Saham GOTO, NCKL, DOID, dan CNMA Didepak dari FTSE, Ini Kata Pengamat
FTSE Russell menghapus empat saham Indonesia dari indeks globalnya. Pengamat menilai dampaknya lebih besar pada emiten terdampak dibanding IHSG.
Penyedia indeks global FTSE Russell mengeluarkan empat saham emiten Indonesia dari FTSE Global Equity Index Series dalam evaluasi triwulanan yang diumumkan pada 28 Mei 2026.
Empat saham yang dikeluarkan tersebut adalah PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dari kategori kapitalisasi menengah (mid cap).
Sementara PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) dan PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) dicoret dari kategori kapitalisasi mikro (micro cap).
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai dampak perubahan komposisi indeks tersebut lebih terasa pada saham dan emiten yang terdampak langsung dibandingkan terhadap pasar modal Indonesia secara keseluruhan.
"Dampak pengeluaran empat saham dari FTSE terhadap pasar modal secara umum dampaknya lebih bersifat spesifik pada saham yang terdampak dibandingkan terhadap pasar modal Indonesia secara keseluruhan," kata Elandry dikutip Liputan6.com, Selasa (2/6/2026).
Potensi Tekanan Jual dari Investor Global
Menurut Elandry, saham yang keluar dari indeks global umumnya akan menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek.
Kondisi itu terjadi karena sejumlah dana pasif internasional melakukan penyesuaian portofolio sesuai komposisi indeks acuan.
"Keluarnya saham dari indeks FTSE biasanya memicu penyesuaian portofolio dari dana pasif (passive funds) yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan, sehingga berpotensi menimbulkan tekanan jual jangka pendek pada saham terkait," ujarnya.
Aksi rebalancing tersebut kerap memengaruhi pergerakan harga saham, terutama pada periode menjelang dan sesudah perubahan indeks resmi berlaku.
Dampak ke IHSG Dinilai Terbatas
Meski demikian, Elandry menilai perubahan tersebut belum cukup besar untuk mengubah arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut dia, kontribusi kapitalisasi pasar keempat saham tersebut terhadap keseluruhan pasar saham Indonesia masih relatif terbatas.
Saat ini pelaku pasar lebih banyak mencermati faktor-faktor makroekonomi seperti arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, dan arus dana asing.
"Investor saat ini juga masih lebih fokus pada faktor makro seperti arah suku bunga global, pergerakan rupiah, dan foreign flow," ujarnya.
Bagi investor ritel, dampak yang paling mungkin dirasakan adalah meningkatnya fluktuasi harga saham yang terdampak akibat proses penyesuaian portofolio investor institusi.
"Sementara bagi investor ritel, dampaknya lebih banyak tercermin melalui peningkatan volatility dan tekanan harga akibat rebalancing portofolio. Namun perlu dicatat bahwa perubahan komposisi indeks tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan," pungkasnya.