Pesona Hijab artis tahun 1997-an tidak akan Sempurna tanpa Tambahan Kopiah

Tujuh potret hijab artis Indonesia dari tahun 1997 memperlihatkan gaya, warna, dan identitas yang khas dari era 90-an.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Pesona Hijab artis tahun 1997-an tidak akan Sempurna tanpa Tambahan Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) (© 2025 Liputan6.com)

Tren hijab di akhir tahun 1990-an menandai momen penting dalam perkembangan mode bagi wanita Muslim di Indonesia. Terutama pada tahun 1997, saat banyak artis perempuan muncul dalam potret-potret ikonik yang masih sering diperbincangkan hingga saat ini.

Gaya hijab pada masa itu berhasil memadukan kesederhanaan dengan simbol budaya, serta menambahkan elemen dari busana panggung yang kuat, sehingga menciptakan estetika yang unik dan mudah dikenali.

Melalui tujuh potret artis lawas yang akan dibahas, kita dapat melihat bahwa hijab tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas, karakter, dan selera artistik dari zamannya.

Setiap model hijab yang ditampilkan memiliki detail yang berbeda, mulai dari permainan warna yang berani, aksesori kepala yang menarik, hingga teknik pelipatan kain yang mencerminkan tren serta nilai visual pada tahun 1997. Dengan demikian, hijab menjadi lebih dari sekadar aksesori, melainkan simbol dari perkembangan budaya dan mode pada era tersebut.

Desy Ratnasari mengenakan hijab merah putih yang memiliki aksen Timur Tengah

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Dalam potret Desy Ratnasari, hijab yang dikenakannya menunjukkan perpaduan warna merah dan putih yang mencolok, tetapi tetap terlihat harmonis.

Kombinasi ini menciptakan kesan anggun dan tegas, yang sangat sesuai dengan karakter Desy. Model hijab tersebut juga dilengkapi dengan headpiece berbentuk lingkaran di bagian atas kepala, yang mengingatkan kita pada gaya klasik Timur Tengah.

Headpiece ini sering digunakan dalam pemotretan bertema etnik pada era tersebut.

Detail kain yang menjuntai rapi di sisi wajah serta lapisan dalaman berwarna putih menjadi bukti dari teknik layering hijab yang populer pada tahun 1990-an.

Gaya ini tidak hanya menonjolkan wajah secara simetris, tetapi juga memberikan kesan formal yang kuat. Hal ini sejalan dengan citra Desy Ratnasari sebagai seorang artis yang dikenal akan keanggunan dan wibawanya.

Paramitha Rusady mengenakan hijab putih biru yang dilengkapi dengan penutup kepala bergaya kopiah

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Paramitha Rusady mengenakan hijab putih yang dipadukan dengan kopiah biru tua, menciptakan kesan yang bersih, teratur, dan memiliki karakter. Kehadiran kopiah di atas hijab memberikan nuansa formal dan religius yang kuat, sesuai dengan gaya busana muslimah pada tahun 1997.

Pelipatan hijab yang rapi mengikuti kontur wajah, sementara posisi kopiah yang tepat menunjukkan perhatian terhadap detail dan simetri. Gaya ini mencerminkan tren pada masa itu, di mana hijab sering dipadukan dengan penutup kepala tambahan, berfungsi sebagai elemen estetika dan simbol identitas budaya.

Diana Pungky mengenakan hijab oranye yang dipadukan dengan kopiah bermotif etnik geometris

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Dalam gambar Diana Pungky, terlihat hijab berwarna oranye yang hangat, dipadukan dengan penutup kepala berbentuk kopiah yang memiliki motif geometris etnik yang mencolok. Kopiah ini berfungsi sebagai titik fokus utama, memperkaya penampilan dan menunjukkan pengaruh budaya lokal yang kuat dalam gaya hijab artis pada era tersebut.

Kain hijab yang dililit dengan lembut dan tanpa banyak lipatan tajam diletakkan sedemikian rupa sehingga menyatu dengan kopiah, menciptakan kesan feminin namun tetap terstruktur. Kombinasi warna cerah dan aksesori kepala bercorak tradisional ini mencerminkan semangat eksplorasi gaya yang kuat di kalangan artis perempuan pada tahun 1997.

Shahnaz Haque mengenakan hijab merah yang dilengkapi penutup kepala bergaya peci dengan ornamen

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Shahnaz Haque tampil menawan dengan hijab merah yang dipadukan bersama penutup kepala mirip peci yang dihiasi ornamen serta aksen kain kuning. Kombinasi ini menciptakan tampilan yang tidak hanya dinamis tetapi juga artistik.

Kehadiran peci sebagai elemen utama semakin memperkuat nuansa etnik dan menunjukkan pengaruh kostum panggung dari gaya hijab di era 1990-an. Penempatan peci yang strategis di atas kepala, disertai dengan drapery kain hijab yang lembut jatuh di bahu, menciptakan pendekatan visual yang sangat ekspresif.

Gaya ini mencerminkan keberanian sang artis pada masa itu dalam menggabungkan hijab dengan penutup kepala tambahan, tanpa mengorbankan nilai-nilai kesopanan yang ada.

Lucyana menawarkan hijab berwarna beige yang dilengkapi dengan penutup kepala bergaya kopiah minimalis

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Potret Lucyana menampilkan hijab berwarna beige yang lembut, dipadukan dengan penutup kepala bergaya kopiah bermotif minimalis di bagian depan.

Kopiah ini berfungsi sebagai aksen penting yang memberikan struktur pada penampilan, sekaligus menambahkan kesan formal dan tenang.

Teknik pemakaian hijab yang menutup leher dengan rapi dan posisi kopiah yang seimbang mencerminkan perhatian pada aspek syar'i dan estetika secara bersamaan. Model ini mencerminkan keseimbangan antara kesederhanaan, fungsi religius, dan detail visual yang menjadi ciri khas hijab artis pada tahun 1997.

Dian Lestari mengenakan hijab putih yang dilengkapi dengan penutup kepala monokrom

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Dian Lestari muncul mengenakan hijab berwarna putih yang dipadukan dengan penutup kepala bermotif monokrom hitam-putih. Penampilan ini menciptakan kesan yang modern dan futuristik, terutama untuk tahun 1997.

Motif geometris yang abstrak memberikan sentuhan kontemporer yang sangat kuat. Hijab tersebut dikenakan dengan lilitan yang sederhana namun sangat presisi, sehingga garis wajahnya terlihat natural.

Gaya ini menunjukkan bahwa pada era itu, sudah ada eksperimen dalam desain hijab yang melampaui batasan tradisional yang ada sebelumnya. Ini menjadi indikasi bahwa inovasi dalam fashion hijab mulai berkembang dan menarik perhatian banyak orang.

Lisa A Riyanto mengenakan hijab merah yang dihiasi dengan aksen floral

Pesona Hijab Artis Tahun 1997-an, Tak Lengkap Tanpa Kopiah
Model Hijab Artis Tahun 1997an (instagram/ekigofur) © 2025 Liputan6.com

Lisa A Riyanto terlihat anggun dengan hijab merah cerah yang dipadukan dengan kain bermotif floral di sampingnya, menciptakan kesan feminin dan lembut. Motif bunga ini menjadi simbol keanggunan yang populer dalam busana wanita di tahun 1990-an.

Pelipatan hijab yang longgar dan jatuh dengan alami di bahu memberikan nuansa santai namun tetap elegan. Model ini menunjukkan bahwa hijab bisa menjadi bagian dari gaya pribadi tanpa mengorbankan nilai estetika yang klasik.

Topik mengenai hijab artis tahun 1997

Topik mengenai hijab artis tahun 1997 masih menarik untuk dibahas karena mencerminkan kombinasi unik antara budaya, mode, dan identitas pada era tersebut. Banyak elemen dari gaya hijab ini yang mencerminkan perubahan sosial dan tren fashion yang terjadi di masyarakat saat itu.

Ciri utama dari hijab era 1990-an adalah penggunaan layering kain yang memberikan efek visual menarik, serta pemilihan warna-warna berani yang mencolok. Selain itu, aksesori kepala juga menjadi bagian penting yang melengkapi penampilan, membuat gaya hijab tersebut semakin menonjol dan berani.

Walaupun sudah berlalu lebih dari dua dekade, beberapa elemen dari gaya hijab tahun 1997 masih memiliki relevansi hingga saat ini. Banyak desainer dan influencer yang mengadaptasi gaya tersebut ke dalam tren hijab modern, menunjukkan bahwa inspirasi dari masa lalu tetap hidup dalam fashion saat ini.

Hijab yang dikenakan pada masa itu sebagian besar memang dirancang dengan tujuan untuk kebutuhan visual panggung dan pemotretan. Desain yang mencolok dan dramatis ini bertujuan untuk menarik perhatian serta memberikan kesan yang kuat dalam setiap penampilan.

Pengaruh dalam tren hijab tahun 1997 tidak dapat dipungkiri berasal dari banyak artis yang menampilkan gaya khas masing-masing. Setiap artis memberikan kontribusi yang berbeda, sehingga menciptakan sebuah kolektivitas yang memperkaya variasi dalam dunia fashion hijab pada masa itu.

Rekomendasi