa lalu.
Selama penelitiannya, Mori menemukan tanda-tanda pemukiman kuno dalam bentuk seni cadas yang menggambarkan manusia, hewan, ternak, serta grafiti dari periode yang berbeda. Namun, yang menarik perhatiannya adalah bungkusan aneh yang terkubur di dekat permukaan gua.
Advertisement
Bungkusan itu terbuat dari kulit kambing atau kijang dan menutupi tubuh anak kecil yang telah dikeringkan dan dibungkus dengan lapisan dedaunan. Anak itu telah menjalani semacam proses mumifikasi, di mana organ-organ tubuhnya diambil setelah kematian melalui sayatan di perut dan dada, kemudian diganti dengan tanaman herbal untuk membantu mengawetkan tubuh. Jenazah tersebut ditemukan dalam posisi meringkuk seperti janin dengan kalung cangkang telur burung unta di lehernya.
Analisis menunjukkan bocah tersebut berusia sekitar 3 tahun ketika meninggal dan memiliki corak kulit gelap. Dengan menggunakan penanggalan radiokarbon, diperkirakan mumi tersebut berusia antara 5.400 hingga 5.600 tahun. Pada masa hidupnya, wilayah Sahara tempat mumi tersebut ditemukan memiliki lanskap yang jauh lebih hijau daripada saat ini. Gurun Sahara dipenuhi oleh rumput, pepohonan, dan danau, menciptakan lingkungan yang mendukung kehidupan para peternak sapi yang tinggal di sekitar gua Uan Muhuggiag.
Penemuan seni gua lokal yang menggambarkan gajah, jerapah, dan buaya, serta temuan tulang ikan dan peralatan memancing kuno di situs lain di sepanjang Sahara, juga menjadi bukti bahwa bagian Afrika Utara ini dulunya jauh lebih basah daripada sekarang.
Advertisement
Mumi Tashwinat ini membuka kemungkinan bahwa praktik mumifikasi di Afrika memiliki sejarah yang lebih kompleks dan dalam daripada yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun saat ini tidak diketahui apakah praktik mumifikasi ini mempengaruhi praktik mumifikasi Mesir, penemuan ini menjadi bukti bahwa praktik mumifikasi memiliki akar yang sangat tua di benua Afrika.