16 Ribu Anak di Jawa Timur Depresi Akibat COVID-19, Ketahui Fakta Ini untuk Mencegah

Sedikitnya ada 16 ribu anak di Provinsi Jawa Timur yang mengalami depresi akibat COVID-19. Pandemi menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami perubahan cukup drastis. Hal ini menjadi salah satu penyebab banyaknya masyarakat yang mengalami depresi atau stres, tak terkecuali anak-anak.

Rizka Nur Laily M
Oleh Rizka Nur Laily M - Reporter
16 Ribu Anak di Jawa Timur Depresi Akibat COVID-19, Ketahui Fakta Ini untuk Mencegah
Anak-anak. ©2012 Merdeka.com/Shutterstock/Monkey Business Images

Sedikitnya ada 16 ribu anak di Provinsi Jawa Timur yang mengalami depresi akibat COVID-19. Sebagaimana penjelasan dari Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur Andriyanto.

Dikutip dari Antara, Kamis (25/6), pandemi menyebabkan kehidupan masyarakat mengalami perubahan cukup drastis. Hal ini menjadi salah satu penyebab banyaknya masyarakat yang mengalami depresi atau stres, tak terkecuali anak-anak.

Ujian Ketahanan Keluarga

Dalam Webinar Aliansi Pelajar Surabaya yang mengambil tema ”Mental Anak Menghadapi New Normal, apa peran kita?” yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim pada Kamis (25/6), Andriyanto menyampaikan sekitar 16 ribu dari total 10,87 juta anak di wilayah setempat mengalami depresi.

"Riset Kesehatan Dasar menyebutkan ada 1,6 persen anak mengalami depresi. Dari 42 juta jiwa penduduk Jatim, anak usia 0-18 mencapai 10,87 juta dan 16 ribu anak di antaranya mengalami depresi selama masa COVID-19, ini fakta," jelasnya.

Situasi sulit pandemi saat ini merupakan ujian bagi ketahanan keluarga. Sebab banyak persoalan yang muncul dalam keluarga akibat COVID-19.

Beragam Masalah Muncul

Banyaknya anak yang mengalami depresi juga dibersamai dengan banyaknya jumlah anak yang terkonfirmasi positif COVID-19. Selain itu, kesulitan ekonomi juga menimpa banyak keluarga.

COVID-19 juga menyebabkan angka stunting di Jatim mengalami kenaikan. Padahal, pada 2019, Jatim telah berhasil menekan angka stunting dari 30,8 persen menjadi 27,5 persen.

"Pada tahun 2019 kita memang sukses menurunkan angka stunting. Namun, tahun 2020 ada survei ketahanan pangan, ternyata kecukupan pangan anak turun drastis, orang tua banyak yang mengalami PHK, sehingga persoalan ekonomi menjadi cacat,'" katanya.

Tips Supaya Anak Tidak Depresi

Andriyanto memiliki saran untuk para orang tua supaya anaknya dari depresi. Supaya anak bisa beradaptasi dengan protokol COVID-19, maka pada masa transisi normal baru anak harus diajak berhijrah dengan manajemen mental mereka. Transisi normal baru sama artinya dengan berhijrah.

"Ini harus kita bangun. Bagaimana kita mengatur mental anak, serta jangan dijadikan objek, anak harus dijadikan subjek. Kalau seandainya anak berani menegur teman dan orang tua, ini menjadi sesuatu yang luar biasa. Berikan peran, berikan saluran kepada mereka supaya mereka bisa memasuki jalan yang lurus," katanya.

Solusi kedua, yakni dengan menyisipkan ibadah. Dalam kondisi seperti ini ibadah menjadi solusi jitu.

Anak Meniru Orang Tua

Sementara itu, Pendiri Yayasan Alit Indonesia Yuliati Umrah yang juga ikut dalam diskusi virtual itu mengatakan untuk membiasakan anak disiplin melaksanakan protokol kesehatan harus diawali oleh orang tuanya. Anak sebenarnya adalah manusia peniru.

"Anak sangat meniru orang tua, anak jauh lebih mudah dikasih contoh. Tinggal orang dewasa ini memberikan contoh kongkret. Karena, biasanya perilaku orang dewasa ini absurd, yang dikatakan dengan yang dilakukan tidak sama. Inilah yang kemudian menjadikan anak-anak semakin tertekan dan stres," katanya.

Anak juga harus diberikan ruang untuk berekspresi. Bagaimana ruang yang biasa dinikmati di sekolah dan di luar rumah bisa kembali dinikmati di dalam rumah.

"Bagaimana ruang rumah menjadi nyaman bagi anak. Anak-anak punya energi lebih, ini dikemanakan. Ruang partisipasi anak harus diperbanyak, terutama pada minat dan bakat mereka," lanjutnya.

Butuh Banyak Kesempatan

Anak-anak membutuhkan lingkungan yang menjadi media berekspresi. Mereka butuh kesempatan yang banyak. Hal ini disampaikan Direktur Lembaga Psikologi dan Pengembangan SDM Media Hati, Nurul Indah Susanti.

“Anak itu tidak ingin yang bertele-tele, beri mereka ruang, penghargaan, cinta, kasih sayang, dan perhatian yang lebih,” ujarnya.

Dalam situasi seperti ini semua lapisan masyarakat harus saling mendukung dengan melakukan peran masing-masing.

Rekomendasi