Tahukah Anda, Kontribusi Manufaktur Pernah Capai 30%? Ekonom Soroti Dampak Magang Temporer, Genjot Investasi Padat Karya Jadi Kunci

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai program magang nasional berdampak jangka pendek. Ia menekankan pentingnya genjot **investasi padat karya** untuk ciptakan lapangan kerja berkelanjutan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda, Kontribusi Manufaktur Pernah Capai 30%? Ekonom Soroti Dampak Magang Temporer, Genjot Investasi Padat Karya Jadi Kunci
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai program magang nasional berdampak jangka pendek. Ia menekankan pentingnya genjot **investasi padat karya** untuk ciptakan lapangan kerja berkelanjutan. (AntaraNews)

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti dampak program magang nasional yang dinilainya bersifat temporer terhadap perekonomian Indonesia. Penilaian ini disampaikan Josua dalam acara Wealth Wisdom 2025 di Jakarta, pada hari Selasa. Menurutnya, program magang belum mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru secara optimal.

Oleh karena itu, Josua Pardede menegaskan bahwa pemerintah perlu menggenjot investasi untuk menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan dan lebih luas. Investasi yang dimaksud harus diarahkan pada sektor-sektor yang mampu menyerap banyak tenaga kerja, bukan hanya berfokus pada dampak jangka pendek.

Peningkatan investasi domestik, terutama investasi swasta yang masuk ke sektor padat karya, menjadi kunci utama penciptaan lapangan kerja yang signifikan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat produktivitas sektor manufaktur dan industri lain yang memiliki potensi besar dalam penyerapan tenaga kerja.

Investasi Padat Karya: Solusi Jangka Panjang Penyerapan Tenaga Kerja

Josua Pardede menjelaskan bahwa sifat temporer program magang nasional disebabkan karena dampaknya belum bisa meng-capture seluruh angkatan kerja baru. "Sifatnya temporer karena dampaknya belum bisa meng-capture seluruh angkatan kerja baru, sehingga yang diharapkan adalah pemerintah bisa mendukung investasi untuk bisa mendorong penyerapan tenaga kerja," kata Josua.

Investasi yang masuk diyakini akan mendorong penciptaan lapangan kerja secara signifikan sekaligus memperkuat produktivitas sektor manufaktur dan industri lain yang menyerap banyak tenaga kerja. Meskipun investasi terus tumbuh dari tahun ke tahun, Josua menyarankan agar pemerintah mengarahkan kembali produktivitas ekonomi ke sektor padat karya.

Sejak krisis finansial Asia 1997, Josua mencatat adanya pergeseran investasi di Indonesia yang cenderung ke sektor padat modal dan komoditas. Akibatnya, investasi di sektor manufaktur padat karya mengalami penurunan tajam, yang berdampak pada kontribusi sektor ini terhadap perekonomian.

Josua Pardede menambahkan, "Kita melupakan investasi di padat karya seperti manufaktur. Sehingga kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian bisa mendekati 30 persen, saat ini kurang dari 19 persen. Jadi inilah yang sebenarnya yang harus kita putar balik."

Reformasi Struktural dan Kepastian Hukum Dorong Iklim Investasi

Untuk mengembalikan fokus investasi ke sektor padat karya, pemerintah perlu menjaga kepercayaan pelaku usaha melalui kepastian hukum, percepatan perizinan, dan penegakan aturan. Hal ini krusial agar investor bersedia menanamkan modal jangka panjang di Indonesia. Dalam konteks ini, reformasi struktural menjadi fondasi penting.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Peraturan ini diharapkan dapat mempercepat proses perizinan berusaha dan mempermudah investor. "PP 28/2025 itu penting sekali. Dan juga bagaimana dari sisi pemerintah bisa meyakinkan investor," ujar Josua.

Selain itu, kehadiran Danantara juga diharapkan menjadi katalis (crowding in) bagi sektor-sektor swasta untuk melakukan investasi. Ini akan memberikan dampak positif yang lebih luas dan mendorong penyerapan tenaga kerja. "Ekspektasi kita semua, Danantara juga bisa mengangkat investasi ke depannya, karena mulai kerja sama dengan beberapa SWF negara lain seperti Qatar Investment Authority dan beberapa pipeline ke depannya ini pun diharapkan bisa menjadi crowding in," pungkas Josua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi