Amien Rais wanti-wanti agar demokrasi Indonesia tak dikotori politik uang

"Di Amerika lebih gawat lagi. Lebih norak lagi. Disana berubah jadi dolartokrasi. Dolar bisa mengubah persepsi dan pendirian orang. Kita jangan jadi rupiahtokrasi," urai Amien Rais.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Amien Rais wanti-wanti agar demokrasi Indonesia tak dikotori politik uang
Rizieq dan Amien Rais. ©2017 Merdeka.com

Ketua Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mengingatkan agar dalam pemilu yang akan digelar di tahun 2019 mendatang tak dikotori dengan politik uang. Amien Rais menyampaikan hal ini usai bertemu petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman dalam acara pencocokan dan penelitian (coklit) data pemilih di komplek kediamannya yang ada di Jalan Pandeansari, Condong Catur, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Jumat (27/4).

"Saya wanti-wanti. Jangan sampai demokrasi itu dikotori politik uang," ujar Amien Rais.

Amien Rais mencontohkan politik uang juga terjadi di Amerika Serikat. Bahkan, Amien Rais menggunakan istilah dolartokrasi untuk menggambarkan bagaimana politik uang bermain dalam pemilu di Amerika Serikat.

"Di Amerika lebih gawat lagi. Lebih norak lagi. Disana berubah jadi dolartokrasi. Dolar bisa mengubah persepsi dan pendirian orang. Kita jangan jadi rupiahtokrasi," urai Amien Rais.

Dalam ungkapan rupiahtokrasi itu, Amien Rais menjabarkan agar politik uang jangan sampai terjadi. Politik uang jangan sampai merambah hingga tingkatan di bawah.

"Jangan sampai rupiah (politik uang) dibawa ke kecamatan, ke kelurahan untuk mengubah keadaan. Nanti jadi aib," papar Amien Rais.

Amien Rais menambahkan sudah sejak Pemilu tahun 1955 dirinya mengalami pemilu. Ketika itu Mantan Ketua PP Muhammadiyah ini duduk di kelas 6 SD dan masih berumur 11 tahun. Sehingga dirinya bisa membandingkan proses demokrasi dari masa ke masa.

"Pemilu tahun 1955 saling sindir antar partai politik. Tapi lihat tidak ada bentrokan fisik. Tahun 1959 era demokrasi terpimpin. Lebih banyak terpimpinnya dari pada demokrasinya," tutur Amien Rais.

Sedangkan di era Orde Baru, Amien Rais menyebut demokrasi yang seperti kerajaan. Saat itu, sambung Amien Rais tak ada oposisi. Menurut Amien Rais, Indonesia baru memasuki demokrasi yang sejati usai reformasi 1998.

"Alhamdulillah reformasi, kita menikmati demokrasi tanpa embel-embel, demokrasi titik. Memang ada ekses kadang-kadang, tapi 98 persen saya kira aman, yang dua persen itu kadang-kadang membuat gambaran kurang bagus tapi intinya sudah berdemokrasi," tutup Amien Rais.

Rekomendasi