Selandia Baru hari ini memutuskan meninggalkan strategi untuk menghilangkan virus corona dan akan hidup berdampingan dengan Covid-19 seraya mengendalikan penyebarannya.
Negara Pasifik itu termasuk di antara segelintir negara yang mampu membuat kasus Covid-19 turun menjadi nol tahun lalu dan sebagian besar tetap bebas virus hingga varian delta muncul dan menyebabkan lonjakan penularan pada pertengahan Agustus.
"Dengan wabah dan delta ini, kembali ke nol sangat sulit," jelas Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam konferensi pers, seperti dilansir laman Al Arabiya, Senin (4/10).
"Ini adalah perubahan dalam pendekatan yang selalu kami lakukan dari waktu ke waktu. Wabah delta kami telah mempercepat transisi ini. Vaksin akan mendukungnya," jelasnya seperti dilansir dari laman Al Arabiya, Senin (04/10).
Otoritas kesehatan melaporkan 29 kasus baru pada hari ini sehingga total saat ini menjadi 1.357 kasus. Sebagian besar kasus berada di Auckland yang telah diterapkan pembatasan selama hampir 50 hari.
Di tengah tekanan yang meningkat, Ardern menyatakan strateginya tidak pernah memiliki nol kasus, tetapi secara agresif membasmi virus. Dia menjelaskan lockdown ketat akan berakhir setelah 90 persen populasi yang memenuhi syarat divaksinasi.
"Jelas periode pembatasan berat yang panjang tidak membuat kami mencapai nol kasus. Namun tidak apa-apa, eliminasi itu penting karena dulu kami tidak memiliki vaksinasi. Sekarang kami punya. Jadi kami dapat mulai berubah dengan cara kami sendiri," jelasnya.
Orang-orang di Auckland dapat meninggalkan rumah mereka untuk bertemu dengan kerabat atau teman di luar ruangan mulai Rabu, dengan batas maksimal 10 orang.
Pendidikan anak usia dini akan kembali dan orang-orang juga dapat pergi untuk rekreasi, tetapi ritel, perhotelan, dan kantor akan tetap tutup.
Ardern menyatakan pembatasan yang tersisa di Auckland akan dilonggarkan secara bertahap.
Reporter magang: Ramel Maulynda Rachma