Masjid Agung Keraton Buton, yang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Wolio, merupakan salah satu situs bersejarah yang terletak di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Masjid ini memiliki sejarah yang panjang dan menarik untuk ditelusuri. Mengutip dari laman Dunia Masjid pada Jumat, 14 Maret 2025, masjid ini didirikan pada tahun 1712 oleh Sultan Zakiyuddin Durul Alam.
Dikatakan bahwa masjid ini menggantikan bangunan sebelumnya yang hancur akibat konflik perang saudara. Pembangunan masjid ini dipenuhi dengan berbagai mitos. Namun, cerita-cerita mitos tersebut mungkin mengandung kebenaran jika kita hubungkan dengan mukjizat para nabi dan waliyullah di masa lalu. Dengan izin Allah, mereka mampu melakukan hal-hal di luar jangkauan akal manusia.
Selain memiliki sejarah yang kaya, masjid ini juga dikelilingi oleh berbagai mitos dan tradisi unik yang menjadikannya tempat yang wajib untuk dikunjungi. Berikut ini adalah enam fakta menarik mengenai Masjid Agung Keraton Buton yang dapat menambah pengetahuan Anda, dilansir Merdeka.comd ari berbagai sumber pada, Selasa(18/3/2025).
Advertisement
Masjid Agung Keraton Buton memiliki sejarah yang sangat panjang. Meskipun bangunan masjid yang ada saat ini didirikan pada tahun 1712, sebuah masjid sebelumnya sudah ada di lokasi yang sama sejak tahun 1538. Sayangnya, masjid tersebut hancur akibat perang saudara yang terjadi. Bangunan masjid yang sekarang ini menggantikan masjid yang terbakar dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Kerajaan Buton pada abad ke-15.
Advertisement
Masjid ini berada di puncak bukit batu, di dalam area Keraton dan Benteng Kesultanan Buton. Dengan posisi yang tinggi, masjid ini menawarkan pemandangan yang sangat menawan, sehingga para pengunjung dapat menikmati keindahan alam di sekitarnya.
Karena lokasinya yang strategis, masjid ini diakui sebagai salah satu landmark penting di Kota Bau-Bau. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, desain bangunannya yang menarik, yang mencerminkan gaya arsitektur masa lalu, sering dijadikan latar belakang foto yang menarik untuk diunggah di media sosial.
Advertisement
Masjid Agung Keraton Buton juga memiliki banyak mitos dan legenda yang menarik. Salah satu yang paling terkenal adalah adanya sebuah lubang yang terletak dekat mihrab, yang konon dipercaya sebagai pintu masuk menuju gua bawah tanah.
Legenda yang beredar menyatakan bahwa lubang ini terhubung dengan Mekkah dan memungkinkan pendengarnya untuk mendengar azan dari sana. Selain itu, ada kepercayaan bahwa melihat ke dalam lubang tersebut dapat mempertemukan seseorang dengan kerabat yang telah meninggal. Meskipun cerita-cerita ini sangat menarik, kebenarannya masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat.
Advertisement
Masjid ini memiliki dimensi 20,6 x 19,4 meter. Meskipun tidak dilengkapi dengan menara, masjid ini memiliki tiang bendera tinggi yang dikenal sebagai Kasulaana Tombi, yang menjulang lebih tinggi daripada bangunan masjid itu sendiri. Tiang ini dulunya berfungsi untuk mengibarkan bendera Kesultanan Buton.
Selain itu, terdapat 12 pintu masuk di masjid ini, salah satunya berfungsi sebagai pintu utama. Di dalam masjid, terdapat mihrab dan mimbar yang terbuat dari batu bata, serta dihiasi dengan ukiran kayu bercorak tumbuhan yang menyerupai ukiran Arab.
Advertisement
Salat Jumat di Masjid Agung Keraton Buton memiliki tradisi dan ritual yang khas. Salah satu tradisi tersebut adalah pemukulan bedug yang dilakukan oleh petugas khusus, yang dikenal sebagai Tungguna Ganda, dengan jumlah dan irama tertentu.
Selain itu, terdapat tata cara berpakaian khusus untuk para pengurus masjid dan imam, yang menjadi bagian dari tradisi ini. Penggunaan tongkat dalam pelantikan dan saat pelaksanaan sholat Jumat juga merupakan elemen unik yang menambah keistimewaan pengalaman beribadah di masjid ini.
Advertisement
Masjid Agung Keraton Buton tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk beribadah, melainkan juga sebagai situs bersejarah dan destinasi wisata religi yang signifikan di Sulawesi Tenggara. Keunikan dalam arsitektur, sejarah, mitos, dan ritual yang ada di masjid ini memberikan daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Meskipun beberapa informasi yang ada di dalamnya berasal dari cerita rakyat dan legenda, kebenarannya masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, hal ini justru menambah daya tarik dan aura misterius dari Masjid Agung Keraton Buton yang layak untuk dijelajahi lebih dalam.
Masjid Agung Keraton Buton memiliki jumlah perangkat syara' yang cukup banyak, mencapai 60 orang. Dalam jumlah tersebut terdapat seorang qadhi (hakim), seorang imam, empat khatib, 12 muazin, dua tungguna ganda, dan 40 jamaah tetap.
Jumlah pegawai yang ada di masjid ini jauh lebih banyak dibandingkan dengan masjid-masjid bersejarah lainnya di Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran masjid ini dalam kehidupan masyarakat setempat, yang menjadi tonggak keberadaan Islam di Pulau Bau-Bau.