Kementerian Luar Negeri Rusia dua hari lalu mengatakan telah mengirimkan proposal ke Washington untuk merancang kerja sama pemulangan para pengungsi Suriah setelah kesepakatan dicapai antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump dalam pertemuan di Helsinki, Finlandia Senin lalu.
Dilansir dari laman Arab News, Jumat (20/7), para pengungsi Suriah itu akan dipulangkan ke rumah mereka seperti sebelum konflik meletus pada Maret 2011.
"Kemajuan dari rencana ini terbantu oleh kesepakatan yang dicapai presiden Rusia dan Amerika Serikat dalam pertemuan di Helsinki," kata Mikhail Mizintsev, pejabat kementerian luar negeri, seperti dikutip TASS.
Pasukan AS dan Rusia punya jalur komunikasi di Suriah untuk menghindari bentrokan di lapangan dan kerja sama pemulangan pengungsi ini akan memperluas hubungan itu.
"Proposal yang diajukan Rusia saat ini sedang dipelajari pihak AS," kata Kemlu Rusia.
Dalam proposal itu dikatakan akan dibentuk tim pemantau antara Rusia-AS-Yordania di Amman dan tim serupa di Libanon. Dalam waktu dekat sebanyak 1,7 juta pengungsi Suriah bisa kembali ke tempatnya semula dalam waktu dekat.
Hasil pengamatan awal menyatakan ada 890 ribu pengungsi yang bisa kembali ke Suriah dari Libanon dalam waktu dekat, 300 ribu dari Turki dan 200 ribu dari negara Eropa.
Secara terpisah PBB mengatakan diperkirakan ada 750 ribu pengungsi Suriah yang sudah kembali ke rumah mereka pada paruh pertama tahun ini. Angka ini mendekati jumlah yang sama tahun lalu.
Badan PBB urusan pengungsi, UNHCR, mengatakan, para pengungsi ini kembali ke wilayah yang kini sudah dikuasai lagi oleh pasukan pemerintah setelah merebutnya dari pemberontak, termasuk di Aleppo, Homs, dan pinggiran Damaskus.