Di balik aksinya yang kerap mengundang tawa, sosok Mat Drajat atau 'Kang Komar' memiliki cerita perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Banyak menghabiskan hidup di jalanan, membuat Kang Komar dikenal sebagai sosok yang disegani sebagai preman.
Hingga Satu titik, Kang Komar pun mendapat kesempatan untuk berkarier di dunia hiburan. Tak disangka, sosok kang Komar kini begitu populer dan dikenal publik. Berikut ulasannya seperti dilansir tayangan 'Okay Bos' di channel Trans7 Official.
Advertisement
Anak Tentara
Tak banyak yang tahu jika ayah Kang Komar merupakan seorang tentara. Saat pindah ke Depok, sang ayah mendapat tugas sebagai kepala keamanan kampus di Politeknik UI.
"Dulu waktu pertama pindah ke Depok itu karena bapak TNI. Terus pindah tugas saat itu peletakan kampus pertama politeknik UI. Bapak jadi kepala keamanannya dan bapak yang mengelola dari masa pembangunan sampai masa kuliah. Sampai bikin kantin orang tua disitu. Nah saya ikut orang tua masih umuran 10 tahun tahun 1979-an saat itu," kata Kang Komar.
Advertisement
Akrab dengan Kehidupan Jalanan Sejak Kecil
Sejak masuk SD, Kang Komar sudah terbiasa dengan kehidupan jalanan. Sebab sekolahnya berada cukup jauh yakni di Pondok Gede. Setiap hari dia pun harus naik kereta dan angkutan umum untuk sampai sekolah.
"Setelah itu ikut beberapa tahun akhirnya saya masuk ke dunia luar sudah di SMP. SD saya di pondok gede. Berangkat dari Pondok Cina naik kereta turun di Kalibata. Dari Kalibata terus ke Mayasari Cililitan, baru naik opletnya di doel ke Pondok Gede. Itu sekitar tahun 80-an," katanya.
Advertisement
Mulai Nakal
Kang Komar mengaku jika sejak SD dirinya bahkan sudah kenal dengan minuman. Namun dia meminta agar ini tidak dicontoh karena perilaku buruk.
"Begitu selesai SD sudah bergaul sama kondektur. Punten jangan dicontoh Kang Komar sudah kenal minuman," ucapnya.
Advertisement
Sekolah Berantakan
Naik ke jenjang SMP, sekolah Kang Komar semakin berantakan. Dia kerap memilih nongkrong ketimbang sekolah. Da lagi-lagi meminta agar perilakunya dulu tidak ditiru karena merupakan contoh buruk.
"Setelah SMP saya di Depok. Sudah mulai ancur dah tuh sekolah, udah sering nonkrong sana sini. Nah dari situ dilanjutkan sampai ke SMA. SMA nyari yang gondrong boleh. Jadi keseharian saya udah biasa hidup di jalanan seperti itu sampai saya ditunjuk jadi ketua pemuda pancasila untuk di Margonda oleh temen temen. Ada parkiran, pedagang kaki lima, ada apa saja saya olah," ungkapnya.
Advertisement
3 Kali Buron
Kang Komar mengungkapkan jika dirinya sempat 3 kali buron. Hal ini berkaitan dengan kasus jalanan yang sempat dilakukannya.
"Dalam waktu saya sampai ke SMA itu sempet 3 kali buron. Kasusnya kasus jalanan lah. Di SMP itu saya saya sudah buron 2 tahunan di Sukabumi. Kedua buron lagi ke Leuwiliang Bogor. Setelah itu saya nikah saya buron ketiga di Bandung. Itu terakhir," ungkapnya.
Advertisement
Sempat Jadi Sopir
Setelah menikah, Kang Komar sempat mencari pekerjaan di Bandung. Dia sempat bekerja sebagai sopir antar jemput karyawan pabrik.
"Sampai saya punya istri orang Bandung saya kesana jadi driver angkutan karyawan pabrik. Jadi tiap har nganter pegawai," ungkapnya.
Advertisement
Masuk Dunia Hiburan
Setelah dari Bandung, Kang komar kemudian kembali ke Depok. Dia pun sempat bingung mencari pekerjaan. Godaan untuk kembali ke kehidupan jalanan sempat kembali terbesit. Namun dia tidak mau memberikan untuk anak istri. Singkat cerita Kang Komar mendapat tawaran untuk main sinetron.
"Saya syuting beberapa acara TV. Hingga kemudian Preman Pensiun," ungkapnya.
Advertisement
Bersihkan Kaki Ibu
Kang Komar yang merasa memiliki banyak salah kepada orang tuanya mencuci kaki sang ibu. Hal ini sebagai tanda permintaan maaf dirinya kepada sang ibu karena kelakuannya selama ini.
"Alangkah lebih baik saya meminta maaf dulu. Saya cuci kakinya saya bersihkan dan saya minum airnya. Banyak kalimat tidak enak didengar oleh ibu. Air sisanya saya pakai wudu saya pakai solat saya pakai mandi. Mudah mudahan saya dibukakan pintu rezeki yang mampet mampet dibukakan. Allah memberikan yang terbaik untuk saya," ucap Kang Komar.