DBD di Bandung Masih Tinggi, ini 'Senjata' buat Memeranginya
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi ancaman serius di Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung, Jawa Barat. Setiap tahun, kasus DBD tercatat sebagai salah satu penyakit yang angkanya paling tinggi di daerah tersebut.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Sony Adam, menjelaskan bahwa Dinkes Bandung fokus mengatasi DBD melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan paripurna. DBD menjadi endemik di Bandung, dengan hampir setiap kelurahan mengalami kasus dalam tiga tahun terakhir. Ia bilang, untuk menekan angka tersebut, diperlukan inovasi, salah satunya lewat vaksinasi dan wolbachia.
"Saat ini fokus kami adalah memberikan vaksin (DBD) guna mencegahnya. Pencegahan DBD ini sudah kami lakukan secara paripurna, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, seperti pemberantasan nyamuk, jumantik, foging, hingga imunisasi vaksinasi dan intervensi teknologi semisal wolbachia yang telah diterapkan di beberapa kelurahan di Bandung," kata Sony, saat menyampaikan paparan dalam rangka memperingati HUT ke-104 di RS Borromeus, Minggu (24/8).
Direktur Medis RS Borromeus, dr. Marvin Marvino, menambahkan bahwa tingginya angka kasus DBD pada 2024 menyebabkan beberapa rumah sakit kelebihan kapasitas. Namun, situasi lebih diharapkan membaik dengan adanya dukungan Dinkes, termasuk lewat program vaksinasi dan pengenalan bakteri wolbachia ke dalam nyamuk.
"Memang terlihat bahwa angka kejadiannya sudah menurun dengan bantuan Dinkes lewat program bakteri yang dimasukkan ke dalam nyamuk (wolbachia) serta vaksinasi yang mulai dijalankan di rumah sakit-rumah sakit. Itu menjadi salah satu fokus referentif kami," katanya.
Untuk vaksin DBD, ia menjelaskan warga yang berusia mulai dapat melakukannya hingga 2 kali. Langkah tersebut dapat dilakukan oleh rentang usia 4 hingga 60 tahun.
"Vaksin DBD itu dua kali. Biasanya bulan pertama kemudian bulan ketiga. Vaksin sudah boleh dari usia 4 - 60 tahun. Vaksinasi ini sangat diperlukan, karena Bandung menjadi wilayah dengan tingkat kejadian tertinggi di Jabar dan DBD kasus endemi," ujarnya.
Terkait tren DBD, dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Stefanie Yuliana Usman, mengingatkan itu bisa jadi sepanjang waktu, kendati lebih sering terjadi pada musim hujan.
Tingginya tren kasus, menurut dia, tak lepas dari belum adanya obat khusus obat khusus untuk DBD. Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi penting, apalagi bagi penderita penyakit penyerta seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi.
“Hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan DBD, terapi yang diberikan dokter hanya meredakan gejala seperti demam atau nyeri bukan membunuh virusnya. Jadi, pencegahan suatu langkah paling utama. Pencegahan juga penting bagi mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti obesitas, ginjal, diabetes melitus, hipertensi hingga gangguan pernapasan, karena kondisi itu dapat memperburuk infeksi dengue," jelas dia.
Terpisah, dokter spesialis anak, dr. Tony Ijong Dachlan, menyoroti bahwa anak-anak rentan terhadap DBD dengan risiko terkena lebih dari sekali. Sekitar 45 persen kasus terjadi pada usia 5-14 tahun.
“Bahkan, kasus infeksi tanpa gejala biasanya terjadi pada orang dewasa, tapi bisa menyebarkan virus melalui nyamuk yang kemudian menggigit anggota keluarga lain," katanya.