Rumah Energi dan Insight Investment Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House di Sukabumi, Tekan Emisi 2,5 Ton CO2 per Tahun

Inisiatif ini bertujuan tidak hanya menyediakan infrastruktur energi bersih, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Rumah Energi dan Insight Investment Resmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House di Sukabumi, Tekan Emisi 2,5 Ton CO2 per Tahun
Yayasan Rumah Energi bersama PT Insight Investment Management meresmikan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House di Sukabumi, Jawa Barat, yang efektif menekan emisi CO2 dan mendorong ekonomi sirkular. (AntaraNews)

Yayasan Rumah Energi bersama PT Insight Investment Management telah meresmikan dua fasilitas inovatif di Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis ini. Fasilitas tersebut meliputi sebuah Fasilitas Biogas dan Rumah Pengering Berbasis Tenaga Surya (Solar Dryer House).

Peresmian ini merupakan bagian dari upaya kolaboratif untuk memperkuat model energi terbarukan berbasis komunitas, sekaligus menekan emisi karbon dioksida secara signifikan. Program ini didukung penuh oleh pendanaan dari Ford Foundation, dalam kerangka proyek Pro Women 3.

Inisiatif ini bertujuan tidak hanya menyediakan infrastruktur energi bersih, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat setempat. Masyarakat diajak memahami pentingnya energi terbarukan, pengelolaan sampah yang efektif, serta konsep ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Inovasi Energi Terbarukan untuk Lingkungan dan Ekonomi Lokal

Direktur Yayasan Rumah Energi, Sumanda Tondang, menegaskan bahwa biogas dan Solar Dryer House lebih dari sekadar infrastruktur fisik. Keduanya merupakan media pembelajaran krusial bagi masyarakat mengenai energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Keterlibatan aktif masyarakat dari perencanaan hingga pengelolaan akan menjamin dampak program yang lebih berkelanjutan.

Pengembangan fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Energi dan PT Insight Investment Management, dengan dukungan finansial dari Ford Foundation melalui proyek Pro Women 3. Perluasan program ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat model energi terbarukan yang berpusat pada komunitas.

Fasilitas biogas yang berlokasi di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, dirancang untuk mengolah limbah organik dapur dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemanfaatan ini tidak hanya mengurangi volume sampah organik, tetapi juga berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 2,5 ton setara karbon dioksida per tahun, sekaligus mengurangi ketergantungan warga pada LPG.

Selain menghasilkan energi bersih untuk memasak, residu dari proses biogas dapat diolah lebih lanjut. Residu ini diubah menjadi pupuk cair dan padat yang sangat berguna untuk mendukung praktik pertanian ramah lingkungan di tingkat desa, menciptakan siklus nutrisi yang berkelanjutan.

Solar Dryer House: Solusi Pascapanen Berbasis Tenaga Surya

Di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Rumah Energi mengembangkan Solar Dryer House untuk mengatasi masalah pengeringan pascapanen. Selama ini, petani di wilayah tersebut masih mengandalkan penjemuran terbuka untuk komoditas seperti bawang merah dan padi, yang rentan terhadap cuaca dan kualitas hasil.

Teknologi pengering berbasis energi matahari ini dirancang khusus untuk menjaga kestabilan suhu selama proses pengeringan. Hal ini memastikan kualitas hasil panen menjadi lebih merata dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran, meningkatkan pendapatan petani.

Bupati Sukabumi Asep Japar, yang turut meresmikan fasilitas ini, menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah. Beliau mengapresiasi pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat yang dinilai mampu memberikan manfaat ganda, baik bagi lingkungan maupun peningkatan ekonomi warga desa.

“Pemanfaatan Fasilitas Biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih dapat lahir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta kesejahteraan warga,” ujar Asep Japar. Model kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah lain sebagai bagian integral dari pembangunan rendah karbon berbasis desa.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi