Barbie dan Hot Wheels Masuk Meja Perundingan Dagang AS-Indonesia, Ini Sebabnya
Indonesia merupakan produsen utama Barbie dan Hot Wheels.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa boneka Barbie menjadi salah satu topik pembicaraan utama dalam negosiasi tarif perdagangan antara Indonesia dan Kementerian Keuangan Amerika Serikat (US Treasury). Hal ini disebabkan oleh tingginya volume impor boneka Barbie oleh Amerika Serikat, sementara Indonesia merupakan produsen utama mainan tersebut.
"Mungkin teman-teman di sini tahu Barbie, ya. Barbie bukan film, Barbie boneka. Barbie boneka itu mayoritas bikinan dari kita. Jadi waktu pertemuan dengan US Treasury, Barbie muncul percakapan mengenai Barbie. Karena Amerika impor Barbie paling besar dan produsen terbesar memang dari Indonesia," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta.
Sri Mulyani menjelaskan bahwa kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan secara drastis oleh Presiden AS, Donald Trump, memberikan dampak terbatas terhadap Indonesia. Beberapa komoditas yang juga terkena imbasnya antara lain mesin dan peralatan listrik, pakaian dan aksesori rajutan, alas kaki, serta pakaian dan aksesori non-rajutan.
Selain boneka Barbie, Sri Mulyani juga menyebutkan mainan Hot Wheels sebagai salah satu produk yang terdampak. Meskipun mainan anak-anak terlihat sepele, produk-produk tersebut memiliki nilai penting, terutama saat musim liburan di Amerika Serikat.
"Selain boneka Barbie, Hot Wheels, itu adalah mobil-mobilan mainan yang kalau di Indonesia kita bilang Tamiya dari dulu. Kalau di sana itu Hot Wheels. Nah ini mainan anak-anak mungkin buat anak-anak semuanya kayaknya nggak penting. Jangan bilang sepenting, sepenting nanti mereka akan Christmas, akan Black Friday dan setiap nenek-nenek seperti saya akan membeli hadiah untuk cucunya ditaruh di pohon Christmasnya itu," ungkap Sri Mulyani.
Bendahara negara itu menambahkan bahwa Indonesia perlu menjaga daya saing produksi dan ekspor, termasuk untuk produk-produk seperti pakaian jadi dan sepatu, yang juga terdampak oleh kebijakan tarif tersebut. Dia menilai, tarif yang diterapkan oleh Donald Trump tidak hanya mempengaruhi barang-barang konsumsi, tetapi juga berbagai jenis produk dagangan lainnya.
"Tarif dari Donald Trump tidak hanya mempengaruhi merchandise goods, walaupun ini semuanya adalah berhubungan dengan merchandise goods," tutup Sri Mulyani.