BEI akui rakyat masih anggap sulit investasi di pasar modal

Berinvestasi di pasar modal disebut memberikan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibanding instrumen lain.

Sri Wiyanti
Oleh Sri Wiyanti - Reporter
BEI akui rakyat masih anggap sulit investasi di pasar modal
Penutupan Bursa. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong peningkatan jumlah investor pasar modal. Kepala Divisi Edukasi BEI Joko Saptono mengatakan, masyarakat masih menganggap berinvestasi di pasar modal merupakan hal yang sulit."Investasi di pasar modal itu sebenarnya sangat mudah," kata Joko di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (28/4).Untuk membuktikan mudahnya berinvestasi di pasar modal, Joko memaparkan tahapan-tahapan yang harus dilalui calon investor untuk bisa mulai berinvestasi di pasar modal.Langkah pertama, papar Joko adalah pembukaan rekening efek di perusahaan sekuritas. "Untuk investasi langsung seperti saham, obligasi, bisa langsung buka rekening di perusahaan sekuritas, buka rekening layaknya di perbankan, isi persyaratan seperti formulir, KTP, kemudian deposit sejumlah dana tertentu, resmilah kita jadi investor," terang Joko.Setelah resmi tercatat menjadi investor pasar modal, investor sudah bisa memulai transaksi jual-beli (trading) saham di pasar modal."Setelah terdaftar kita bisa melakukan jual beli saham. Sekarang dimudahkan, ada aturan baru, 1 lot (dahulu) 500 lembar saham sekarang 100 saham. Dulu harga saham Rp 5.000 kali 500 saham, sekarang Rp 5.000 kali 100 saham jadi lebih murah," jelas Joko.Untuk transaksi tidak langsung di pasar modal, lanjut Joko, investor bisa memilih instrumen investasi reksa dana."Kalau yang tidak langsung reksa dana salah satu contohnya. Kita pilih manajer investasi, kita pilih reksa dananya, kita pilih agen penjual, sangat sederhana dan terjangkau," ucap Joko.Joko menyebut, berinvestasi di pasar modal memberikan imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibanding instrumen investasi jenis lain.Joko mencontohkan, investasi saham yang imbal hasilnya mengacu pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam rentang waktu 2003-2014 kenaikannya cukup signifikan mencapai sekitar 600 persen."Imbal hasil lihat IHSG, di tahun 2003 hingga saat ini kenaikannya sekitar 500-600 persen. Indeks sekarang 4.844,74 jadi sudah terjadi peningkatan yang sangat signifikan," ungkap Joko.Meski demikian, Joko mengingatkan para investor untuk tidak melupakan sisi risiko berinvestasi di pasar modal. Pasalnya, risiko merupakan bagian dari investasi."Tapi IHSG juga ada penurunan saat 2008 turun lebih dari 50 persen karena krisis di luar negeri seperti AS dan krisis utang Eropa bukan karena ekonomi kita sehingga sempat pernah ada suspen perdagangan tapi kemudian 2009 rebound lagi, naik 86 persen dalam setahun. Memang bursa kita sangat dinamis," tutup Joko.

Rekomendasi