Antisipasi gejolak kurs Rupiah, PLN tandatangani kontrak hedging dengan bank BUMN
Merdeka.com - Bank Indonesia menyelenggarakan sosialisasi standard operating procedure (SOP) transaksi lindung nilai (hedging) bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (21/8). Sosialisasi tersebut melibatkan sebanyak 120 Perusahaan BUMN.
Dalam kesempatan tersebut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga menandatangani kontrak transaksi hedging dengan tiga bank Milik BUMN yaitu BRI, BNI, dan Bank Mandiri. Kontrak transaksi hedging ini dinilai sangat penting untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar rupiah di tengah kondisi perekonomian dunia yang belum stabil.
"Jadi mitigasi risiko dari sisi kepastian yang menjadi background kita menentukan hedging ini. Dan tadi secara nasional juga disampaikan BI, setelah ada aturan hedging ini, Rupiah kita relatif stabil kan. Nah kalau semua pemain BUMN, sudah melakukan hedging saya yakin tingkat kurs kita lebih aman," ujar Kepala Divisi Treasury PLN, Iskandar di Gedung BI, Jakarta.
Iskandar mengatakan kontrak yang ditandatangani hari ini juga untuk memperbarui skema hedging yang sebelumnya skema forward menjadi call spread. Di mana call spread dinilai lebih murah dari pada skema forward.
"Kita tidak melihat untung rugi, dan kita membandingkan forward dan call spread tadi itu. Call spread relatif murah untuk ukuran 3 sampai 6 bulan. Kemudian secara teoritis juga, untuk ekonomi yang stabil seperti ini call spread lebih baik," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Pendalaman Pasar Uang BI, Nanang Hendarsyah, mengatakan penandatanganan transaksi hedging call spread antara PLN dengan tiga bank BUMN memiliki nilai USD 30 juta.
"Penandatanganan kontrak hedging hari ini adalah untuk produk hedging baru call spread. Nilai hedging nya untuk produk call spread PLN sebagai tahap awal baru USD 30 juta," pungkasnya.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya