Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kasus Lansia Tewas Dikeroyok di Pulogadung, Keluarga Korban Curiga Ada Perencanaan

Kasus Lansia Tewas Dikeroyok di Pulogadung, Keluarga Korban Curiga Ada Perencanaan Mobil lansia dikeroyok di Pulogadung. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Polisi terus mengembangkan kasus pengeroyokan terhadap Wiyanto Halim (89), lansia yang diteriaki sebagai maling di Pulogadung, Jakarta Timur. Mereka mendalami kecurigaan korban yang menduga ada unsur perencanaan dalam peristiwa itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes E Zulpan menyampaikan, kecurigaan itu disampaikan anak kedua korban. Keluarga menilai ada kaitan kematian lansia itu ada kaitan dengan kasus sengketa tanah.

"Di situ diterangkan bahwa yang menjadi kesimpulan pemeriksaan itu, pertama bahwa dinyatakan tidak ada permasalahan internal dalam keluarga. Itu yang mereka sampaikan. Kedua, bahwa korban, bapaknya mereka itu ada sengketa tanah di daerah Benda sejak tahun 1998," tutur Zulpan saat dikonfirmasi, Minggu (6/2).

Menurut Zulpan, anak Wiyanto juga mengaku pernah mendengar ayahnya diancam melalui telepon. "Namun ketika ditanya penyidik siapa yang mengancam, nah anaknya bilang dia nggak tahu siapa yang ancam. Artinya ya penyidik kan bekerja berdasarkan fakta yang ada di lapangan, bukti, fakta dan bukti. Kalau dikatakan pembunuhan berencana, itu adalah direncanakan dan dilakukan, baik orang yang merencanakan, baik orang yang disuruh," jelas dia.

Periksa Pemotor yang Teriak Maling

Sementara polisi telah memeriksa sejumlah pengendara motor yang mengejar dan meneriaki Wiyanto sebagai maling, sehingga lansia itu dikeroyok massa dan meninggal dunia.

"Sudah, semua sudah kita panggil, sudah kita periksa sebenarnya. Cuma penyidik kan nggak ekspose aja setiap kita panggil orang. Gitu kan," tutur Zulpan.

Menurutnya, penyidik masih terus mendalami kasus itu. Mereka mencari dua alat bukti untuk penetapan tersangka baru.

"Nanti kalau hasil pemeriksaan ini ada kaitan, artinya dua alat bukti memenuhi unsur ya, baru ditetapkan tersangka, baru kita ekspose. Tapi kan berjalannya kasus ini, diperiksa itu nggak kita sampaikan semua ke publik," jelas dia.

Puluhan Pengendara Motor Terlibat

Menurut Zulpan, ada puluhan pengendara motor berikut yang berboncengan dalam peristiwa main hakim sendiri itu. Hanya, tidak semua melakukan aksi pengeroyokan terhadap kakek berusia 89 tahun itu.

"Kan yang ikut mukul nggak semua orang motor 30 lebih itu kan? Kan nggak semuanya ikut mukul, karena bapak itu kan sudah tua, dipukul oleh dua tersangka udah jatuh itu kan. Ada dua tersangka, pertama yang mukul di pinggang itu tiga kali pukul sama dua kali di dagu, tumbang dia. Jatuh terus diinjak-injak sama pelaku lain terus meninggal," tandas Zulpan.

Sebelumnya, polisi kembali menetapkan satu orang sebagai tersangka baru terkait kasus pengeroyokan kakek Wiyanto Halim. Pelaku diketahui berinisial F dengan peran merusak mobil saat insiden terjadi.

"Satu orang kembali ditetapkan, inisial F Tersangka melakukan perusakan terhadap mobil korban," kata Zulpan, Sabtu (29/1).

Dengan penetapan F sebagai tersangka baru, total ada enam orang yang diduga kuat terlibat dalam pengeroyokan pria berusia 89 itu.

"Total enam," singkat Zulpan.

Dia menegaskan, keenam tersangka tidak memiliki keterkaitan latar belakang dengan korban dan bahkan tidak semua saling kenal. Penyidik juga sudah melakukan pemeriksaan mendalam, termasuk menggali riwayat panggilan dan percakapan ponsel.

"Bahkan mereka juga tidak mengenali. Kesimpulannya gitu. Para tersangka tidak memiliki keterkaitan dengan latar belakang korban, itu kesimpulan penyidik. Karena mereka memang tidak mengenali. Nah, jadi itu fakta yang ada di lapangan, fakta hukum kan. Nah kan polisi bekerja sesuai fakta hukum, nggak bisa berandai-andai, berasumsi sesuai dengan opini yang dibangun," katanya.

Berawal dari Serempet Sepeda Motor

Nasib nahas yang dialami Wiyanto bermula saat dirinya menyerempet sepeda motor di Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (23/1) dini hari.

"Pengemudi motor kemudian merasa dirugikan, karena melihat mobil korban tidak berhenti, melakukan pengejaran dan melakukan aksi provokatif dengan kata-kata maling," jelas Zulpan, Selasa (25/1).

Massa yang mendengar teriakan itu mengartikan bahwa mobil yang tengah dikendarai Wiyanto adalah mobil curian. Menurut Zulpan, aksi provokasi inilah yang membuat massa beringas untuk mengejar mobilnya.

"Inilah yang mengakibatkan banyaknya pemotor lain simpatik secara beramai-ramai mengejar mobil korban sampai TKP akhir di wilayah Pulokambing, Cakung, Jakarta Timur dan dikeroyok," katanya.

Video massa yang tengah mengejar mobil Wiyanto pun sempat viral di media sosial. Mula-mula video itu diunggah sejumlah akun dengan narasi aksi mengejar maling mobil. Kemudian terungkap bahwa mobil itu memang milik Wiyanto.

Reporter: Nanda Perdana Putra/Liputan6.com.

(mdk/yan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP