Kenaikan harga pangan jelang Ramadan tahun ini tak bisa dielakkan. Salah satunya bawang putih yang harganya meroket di beberapa pasar Tanah Air.
Harga bawang putih di Palembang misalnya, tembus Rp 65.000 per Kilogram (Kg). Akibatnya, permintaan pembeli pun menurun drastis.
Pantauan merdeka.com di Pasar 26 Ilir Palembang, kenaikan itu terjadi sejak seminggu terakhir yang biasanya hanya Rp 45.000 per Kg. Kenaikan harga bawang putih ini lebih mencolok ketimbang sembako jenis lain.
Menurut salah seorang pedagang, Dini (22), selain harganya mahal, pasokan bawang putih juga berkurang. Biasanya dia bisa membeli 30 Kg per hari dari Pasar Induk Jakabaring. Sedangkan saat ini hanya 10 kg saja, itu pun harus mengantre.
"Hari ini harga bawang putih Rp 65.000 per Kg, itu pun barangnya susah dicari," ungkap Dini, Rabu (17/5).
Tingginya harga bawang putih membuat penjualan menurun drastis. Pembelian 10 Kg baru bisa habis terjual selama dua hari. "Biasanya ada yang beli sekilo, sekarang paling segram atau paling banter seperempat kilo. Jauh berkurang," ujarnya.
Sementara itu, Suryani (45) mengaku tidak terlalu menghiraukan kenaikan harga bawang putih. Sebab, salah satu jenis bahan penyedap makanan itu tak begitu diperlukan.
"Beda sama cabai, mau tak mau harus beli. Kalau bawang putih seadanya saja, tidak berpengaruh," kata Suryani, salah satu pembeli.
Apa sebenarnya penyebab harga bawang putih ini meroket tajam? Silakan klik selanjutnya.
Advertisement
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengatakan, kenaikan harga bawang putih terjadi karena adanya oknum yang menyimpan stok di gudang. Amran didampingi oleh Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komjen Pol Syafruddin dan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan membongkar sindikat penimbun bawang putih di kawasan Marunda.
Amran mengungkapkan, jumlah bawang putih yang diamankan dari hasil penangkapan tersebut sebanyak 182 ton yang ditimbun di dalam gudang.
Penangkapan tersebut berawal dari hasil temuannya di lapangan yang mendapati bahwa harga bawang putih melampaui batas harga maksimal yang telah ditentukan.
"Hari ini kami temukan 182 ton bawang putih yang sengaja ditimbun oleh importir, minggu lalu dalam sidak ke pasar kami masih temukan harga bawang putih Rp 45.000 per Kg, padahal sebelumnya dalam pertemuan dengan 42 importir di kantor Kementerian Perdagangan, sudah kami sampaikan agar tidak ada penimbunan," kata Amran, di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (17/5).
Berangkat dari temuan tersebut, kementerian pertanian mengajukan laporan kepada kepolisian untuk melakukan investigasi penyebab kenaikan harga tersebut.
Kepolisian melalui Satgas Pangan akhirnya berhasil mengendus indikasi adanya penimbunan. Tiga hari setelah laporan diterima, satgas pangan akhirnya berhasil membekuk oknum-oknum penimbun bawang putih tersebut.
"Kita rapat dengan Satgas Mabes Polri, Pak Wakapolri dan Pak Kapolda kita komunikasi terus, selang tiga hari kita menemukan penumpukan di suatu gudang. Subuh kita bergerak ke lapangan. Ini yang mempengaruhi harga bergejolak," terang Amran.
Di lokasi yang sama, Wakapolri, Syafruddin mengatakan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut. "Sedang diamankan beberapa orang, tapi yang terlibat sedang diklarifikasi," kata Syafruddin.
Jika terbukti bersalah, nantinya mereka akan diganjar hukuman yang maksimal. "Hukumannya akan semaksimal mungkin diterapkan," tegas Syafruddin.
Syafruddin mengatakan, saat ini Satgas Pangan telah mengantongi informasi lain terkait kegiatan penyelundupan pangan di tempat lain. Rata-rata, barang yang ditimbun tersebut berasa dari Surabaya dan Medan.
"Polisi sudah mengincar, tapi tidak bisa dibocorkan (informasinya)," katanya.
Solusi yang ditawarkan pemerintah dalam kondisi ini adalah impor dari China. Silakan klik selanjutnya.
Advertisement
Kementerian Pertanian menggandeng 42 importir untuk mendatangkan bawang putih dari China. Bawang putih tersebut nantinya akan dijual pada operasi pasar dengan harga Rp 25.000 per Kg.
Menteri pertanian, Amran Sulaiman menjelaskan, harga tersebut sudah melalui perhitungan sehingga tidak akan merugikan pengusaha meski harus dijual murah. Dengan adanya perhitungan tersebut, Amran juga menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk menaikkan harga bawang putih kepada masyarakat selaku end user.
"Ongkos kirim sudah kita perhitungkan yang kita jual Rp 25.000 ini. Dari Surabaya ini ada 11 kontainer masuk, jadi kami tau jumlah bawang yang masuk. Tidak ada alasan menaikkan lagi harga," kata Amran, saat meresmikan operasi pasar di pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (17/5).
Amran mengatakan, mendatangkan bawang putih dari China juga memiliki tujuan agar harga pangan jelang Ramadan dan Lebaran 2017 tetap stabil. Bawang putih tersebut akan didatangkan secara bertahap, minimal dua kontainer. "Perusahaan yang mengirim bawang putih ke sini akan mengirim tiap hari dua kontainer minimal," ujar Amran.
Sementara itu, di lokasi yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bawang Putih Indonesia, Pieko Nyoto Setiadi menjanjikan bahwa harga bawang putih akan terkendali menjelang dan selama bulan Ramadan karena didukung oleh pasokan yang memadai.
Pieko mengungkapkan, saat ini harga bawang putih di China sedang turun karena sedang memasuki masa panen pada awal Mei ini.
Awalnya, kata Pieko, harga bawang putih di China sempat menyentuh angka USD 3.000 per metrik ton, kemudian turun menjadi USD 2.700 per metrik ton. Harga tersebut akan semakin turun sampai USD 1.000 per metrik ton di musim panen seperti sekarang ini.
"Panen mulai dua minggu yang lalu. Harga di China sekarang sedang hancur," kata Pieko.
Meski begitu, Pieko menjelaskan bahwa barang putih yang saat ini tiba di Indonesia dibeli ketika masih harga tinggi. "Harga fluktuatif tergantung tanggal shipment (pengiriman). Yang ini masih mahal USD 1.950 per metrik ton. Perolehan (untung) lebih murah. Harga itu tidak bisa diukur per shipment, tapi akan ditotal secara rata-rata," pungkas Pieko.