IHSG Melemah, Pengamat Ungkap Waktu Tepat Beli Saham atau Tetap Hold
Menurut Hendra, investor jangka panjang yang telah memiliki saham dengan fundamental kuat masih dapat mempertimbangkan strategi hold.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 5.941 pada perdagangan Rabu (3/6), seiring masih berlanjutnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar dihadapkan pada dilema antara memanfaatkan penurunan harga saham untuk akumulasi atau memilih bertahan sambil menunggu kepastian arah pasar.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai keputusan investasi saat ini harus disesuaikan dengan kualitas saham yang dimiliki serta profil risiko masing-masing investor.
"Bagi investor yang bertanya apakah saat ini waktu yang tepat untuk serok atau justru bertahan (hold), jawabannya sangat bergantung pada kualitas saham yang dimiliki serta profil risiko masing-masing investor," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (4/6).
Menurut Hendra, investor jangka panjang yang telah memiliki saham dengan fundamental kuat masih dapat mempertimbangkan strategi hold atau bahkan melakukan akumulasi secara bertahap.
Ia menjelaskan, valuasi sejumlah saham saat ini sudah jauh lebih murah dibandingkan beberapa bulan lalu sehingga membuka peluang bagi investor yang memiliki horizon investasi panjang.
"Untuk investor jangka panjang yang memiliki saham fundamental kuat, posisi hold bahkan akumulasi bertahap masih dapat dipertimbangkan karena valuasi sudah jauh lebih murah dibanding beberapa bulan lalu," ujarnya.
Pembelian Disarankan Bertahap
Meski demikian, Hendra mengingatkan agar pembelian tidak dilakukan sekaligus dalam jumlah besar. Strategi bertahap dinilai lebih bijak mengingat risiko koreksi lanjutan masih terbuka di tengah ketidakpastian pasar global maupun domestik.
"Namun pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak sekaligus, mengingat risiko koreksi lanjutan masih terbuka," ujarnya.
Sementara bagi investor jangka pendek atau trader, disiplin terhadap manajemen risiko tetap menjadi prioritas utama karena volatilitas pasar saat ini sangat tinggi.
Pemulihan IHSG Bergantung Kepercayaan Investor
Hendra mengatakan pada akhirnya, pemulihan pasar tidak hanya membutuhkan stabilisasi rupiah atau meredanya konflik global, tetapi juga membutuhkan kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik.
Pasar membutuhkan kepastian, konsistensi, dan langkah konkret yang mampu meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko dapat dikelola dengan baik. Ketika kepercayaan mulai pulih, dana asing berpotensi kembali masuk dan IHSG memiliki peluang untuk bangkit dari tekanan yang terjadi saat ini.
"Namun, selama proses tersebut belum terlihat jelas, investor perlu lebih selektif, fokus pada fundamental perusahaan, menjaga likuiditas, serta menghindari keputusan investasi yang didorong oleh kepanikan sesaat," pungkasnya.