Begini Dampak Nyata Pelemahan Rupiah ke Ekonomi Indonesia
Pelemahan rupiah dinilai berisiko menekan industri berbahan impor dan memicu inflasi. Ekonom Celios mengungkap faktor global, fiskal, dan pergerakan dolar AS.
Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memberikan tekanan besar terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor.
“Sektor yang paling terdampak adalah sektor industri yang mengandalkan bahan baku impor. Akan ada kenaikan harga bahan baku impor yang cukup signifikan karena pelemahan rupiah,” kata Nailul Huda dikutip dari Liputan6.com, Selasa (20/1).
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dapat memicu imported inflation, yakni inflasi yang bersumber dari kenaikan harga barang impor.
Nailul mencontohkan komoditas pangan seperti tempe dan tahu yang berpotensi ikut terdampak karena bahan baku kedelai masih didominasi impor.
Tekanan Global dan Fiskal Ikut Pengaruhi Rupiah
Menurut Nailul, pelemahan rupiah tidak terlepas dari kombinasi faktor eksternal dan internal.
Dari sisi global, kebijakan Federal Reserve dan sejumlah bank sentral utama yang masih menahan suku bunga mendorong arus modal kembali ke Amerika Serikat, sehingga meningkatkan permintaan dolar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait Iran, turut mendorong penguatan harga minyak dunia.
“Di tengah ketidakpastian yang tinggi, ada dua instrumen investasi yang cenderung aman, yaitu dolar AS dan emas,” ujarnya.
Dari dalam negeri, Nailul menyoroti kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mencatat defisit melebar.
Kondisi belanja yang tinggi tidak diimbangi penerimaan negara yang memadai dinilai memunculkan kekhawatiran soal keberlanjutan fiskal.
“Kedua adalah hutang yang membengkak yang bisa meruntuhkan kondisi fiskal kita. Hutang yang menumpuk membuat kinerja fiskal tidak optimal dalam pembangunan,” tambahnya.
Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar AS
Tekanan terhadap rupiah tercermin di pasar valuta asing. Nilai tukar rupiah di pasar spot kian mendekati level Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (19/1/2026).
Sejumlah bank nasional mencatatkan kurs dolar AS di kisaran Rp16.900-an. Bank Central Asia (BCA) mencatat kurs beli di Rp16.913 dan kurs jual Rp16.933 per dolar AS pada pukul 10.01 WIB.
Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memasang kurs beli dolar AS di level Rp16.911 dengan kurs jual sekitar Rp16.938 per dolar AS.