Bandung Jadi Tuan Rumah Konser Hey Slank, Industri Kreatif Lokal Jadi Sorotan

Ketiganya mendapat panggung bersama Slank dan sejumlah musisi dari berbagai daerah di Prabuwangi Park, Arcamanik.

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Bandung Jadi Tuan Rumah Konser Hey Slank, Industri Kreatif Lokal Jadi Sorotan
Bandung Jadi Tuan Rumah Konser Hey Slank, Industri Kreatif Lokal Jadi Sorotan (Merdeka.com)

Konser HS Hey Slank Berani Kita Beda Tour memasuki sesi kedelapan dengan menyambangi Kota Bandung, Minggu (5/7). Berbeda dari tujuh kota sebelumnya, konser kali ini menghadirkan sembilan grup musik sekaligus, termasuk tiga band asal Bandung sebagai bagian dari upaya mendukung perkembangan industri kreatif lokal.

Band-band lokal yang tampil yakni DT09, Stand Here Alone (SHA), dan Preman Disko. Ketiganya mendapat panggung bersama Slank dan sejumlah musisi dari berbagai daerah di Prabuwangi Park, Arcamanik.

Manajer DT09, Reza, mengatakan keterlibatan grupnya menjadi kesempatan untuk membawa semangat komunitas musik akar rumput Bandung ke panggung yang lebih luas.

"Kami grup musik yang juga lahir dari grassroot, lahir dari tribun (Persib Bandung), bobotoh," kata Reza dalam konferensi pers sebelum konser.

Ia berharap konser tersebut dapat menjadi ruang bagi regenerasi musisi lokal di Bandung.

"Apalagi di Bandung ini kami melihat kurang regenerasi baru band-band lokal. Semoga HS jadi wadah berkembangnya band-band baru di Bandung," ujarnya.

Vokalis sekaligus basis Stand Here Alone, Taufik Andryyansyah atau Mbenk, mengaku bangga kembali dipercaya tampil setelah sebelumnya ikut dalam konser HS Hey Slank di Palembang.

"Tentunya senang banget. Saya ini juga Slankers Kelapa Gading. Jadi SHA ini tetap ada alur darahnya Slank, saya tidak akan pernah melewatkan momen ini," katanya.

Sementara itu, vokalis Preman Disko, Timy, menyebut keikutsertaan grupnya menjadi pengalaman yang membanggakan.

"Bahagia sekali kami diajak kolaborasi di event ini," ujarnya.

Direktur Komersial HS, Tessa Arya Pradana, mengatakan Bandung dipilih karena memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat industri kreatif nasional dengan karakter masyarakat yang inovatif dan berani menghadirkan terobosan.

"Spirit HS sangat relevan dengan Kota Bandung yang warga-warganya kreatif, berani membuat perubahan. Kami merasa kota ini sangat relevan dengan movements kami," ujar Tessa.

Menurutnya, keterlibatan band lokal menjadi bagian dari komitmen penyelenggara untuk membuka ruang bagi talenta daerah agar berkembang.

"Di tiap pagelaran kami selalu libatkan band dari Bandung. Kami percaya local heroes kalau diberikan ruang dan kesempatan, mereka akan bisa tumbuh berkembang," katanya.

Selain mendukung industri kreatif, Tessa menjelaskan perusahaan juga mengusung semangat pemberdayaan melalui perekrutan tenaga kerja, termasuk penyandang disabilitas, serta dukungan terhadap pelaku UMKM.

Saat ini HS memiliki 4.756 karyawan, termasuk 76 pekerja difabel, serta terus melakukan perekrutan di tengah kondisi industri yang diwarnai pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor.

Dari sisi pasar, Bandung Raya menjadi salah satu wilayah strategis bagi perusahaan.

"Bandung jadi market size terbesar nomor dua di Indonesia setelah Lampung. Tahun 2025 konsumsi rokok di sini mencapai 800 juta batang per bulan, dan tahun 2026 tumbuh sekitar lima persen menjadi hampir 900 juta batang per bulan. Ini membuat Bandung jadi salah satu pasar paling seksi," ujar Tessa.

Bagi Slank, Bandung juga memiliki makna tersendiri. Gitaris Ridho mengingatkan bahwa formasi Slank saat ini pertama kali tampil bersama di Kota Bandung pada 1997.

"Saat itu di Sabuga tahun 1997, formasi Slank yang saat ini pertama kali manggung ya di Bandung. Ingat banget, saat itu ngecat-ngecat rambut sama Ivan," kata Ridho.

Konser di Bandung turut menghadirkan Tony Q Rastafara, The Cloves and The Tobacco, The Sleting Down, Afterskema, dan Mahalara sebagai bagian dari rangkaian tur yang sebelumnya telah digelar di Yogyakarta, Semarang, Bali, Surabaya, Lampung, Malang, dan Palembang.

Rekomendasi