BI Ungkap Fakta DHE SDA: Suplai Dolar Domestik Melonjak, Cadangan Devisa Tak Langsung Terangkat
Bank Indonesia (BI) menyatakan kebijakan DHE SDA sukses tingkatkan suplai dolar di pasar domestik, namun tak serta merta dongkrak cadangan devisa. Mengapa demikian?
Bank Indonesia (BI) menjelaskan bahwa kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) memiliki dampak signifikan terhadap pasokan dolar di pasar valuta asing (valas) domestik. Meski suplai dolar terus membaik, hal ini tidak secara otomatis meningkatkan cadangan devisa nasional. Penjelasan ini disampaikan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang memerlukan stabilitas.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2025 secara daring di Jakarta, Rabu, menegaskan bahwa valas tersebut justru digunakan untuk menambah suplai di pasar valas domestik. “Penambahan valas itu tidak langsung serta-merta akan meningkatkan cadangan devisa kita. Kenapa? Karena valas itu justru dipakai untuk menambah suplai valas di pasar valas domestik,” kata Destry.
Pernyataan ini memberikan gambaran komprehensif mengenai mekanisme dan tujuan kebijakan DHE SDA, yang berupaya menjaga ketersediaan likuiditas dolar di dalam negeri. Tingkat kepatuhan eksportir yang tinggi terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini dalam mengalirkan dolar ke pasar domestik, meskipun tidak langsung ke cadangan devisa.
Dampak DHE SDA terhadap Pasar Valas Domestik
Sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025, tingkat kepatuhan eksportir dalam menyimpan DHE SDA pada rekening khusus (reksus) menunjukkan angka yang sangat tinggi, mencapai sekitar 95 persen. Kepatuhan ini mencerminkan komitmen eksportir dalam mendukung kebijakan pemerintah untuk memperkuat pasar valas domestik.
Dari total dana yang ditempatkan di reksus, mayoritas atau sekitar 78,2 persen digunakan eksportir untuk mengonversi valas ke rupiah. Proses konversi inilah yang secara langsung mendorong penambahan pasokan dolar di pasar valas domestik, sehingga membantu menjaga ketersediaan likuiditas. Destry Damayanti menegaskan, “Tapi intinya, untuk PP DHE, saya rasa sejauh ini eksportir sudah menjalankan sesuai yang diamanahkan.”
Peningkatan suplai dolar ini berperan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung aktivitas ekonomi. Dengan lebih banyak dolar tersedia di pasar, tekanan terhadap rupiah dapat berkurang, sekaligus memfasilitasi transaksi impor dan investasi yang membutuhkan mata uang asing.
Dinamika Cadangan Devisa Nasional
Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 148,7 miliar dolar AS per September 2025. Jumlah ini mengalami penyusutan sekitar 2 miliar dolar AS dari posisi sebelumnya 150,7 miliar dolar AS pada Agustus 2025. Meskipun terjadi penurunan, Bank Indonesia memastikan bahwa cadangan devisa tersebut masih berada pada level yang aman dan memadai.
Cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya sekitar 3 bulan impor. Destry Damayanti mencatat bahwa dalam dua bulan terakhir, terjadi outflow yang cukup besar, sehingga bank sentral perlu menggunakan sebagian cadangan devisa untuk melakukan intervensi di pasar valas.
Tekanan terhadap cadangan devisa tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
- Pembayaran dividen oleh perusahaan.
- Repatriasi keuntungan investor asing.
- Pelunasan pinjaman luar negeri.
Faktor-faktor ini secara kolektif berkontribusi pada dinamika pergerakan cadangan devisa, yang memerlukan pengelolaan cermat dari Bank Indonesia.
Stabilisasi Rupiah dan Kebijakan BI
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa peningkatan konversi valas ke rupiah oleh eksportir, seiring penerapan penguatan kebijakan DHE SDA, turut mendukung terkendalinya nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, rupiah sempat mengalami pelemahan pada September 2025 sebesar 1,05 persen point to point (ptp) dibandingkan level akhir Agustus 2025, sejalan dengan ketidakpastian global yang cukup tinggi.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia menempuh berbagai langkah stabilisasi. Intervensi dilakukan di pasar spot dan pasar NDF, baik di off-shore maupun on-shore (DNDF). Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung pasar keuangan domestik.
Respons kebijakan yang proaktif dari Bank Sentral ini menunjukkan hasil positif, tercermin dari perkembangan rupiah yang kembali menguat pada Oktober 2025. Langkah-langkah ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Sumber: AntaraNews