Perjalanan Mualaf Samanta Elsener Adik Darius Sinathrya, Mantap Memeluk Islam Setelah Temukan Ketenangan di Masjid

Samanta Elsener, adik Darius Sinathrya, menjadi mualaf setelah lama mencari jati diri.

Astri Agustina
Oleh Astri Agustina - Reporter
Perjalanan Mualaf Samanta Elsener Adik Darius Sinathrya, Mantap Memeluk Islam Setelah Temukan Ketenangan di Masjid
Perjalanan Mualaf Samanta Elsener Adik Darius Sinathrya, Mantap Memeluk Islam Setelah Temukan Ketenangan di Masjid (Merdeka.com)

Kisah mualaf Samanta Elsener, adik dari aktor Darius Sinathrya, baru-baru ini menjadi sorotan publik. Perjalanan spiritualnya yang mengharukan telah dibagikan melalui kanal YouTube Ngaji Roso, kemudian menjadi viral di berbagai platform media sosial. Keputusannya untuk memeluk agama Islam merupakan hasil dari pencarian panjang dan perenungan mendalam.

Samanta Elsener sendiri mengaku sudah lama tertarik dengan agama Islam. Bahkan, ketertarikannya itu sudah muncul sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia seringkali menemani teman-temannya yang beragama Islam saat mereka melaksanakan salat di masjid sekolah.

Pengalaman itu memberikan kesan mendalam baginya, ia merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan setiap kali berada di masjid. Ia menggambarkan masjid sebagai tempat yang "adem", sebuah oase kedamaian di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Ketertarikan Samanta pada Islam sebenarnya sudah bersemi sejak ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu, ia mulai mempertanyakan beberapa ajaran agama Katolik yang dianutnya. Pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa Nabi Isa disebut "Tuhan Yesus" dan mengapa Alkitab melarang penyembahan berhala, tidak terjawab dengan memuaskan.

Keraguan ini mendorong Samanta untuk mencari jawaban di luar agama yang ia kenal sejak lahir. Ia mulai menjelajahi berbagai kepercayaan lain, termasuk Hindu dan Buddha. Ia juga membaca berbagai literatur tentang agama Protestan, mencari titik terang yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuinya.

Namun, dari semua agama yang ia pelajari, Islam lah yang paling membuatnya merasa tenang. Ajaran-ajaran Islam terasa logis dan sesuai dengan hati nuraninya. Ia menemukan kedamaian dan ketenangan dalam setiap ayat yang ia baca, setiap doa yang ia dengar.

Setelah merasa mantap dengan pilihannya, Samanta mulai mempelajari Islam secara lebih mendalam. Ia membeli buku tuntunan salat dan mulai berlatih salat setiap malam. Ia belajar membaca Al-Quran dan berusaha memahami makna setiap ayat yang ia baca.

Keputusan Samanta untuk menjadi mualaf juga dipengaruhi oleh sebuah nazar yang ia panjatkan dan kemudian dikabulkan. Nazar tersebut bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain. Pengabulan nazar ini semakin memperkuat keyakinannya untuk memeluk Islam.

Samanta meyakini bahwa Allah SWT telah menunjukkan jalan yang benar kepadanya. Ia merasa bersyukur atas hidayah yang telah diberikan dan bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang taat.

Keputusan Samanta untuk menjadi mualaf tentu saja tidak disambut baik oleh semua orang. Beberapa teman dekatnya sejak kecil bahkan memberikan reaksi negatif. Ia memahami reaksi tersebut karena keluarganya adalah keluarga Katolik yang taat.

Namun, Samanta tidak patah semangat. Ia terus berusaha menjelaskan keputusannya kepada keluarga dan teman-temannya. Ia berharap, seiring berjalannya waktu, mereka dapat memahami dan menerima pilihannya.

Terlepas dari perjalanan spiritualnya, Samanta Elsener dikenal sebagai seorang psikolog klinis spesialis anak dan keluarga, serta seorang penulis. Ia juga aktif sebagai fasilitator di LPK TALKINC dan pernah bekerja di Brawijaya Clinic dan TigaGenerasi. Kisah Samantha Elsener menjadi inspirasi bagi banyak orang karena menunjukkan perjalanan spiritual yang jujur dan pencarian jati diri yang mendalam.

Rekomendasi