Capres favorit Filipina berjanji bunuh anaknya yang pakai narkoba

Rodrigo Duterte adalah sosok kontroversial. Walikota ini pernah memerintahkan pembunuhan bandar narkoba

Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro
Capres favorit Filipina berjanji bunuh anaknya yang pakai narkoba
Capres Filipina Rodrigo Duterte. ©2015 Merdeka.com/Oddity Central

Rodrigo Duterte, salah satu calon presiden Filipina paling diperhitungkan serta kerap melontarkan kata-kata kontroversial. Pria yang bermukim di Provinsi Davao ini mengaku sangat marah dan siap membunuh anaknya jika mereka terlibat obat-obatan terlarang.

Pria 71 tahun ini menjadi salah satu capres favorit untuk menggantikan Presiden Benigno Aquino. Meski demikian, dia memang dikenal sebagai capres yang blak-blakan jika berkampanye.

"Saya sangat marah. Mereka mengatakan saya seorang pembunuh, dan mungkin memang seperti itu," ujar Duterte dalam debat capres terakhir di televisi kemarin, seperti dilansir dari ABC, Senin (25/4).

Pernyataan tersebut bermula ketika Duterte mendapat pertanyaan mengenai hal-hal kriminal. Ketika dia mendapat pertanyaan bagaimana jika anaknya terlibat dalam kasus narkoba, jawabannya lebih mencengangkan lagi.

"Saya akan bunuh dia," ucapnya tegas.

Pria ini dikenal seperti Donald Trump, bakal capres Amerika Serikat yang sering melontarkan pernyataan menusuk apalagi perihal Islam dan pengungsi. Sementara Duterte akan sangat 'nyeleneh' kalau berkomentar mengenai tingginya tingkat kejahatan di Filipina.

Duterte sendiri beberapa waktu lalu sempat menuai kecaman dari berbagai pihak atas komentarnya yang bercanda soal sebuah kasus pemerkosaan wanita Australia. Dalam rekaman kampanye yang diunggah ke Youtube, Duterte berkomentar mengenai kasus pemerkosaan dan pembunuhan misionaris asal Australis di Davao City pada 1989.

Kala itu Duterte menjabat sebagai walikota di kota tenggara Filipina.

"Saya marah dia diperkosa, iya itu hal lainnya. Tapi dia sangat cantik, saya kira walikota yang seharusnya lebih dulu (memperkosanya). Sayang sekali," kata dia dalam rekaman tersebut.

Dalam peristiwa itu, sebanyak 15 pekerja gereja disandera oleh para narapidana, termasuk seorang misionaris asal Australia bernama Hamill, 36, yang baru sebulan bertugas di Filipina, delapan orang wanita, dan seorang bocah berusia 9 tahun.

Penyanderaan berlangsung selama tiga hari, berakhir dengan penyerbuan militer yang menewaskan 21 orang, termasuk lima orang sandera. Hamill dan bocah 9 tahun adalah salah satu yang tewas dalam peristiwa itu.

Duterte mengakui bahwa komentarnya adalah sebuah lelucon yang buruk. Namun dia mengatakan lelucon itu adalah ekspresi kemarahan dan menyatakan tidak akan meminta maaf.

Rekomendasi