Jejak kekejaman ISIS di kota kuno Palmyra

Kota bersejarah menurut UNESCO itu sekarang rusak parah akibat ulah militan. Jalur ke sana dijaga pos-pos militer

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Jejak kekejaman ISIS di kota kuno Palmyra
Kerusakan di kota kuno Palmyra. ©2016 Merdeka.com/Pandasurya Wijaya

Sejauh mata memandang yang tampak hanya hamparan gurun tandus berbukit-bukit. Tapi daerah di sebelah timur laut Ibu Kota Damaskus, Suriah, ini menyimpan sejarah berusia ribuan tahun. Berjarak 240 kilometer dari Damaskus, di sinilah terletak Kota Tadmur (dalam bahasa Arab) atau Palmyra (dalam bahasa Inggris). Kami, rombongan jurnalis Indonesia - termasuk di antaranya merdeka.com - bersama petugas KBRI Damaskus mengunjungi kota ini, Kamis (28/4).

Wilayah yang masuk dalam Provinsi Homs ini memiliki dua kawasan: pertama daerah modern yang ditinggali warga, dan kedua, tempat peninggalan situs bersejarah atau kota kuno. Kawasan kota kuno Palmyra sudah dinyatakan menjadi warisan dunia oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa UNESCO.

Di tengah konflik yang masih berlangsung, dari Damaskus orang harus melewati lebih dari 20 kali pos pemeriksaan militer untuk mencapai Palmyra. Perjalanan 240 kilometer ditempuh dalam waktu hampir lima jam.

Mei 2015 kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerbu kota ini kemudian menguasainya. Baru bulan lalu pasukan militer Suriah berhasil merebut kembali kota ini dengan bantuan pasukan Rusia hanya dalam waktu dua hari. ISIS dipukul mundur sejauh 10-20 kilometer dari kota ini.

Kota kuno Palmyra ditengok dari perbukitan (c) 2016 Merdeka.com/Pandasurya

Saat merdeka.com makin mendekati Palmyra, di kanan-kiri jalan ada beberapa barak militer Suriah. Sejumlah tank dan kendaraan tempur juga masih terlihat. Mobil-mobil hangus terbakar menjadi bukti sengitnya pertempuran di dekat Palmyra.

Memasuki kota, yang terpampang adalah sisa-sisa kekejaman ISIS di kota ini. Bekas pertempuran sengit antara militer Suriah bersama Rusia melawan ISIS juga masih tampak. Bangunan-bangunan seperti masjid, gereja, rumah, museum, bank, rumah sakit, restoran, dan lainnya hancur.

Bekas peluru di dinding bangunan serta bekas percikan ledakan masih terlihat di sana-sini. Jalanan sepi dipenuhi puing-puing reruntuhan bangunan. Kota ini mati. Beberapa tentara Rusia dan Suriah terlihat berjaga-jaga. Bekas ranjau yang dipasang ISIS juga masih terlihat di jalanan.

"Kami sudah membersihkan lebih dari 8.500 ranjau di Palmyra," kata Mayor Samir Eskeef, tentara Suriah penanggung jawab perbaikan Kota Palmyra.

Di tengah lingkaran alun-alun kota, terdapat sebuah kerangkeng besi dilapisi kawat dan sebuah tiang pancang di sisinya lengkap dengan bendera ISIS bertuliskan kalimat syahadat terbuat dari besi.

"Di sini ISIS mengurung warga yang akan dieksekusi. Mereka dipenggal lalu kepalanya ditancapkan di atas tiang itu dan darah mengucur ke bawah," kata Hayat, staf bagian informasi wilayah Homs dari Kementerian Penerangan Suriah yang mengantar kami.

Kerusakan di Palmyra (c) 2016 Merdeka.com/Pandasurya

Di dalam sebuah restoran yang hancur ada kurungan berbentuk kubah terbuat dari kawat tempat ISIS mengurung warga dan menyiksanya.

Kota ini mati, penduduk sudah mengungsi ke beberapa lokasi di sekitar Palmyra, sebagian ke Kota Homs.

Bukan hanya bangunan hancur, di setiap sudut jalanan hampir bisa ditemukan bekas kereta bayi yang sudah rusak. Bisa dibayangkan apa yang sedang terjadi ketika pertempuran itu berlangsung.

Para ibu yang sedang membawa bayinya berjalan-jalan dengan kereta bayi langsung menggendong dan mendekap anak mereka lalu lari menyelamatkan diri. Kereta bayi itu jadi saksi bisu pertempuran yang sampai sekarang tak kunjung nampak ujungnya.

Rekomendasi