IHSG Menguat Pagi Ini, Ikuti Bursa Asia dan Global di Tengah Sentimen Negosiasi Timur Tengah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada Jumat pagi, mengikuti tren positif bursa saham Asia dan global, didorong sentimen negosiasi di Timur Tengah dan data ekonomi terbaru.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi bergerak naik, mengikuti penguatan bursa saham kawasan Asia dan global. Pembukaan perdagangan menunjukkan IHSG menguat 38,90 poin atau 0,53 persen ke posisi 7.346,49. Penguatan ini memberikan sinyal positif bagi para investor di tengah dinamika pasar global dan domestik.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 juga menunjukkan performa serupa, naik 3,83 poin atau 0,52 persen ke posisi 737,73. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung menguat menguji level 7.350. Pergerakan ini menjadi perhatian utama pelaku pasar yang terus memantau berbagai indikator ekonomi.
Kenaikan IHSG ini terjadi di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi pasar modal. Perkembangan konflik di Timur Tengah dan rilis data ekonomi penting menjadi sorotan. Investor juga mencermati proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang baru saja direvisi oleh Bank Dunia.
Sentimen Global Dorong Kenaikan IHSG
Penguatan IHSG pagi ini tidak lepas dari sentimen positif yang datang dari perkembangan global. Salah satu faktor utama adalah perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Israel menyatakan akan melakukan negosiasi dengan Lebanon, yang berpotensi menghilangkan poin perselisihan utama dalam gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, yang sebelumnya tidak stabil akibat penyerangan Israel terhadap Lebanon. Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS akan tetap berada di kawasan Teluk sampai kesepakatan nyata tercapai dan dipatuhi.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati disrupsi Artificial Intelligence (AI) yang terus berkembang. Data Indeks PCE AS juga menjadi perhatian, di mana tercatat naik 0,4 persen month to month (mtm) atau naik 3 persen year on year (yoy) pada Februari 2026, sesuai ekspektasi konsensus. Meskipun data inflasi PCE AS masih di atas target The Fed yang sebesar 2 persen, data tersebut belum termasuk dampak kenaikan harga minyak yang terjadi mulai Maret 2026. Ini menunjukkan bahwa inflasi AS sudah relatif tinggi sebelum konflik terjadi.
Selanjutnya, pelaku pasar akan menantikan inflasi CPI AS bulan Maret 2026 yang akan dirilis Jumat (10/4). Pergerakan bursa saham global juga menunjukkan tren yang beragam. Pada perdagangan Kamis (09/04) kemarin, bursa saham Eropa kompak melemah, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,34 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,05 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,14 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,02 persen. Sementara itu, bursa AS Wall Street kompak menguat, di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,58 persen ke 48.185,80, indeks S&P 500 menguat 0,62 persen ke 6.824,66, dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,83 persen ke 22.822,42.
Bursa saham regional Asia pagi ini juga menunjukkan penguatan. Indeks Nikkei menguat 770,68 poin atau 1,38 persen ke 56.666,00, indeks Shanghai menguat 36,87 poin atau 0,93 persen ke 4.003,04, indeks Hang Seng menguat 221,60 poin atau 0,86 persen ke 25.974,00, indeks Kuala Lumpur menguat 3,15 poin atau 0,19 persen ke 1.689,39, dan indeks Strait Times menguat 10,69 poin atau 0,21 persen ke 4.987,77.
Proyeksi Ekonomi Indonesia dalam Sorotan
Dari dalam negeri, terdapat kabar yang menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar. Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, dari proyeksi sebelumnya 4,8 persen. Angka ini juga lebih rendah dari target pemerintah di APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Pemangkasan proyeksi pertumbuhan tersebut disebabkan seiring ekonomi Indonesia diproyeksikan terdampak oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang meningkatkan harga energi global.
Penurunan proyeksi ini sejalan dengan tren perlambatan ekonomi secara regional di kawasan Asia Timur dan Pasifik di luar China. Kawasan ini diproyeksikan mencapai 4,1 persen dari 4,4 persen proyeksi sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa dampak konflik global dan kenaikan harga energi memiliki jangkauan luas yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.
Meskipun demikian, penguatan IHSG pagi ini menunjukkan resiliensi pasar modal Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan. Investor akan terus memantau perkembangan geopolitik, data inflasi global, serta kebijakan ekonomi domestik untuk mengambil keputusan investasi. Keseimbangan antara sentimen positif dan kekhawatiran ekonomi menjadi kunci pergerakan pasar ke depan.
Sumber: AntaraNews