Dokumen Pentagon: Serangan Udara AS Tewaskan Ribuan Warga Sipil di Timur Tengah

Laporan the New York Times (Times) itu berdasarkan dokumen rahasia Pentagon yang menyebut lebih dari 1.300 warga sipil tewas selama AS melancarkan serangan udara di kawasan paling bergejolak di muka bumi ini.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Dokumen Pentagon: Serangan Udara AS Tewaskan Ribuan Warga Sipil di Timur Tengah
drone as. ©AFP Photo/Ayman Henna

Harian the New York Times beberapa hari lalu mengungkapkan serangan udara Amerika Serikat di Timur Tengah dalam satu dasawarsa terakhir telah menewaskan lebih dari seribu warga sipil tak berdosa.

Laporan the New York Times (Times) itu berdasarkan dokumen rahasia Pentagon yang menyebut lebih dari 1.300 warga sipil tewas selama AS melancarkan serangan udara di kawasan paling bergejolak di muka bumi ini.

Janji transparansi dan akuntabilitas dari AS kerap tidak dipenuhi.

"Tak satu pun catatan yang menyebut tindakan itu adalah kesalahan atau mendapat hukuman," kata koran terkemuka AS itu, seperti dilansir laman Aljazeera, Minggu (19/12).

Meski sejumlah kasus sudah pernah dilaporkan oleh Times sebelumnya, namun penyelidikan ini memperlihatkan jumlah korban sipil yang tewas banyak yang tidak dihitung, setidaknya sampai ratusan jumlahnya.

Dalam laporannya Times membahas setiap kasus serangan yang menewaskan warga sipil dan tak satu pun dari kasus itu disebut menyalahi aturan.

Pada peristiwa serangan udara yang menewaskan 120 penduduk desa di Tokhar, Suriah pada Juli 2016, laporan menyebut serangan itu menewaskan 85 militan.

Contoh lain adalah ketika serangan udara pada November 2015 di wilayah Ramadi, Irak. Seseorang diketahui tengah menyeret "sebuah objek yang tidak diketahui" menuju lokasi markasa ISIS. Tapi kemudian sebuah laporan setelah kejadian itu menyebut objek yang sedang diseret tersebut adalah seorang anak kecil yang tewas dalam serangan udara.

Lemahnya rekaman pemantauan dari sebuah pesawat nirawak kerap menimbulkan korban tewas, kata laporan itu.

Yang terbaru adalah ketika pasukan AS menduga sebuah mobil yang dihancurkan oleh serangan pesawat nirawak (drone) di sebuah jalan di Kabul, Afghanistan berisi bom.

Tapi ternyata diketahui korban tewas dari serangan udara itu adalah 10 orang dari satu keluarga.

Mereka yang selamat dari serangan udara AS, laporan Times, kebanyakan menjadi kaum disabilitas yang membutuhkan biaya perawatan, namun uang duka cita diberikan hanya kepada segelintir korban.

Juru bicara Komando Pusat AS Kapten Bill Urban mengatakan kepada Times, "bahkan dengan teknologi terbaik di dunia sekali pun, kesalahan tetap bisa terjadi, entah itu dari informasi yang salah atau penafsiran yang meleset. Dan kami berusaha mengambil pelajaran dari kesalahan itu.

"Kami berusaha keras menghindari kesalahan itu. Kami menyelidiki setiap kasus. Dan kami menyesal akan jatuhnya korban tewas."

Serangan udara AS di Timur Tengah kian gencar di masa akhir pemerintahan Presiden Barack Obama saat publik AS mendukung operasi itu.

Obama mengatakan, operasi yang menggunakan pesawat nirawak yang dikendalikan dari jarak jauh ini "adalah serangan udara paling akurat dalam sejarah" dan mampu meminimalkan korban sipil.

Teknologi baru ini punya kemampuan menghancurkan sebagian rumah yang berisi para militan sementara bagian rumah yang lain masih berdiri aman, kata Pentagon.

Namun dalam lima periode terakhir pasukan AS melancarkan lebih dari 50.000 serangan udara di Afghanistan, Irak, dan Suriah, dengan tingkat akurasi yang jauh dari apa yang digembar-gemborkan.

Dalam laporannya Times mengungkapkan reporter mereka sudah "mengunjungi lebih dari 100 lokasi serangan dan mewawancarai sejumlah korban selamat dan para pejabat serta mantan pejabat AS."

Sebelum melancarkan serangan udara, militer AS harus menempuh sejumlah protokol untuk meminimalkan kematian korban sipil.

Namun informasi yang didapat intelijen tetap bisa keliru hingga menimbulkan kesalahan yang fatal.

Misalnya, kata Times, rekaman video yang diambil dari udara tidak memperlihatkan ada orang di dalam gedung, di bawah bangunan atau di bawah atap alumunium.

Sementara informasi yang didapat bisa salah ditafsirkan dan orang yang terlihat bergegas ke lokasi yang baru dibom bisa dianggap anggota militan, bukan orang yang ingin menyelamatkan.

Terkadang, kata Times, "rombongan pria bermotor bisa dianggap akan melancarkan serangan, padahal mereka memang hanya sekelompok pria bermotor."

Namun menurut Urban, "dalam kondisi pertempuran, di mana target bisa melancarkan serangan dan tidak ada waktu leluasa untuk menganalisis, dampak perang bisa berujung pada keputusan yang mengorbankan warga sipil."

Rekomendasi