Secara beruntun dua bulan terakhir, negara-negara Eropa memberi dukungan pada Palestina. Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa kini berpeluang meloloskan draf Palestina untuk diakui kemerdekaannya pada 2016.
Selain mendukung Otoritas Palestina yang dikendalikan Fatah dari Tepi Barat, Benua Biru pun tak lagi memusuhi Hamas yang menguasai Jalur Gaza.
Selama 13 tahun terakhir, Partai Hamas dicap sebagai teroris lewat keputusan Uni Eropa. Kemarin (17/12), beleid tersebut resmi dicabut. Keputusan ini muncul selepas pengacara Hamas menggugat klasifikasi itu sejak 2010.
"Pengadilan menyatakan penghapusan (Hamas) berdasarkan alasan prosedural yang mendasar dan tidak menyiratkan penilaian substantif terkait klasifikasi Hamas dalam kelompok teroris," kata keterangan tertulis pengadilan Uni Eropa seperti dilansir Stasiun Televisi Aljazeera.
Jika tak ada banding atau penolakan dari negara anggota Uni Eropa, maka keputusan ini berdampak pada dihentikannya kebijakan pembekuan aset Hamas maksimal pada Februari 2015. Gaza akan mendapat pasokan dana segar yang selama ini tertahan.
Sontak Israel meradang dengan keputusan tersebut. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai
Advertisement
Uni Eropa 'keblinger'. Melunak pada Hamas, bagi Zionis, hanya menimbulkan instabilitas di Timur Tengah.
"Hamas adalah organisasi teroris yang berbahaya. Kami mengharapkan Uni Eropa segera menempatkan Hamas kembali dalam daftar teroris," ujarnya.
Israel berkukuh Hamas adalah teroris karena aktif melawan pendudukan Yahudi. Partai dekat dengan Ikhwanul Muslimin Mesir itu tercatat rajin mengirim roket dan bom ke wilayah Zionis selama 1993 hingga 2005.
Seakan menambah luka bagi Israel, Uni Eropa kemarin mengakui kedaulatan negara Palestina. Dalam pemungutan suara, 489 anggota parlemen Uni Eropa menolak Israel dibiarkan menggerogoti wilayah Tepi Barat dan Gaza.
Artinya, Inggris dan Prancis yang memiliki hak veto di PBB akan mendukung resolusi Palestina merdeka. Ditambah dukungan Rusia dan China sejak dulu, tinggal Amerika Serikat saja yang masih bisa menggagalkan kemerdekaan Palestina.
"Parlemen Eropa mendukung pengakuan prinsip negara Palestina dan solusi dua negara. Parlemen percaya keputusan ini akan berjalan seiring dengan perkembangan pembicaraan damai, yang harus terus dilakukan."
Dukungan dari Uni Eropa datang bersamaan dengan perayaan ulang tahun Hamas ke-27. Petinggi Hamas mengapresiasi putusan itu dan merasa perlawanan pada Israel di masa lalu adalah murni perjuangan melawan penjajah.
"Keputusan ini merupakan koreksi dari kesalahan sejarah yang dibuat Uni Eropa," kata Wakil Ketua Hamas Musa Abu Marzuk.
Selama lima tahun terakhir, penduduk Jalur Gaza mengalami isolasi parah oleh militer Israel. Wilayah yang dikendalikan Hamas hanya bisa mengandalkan pasokan makanan dan obat dari pasar gelap Mesir.
Jika otoritas Hamas dan Fatah diakui dunia internasional, maka isolasi Gaza yang tidak manusiawi ulah tentara Zionis dapat berakhir dua tahun mendatang. Jalan terang mulai terlihat.