Korea Utara ingin serangkaian sanksi internasional diperlonggar termasuk impor barang-barang mewah seperti minuman keras atau alkohol dan pakaian mewah sebelum memulai kembali perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini disampaikan anggota parlemen Korea Selatan pada Selasa.
Pyongyang juga meminta sanksi larangan ekspor logam dan impor bahan bakar serta keperluan lainnya dicabut. Anggota parlemen menyampaikan hal ini setelah diberi pengarahan oleh Kepala Badan Intelijen Nasional Korsel (NIS), Park Jie-won.
Pernyataan ini disampaikan ketika NIS menyampaikan Korus sedang mendistribusikan cadangan beras darurat militer di tengah kekurangan pasokan makanan yang parah dan krisis yang disebabkan kekerangan dan diperburuk pandemi virus corona. Cadangan tersebut biasanya dilakukan pada masa perang.
Sejak dibukanya kembali saluran komunikasi telepon (hotline) kedua negara pekan lalu, Korut dan Korsel berbicara dua kali dalam sehari, menurut NIS.
Mengutip Park, anggota komite intelijen parlemen Korsel, Ha Tae-keung, menyampaikan kepada wartawan pada Selasa, Korut berpendapat AS seharusnya mengizinkan ekspor hasil tambang dan impor bahan bakar dan barang kebutuhan lainnya.
“Saya tanya barang kebutuhan apa yang paling mereka inginkan, dan mereka mengatakan termasuk minuman keras dan pakaian mewah, tidak hanya untuk konsumsi Kim Jong Un sendiri tapi untuk didistribusikan ke elit Pyongyang,” jelasnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (5/8).
Advertisement
Washington tidak memberikan indikasi adanya keinginan untuk memperlonggar sanksi. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken berencana menyerukan kepada semua timpalannya di Asia Tenggara dalam pertemuan virtual pekan ini untuk menerapkan sepenuhnya sanksi terhadap Korut, seperti disampaikan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, pada Senin.
Pada Selasa, Price menegaskan kembali bahwa AS ingin bertemu dengan Korut kapanpun dan di manapun tanpa prasyarat, tapi belum ada tanggapan dari Korut.
PBB telah menjatuhkan sanksi terhadap Korut karena pengembangan senjata nuklir dan rudal balistiknya. AS dan negara lainnya juga menerapkan sanksi sendiri terhadap Korut.
Terkait isu kesehatan Kim Jong Un, Ha Tae-keung mengatakan NIS yakin tidak ada indikasi kesehatan Kim bermasalah, setelah muncul foto badannya yang semakin kurus dan perban di belakang kepalanya.
NIS mengatakan Kim aktif tampil di depan umum dan gerakannya tampak normal.