Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali mengalami insiden pemadaman listrik yang signifikan pada Jumat (10/10) malam, menyebabkan gangguan serius pada operasional penerbangan. Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 18.13 WITA dan berdampak langsung pada puluhan jadwal penerbangan, baik domestik maupun internasional. General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai, Ahmad Syaugi Shahab, mengonfirmasi kejadian tersebut kepada publik.
Total 74 penerbangan dilaporkan terdampak oleh gangguan kelistrikan ini, yang meliputi 42 penerbangan internasional dan 32 penerbangan domestik. Meskipun demikian, pihak bandara memastikan bahwa dampak yang terjadi hanyalah penyesuaian waktu atau penundaan, tanpa adanya pembatalan penerbangan. Proses penanganan situasi darurat ini memerlukan upaya ekstra dari seluruh staf bandara.
Pemadaman listrik ini memaksa proses check-in penumpang dilakukan secara manual dan menahan delapan pesawat di udara untuk sementara waktu. Seluruh aktivitas berangsur normal setelah listrik kembali menyala sekitar pukul 19.17 WITA, namun proses normalisasi lalu lintas penerbangan baru selesai dini hari keesokan harinya. Pihak bandara menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Advertisement
Advertisement
Pemadaman listrik di area Bandara I Gusti Ngurah Rai terjadi pada Jumat kemarin, tepatnya sekitar pukul 18.13 WITA. Insiden Pemadaman Listrik Bandara Ngurah Rai ini secara langsung memengaruhi operasional penerbangan dalam rentang waktu tersebut, termasuk alur penumpang di darat. Akibatnya, proses check-in penumpang harus dilakukan secara manual, menimbulkan antrean dan penyesuaian prosedur.
Ahmad Syaugi Shahab menjelaskan bahwa dampak pemadaman listrik ini tercatat pada 74 penerbangan, dengan rincian 42 penerbangan internasional dan 32 penerbangan domestik. Beruntungnya, tidak ada pengalihan atau pembatalan penerbangan yang terjadi. Rata-rata penundaan penerbangan berkisar antara 30 menit hingga 1 jam, yang masih dapat ditoleransi dalam situasi darurat.
Selama periode gangguan listrik, pengelola bandara juga mencatat adanya delapan pesawat yang terpaksa tertahan di udara. Situasi ini memerlukan koordinasi intensif dengan menara kontrol lalu lintas udara untuk memastikan keselamatan penerbangan. Proses lalu lintas penerbangan akibat Pemadaman Listrik Bandara Ngurah Rai baru 100 persen selesai pada dini hari berikutnya.
Advertisement
Penerbangan terakhir yang akhirnya lepas landas adalah Garuda Indonesia (GIA 870) tujuan Incheon, yang berangkat pada pukul 02.16 WITA. Ini menunjukkan bahwa dampak pemadaman listrik tersebut membutuhkan waktu berjam-jam untuk sepenuhnya pulih dan kembali normal. Kecepatan penanganan menjadi kunci dalam meminimalkan kerugian.
Advertisement
Selama penanganan alur penumpang secara manual, pihak bandara berupaya keras untuk memperbaiki sistem kelistrikan mereka. Listrik akhirnya berhasil kembali menyala sekitar pukul 19.17 WITA, kurang lebih satu jam setelah insiden terjadi. Pemulihan cepat ini membantu mencegah dampak yang lebih parah terhadap operasional bandara.
Ahmad Syaugi menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas ketidaknyamanan yang dialami oleh para penumpang dan maskapai akibat Pemadaman Listrik Bandara Ngurah Rai. "Hasil monitoring kami pada pagi hingga sore ini menunjukkan seluruh aktivitas penerbangan, pelayanan penumpang, serta arus kendaraan pengantar dan penjemput berjalan normal dan lancar," ujarnya, memastikan kondisi telah pulih.
Hingga saat ini, pengelola bandara masih terus memeriksa peralatan dan melakukan investigasi menyeluruh atas kejadian di objek vital tersebut. "Kami lagi evaluasi peningkatan kualitas peralatan kami juga dan pada saat ini tim juga satu-satu mengecek sektor yang ada di Bandara I Gusti Ngurah Rai," kata Ahmad Syaugi. Evaluasi ini penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Advertisement
Langkah-langkah investigasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar masalah pemadaman listrik dan menerapkan solusi yang tepat. Bandara I Gusti Ngurah Rai berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan keamanan operasional, terutama mengingat statusnya sebagai gerbang utama pariwisata internasional di Bali.
Sumber: AntaraNews