BI Rate Tetap 4,75 Persen: Terendah Sejak 2022, Apa Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia?
Bank Indonesia kembali mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, menjadikannya yang terendah sejak 2022. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.
Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, atau BI Rate, pada level 4,75 persen. Keputusan penting ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 21-22 Oktober 2025. Tingkat suku bunga ini menandai level terendah yang pernah dicapai sejak tahun 2022, menunjukkan arah kebijakan moneter yang konsisten.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian integral dari strategi bauran kebijakan yang diterapkan BI. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan stimulus yang diperlukan bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Di samping itu, kebijakan ini juga berupaya keras untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah dinamika global dan domestik.
Sejak September 2024, Bank Indonesia tercatat telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak enam kali secara berturut-turut. Penurunan total mencapai 150 basis poin, dari semula 6 persen menjadi 4,75 persen saat ini. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi sektor riil dan investasi.
Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas Rupiah
Dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di berbagai pasar. Intervensi ini mencakup pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri serta operasi domestik melalui pasar spot. Selain itu, BI juga memanfaatkan Domestic NDF (DNDF) untuk memperkuat posisinya.
Tidak hanya itu, BI juga terlibat dalam pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Langkah ini bertujuan untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan memberikan sinyal positif kepada investor. Kebijakan ini dilakukan dengan hati-hati dan terukur untuk menghindari distorsi pasar.
Sejalan dengan upaya tersebut, Bank Indonesia telah menetapkan suku bunga instrumen moneter valuta asing yang kompetitif. Penetapan suku bunga ini dirancang untuk mempertahankan daya tarik penempatan dana di Indonesia. Hal ini krusial untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah secara berkelanjutan.
Pengelolaan Likuiditas dan Sinergi Kebijakan
Dalam aspek pengelolaan likuiditas, Bank Indonesia telah memperluas likuiditas rupiah di pasar. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi posisi Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi SRBI menurun signifikan dari Rp916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp707,05 triliun per 21 Oktober 2025.
Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal juga terlihat jelas melalui pembelian SBN oleh BI. Hingga 21 Oktober 2025, total pembelian SBN oleh BI telah mencapai Rp268,36 triliun. Jumlah ini termasuk pembelian di pasar sekunder dan program debt-switching dengan pemerintah sebesar Rp199,45 triliun, menunjukkan koordinasi yang erat.
Semua langkah kebijakan ini diimplementasikan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan sesuai mekanisme pasar yang berlaku. Pendekatan ini penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Kredibilitas adalah kunci dalam membangun kepercayaan pasar dan publik.
Dukungan Pertumbuhan Ekonomi dan Digitalisasi
Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan melalui pemberian insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Insentif ini bertujuan untuk mendorong perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Dengan demikian, diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Selain itu, BI juga mengakselerasi transformasi sistem pembayaran digital di Indonesia. Inisiatif ini mendukung efisiensi transaksi dan inklusi keuangan. Transformasi digital menjadi pilar penting dalam mendorong ekonomi digital yang modern dan berdaya saing.
Secara keseluruhan, keputusan mempertahankan BI Rate dan berbagai kebijakan pendukung lainnya menegaskan komitmen Bank Indonesia. Komitmen ini adalah untuk menjaga stabilitas sekaligus memfasilitasi pertumbuhan ekonomi nasional. Semua upaya ini diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Sumber: AntaraNews