Mengenal Couch Economy, Tren Hemat yang Justru Bisa Bikin Boncos

Couch economy menjadi tren menghabiskan waktu dan uang dari rumah. Namun, kemudahan transaksi digital justru bisa memicu perilaku konsumtif dan membuat pengeluaran membengkak.

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi- Reporter
Mengenal Couch Economy, Tren Hemat yang Justru Bisa Bikin Boncos
Ilustrasi Sofa Recliner Electric untuk Rileksasi Optimal/AI Generated

Menghabiskan waktu di rumah kini tidak selalu berarti menghemat pengeluaran. Kebiasaan menikmati hiburan dari rumah, pesan makanan melalui aplikasi, hingga berbelanja online menjadi bagian dari tren yang dikenal dengan istilah couch economy.

Meski terlihat lebih praktis dan ekonomis, ternyata kebiasaan ini justru dapat menjadikan seseorang semakin boncos jika tak dibarengi dengan pengendalian pengeluaran.

Dilansir dari Yahoo Finance, Minggu (8/11), tren ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak selalu mengurangi pengeluaran untuk hiburan dan kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, mereka hanya memindahkan alokasi uang dari aktivitas di luar rumah ke berbagai layanan digital. Kebiasaan tersebut semakin didukung oleh perkembangan teknologi. Kini, berbagai kebutuhan dapat dipenuhi hanya melalui ponsel tanpa harus meninggalkan rumah.

Mengapa Couch Economy Semakin Diminati?

Salah satu faktor yang mendorong tren couch economy adalah keinginan masyarakat untuk mendapatkan kenyamanan dan kepraktisan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Menghabiskan waktu di rumah dianggap lebih mudah dibandingkan harus bepergian, menghadapi kemacetan, atau mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi.

Selain itu, kenaikan biaya hidup juga membuat sebagian masyarakat lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran. Menikmati hiburan dari rumah dapat menjadi alternatif untuk mengurangi biaya aktivitas di luar, seperti makan di restoran, menonton film di bioskop, atau bepergian.

Perkembangan layanan digital turut memperkuat kebiasaan tersebut. Berbagai platform menyediakan kemudahan akses terhadap hiburan, belanja, dan kebutuhan sehari-hari sehingga masyarakat semakin terbiasa melakukan transaksi dari rumah.

Benarkah Couch Economy Bisa Menghemat Pengeluaran?

Meski terlihat lebih hemat, couch economy tidak selalu membuat seseorang mengeluarkan uang lebih sedikit. Sebab, kemudahan bertransaksi dari rumah justru dapat mendorong perilaku konsumtif.

Sebagai contoh, seseorang mungkin memilih tidak makan di restoran karena ingin menghemat uang. Namun, uang tersebut justru digunakan untuk memesan makanan melalui aplikasi, membeli minuman, atau menambahkan camilan karena tergoda berbagai promo. Belum lagi adanya biaya tambahan yang perlu diperhatikan, seperti biaya pengiriman, biaya layanan, tip pengemudi, hingga biaya berlangganan platform streaming.

Pengeluaran tersebut mungkin terlihat kecil jika dilakukan sesekali. Namun, jika menjadi kebiasaan sehari-hari, akumulasinya dapat membebani anggaran bulanan. Selain itu, kemudahan berbelanja melalui ponsel juga membuat seseorang lebih mudah membeli barang tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Kemudahan Transaksi Digital Bisa Picu Impulsive Buying

Salah satu alasan couch economy berpotensi membuat seseorang lebih boros adalah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong pembelian impulsif. Ketika berbelanja secara langsung, seseorang biasanya perlu meluangkan waktu untuk pergi ke toko, memilih barang, dan melakukan pembayaran. Proses tersebut memberikan kesempatan untuk mempertimbangkan kembali keputusan pembelian.

Sebaliknya, belanja online memungkinkan seseorang membeli barang hanya dengan beberapa kali klik. Berbagai promosi, diskon, gratis ongkir, hingga rekomendasi produk juga dapat memancing keinginan untuk berbelanja.

Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah melakukan pembelian berulang tanpa menyadari jumlah uang yang telah dihabiskan. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran semakin besar, mengganggu anggaran bulanan, bahkan berpotensi menimbulkan masalah keuangan.

3 Tips Mengendalikan Pengeluaran Couch Economy

Agar kebiasaan menikmati hiburan dan memenuhi kebutuhan dari rumah tidak semakin membuat keuangan boros, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Jangan Simpan Informasi Pembayaran di Aplikasi (Autodebet)

Menyimpan informasi kartu debit atau kredit di ponsel dan aplikasi belanja memang membuat transaksi lebih cepat. Namun, kemudahan tersebut juga dapat mendorong seseorang membeli barang tanpa berpikir panjang.

Menghapus informasi pembayaran yang tersimpan dapat menjadi cara untuk menambahkan tahapan sebelum menyelesaikan transaksi. Dengan begitu, seseorang memiliki waktu untuk mempertimbangkan kembali apakah barang yang dibeli benar-benar dibutuhkan.

2. Hapus Aplikasi Belanja yang Tak Diperlukan

Menghapus aplikasi belanja dari ponsel dapat membantu mengurangi godaan membeli barang secara impulsif. Jika masih membutuhkan aplikasi tersebut untuk membeli kebutuhan sehari-hari, batasi waktu penggunaannya. Misalnya, hanya membuka aplikasi ketika memang ingin membeli barang tertentu. Selain itu, periksa kembali barang-barang yang sudah dimiliki agar tidak membeli produk serupa yang sebenarnya masih tersedia di rumah.

3. Terapkan Aturan Menunggu 24 Jam

Salah satu cara sederhana untuk menghindari pembelian impulsif adalah memberikan jeda sebelum memutuskan bertransaksi. Ketika tertarik membeli sesuatu yang tidak direncanakan, cobalah menunggu setidaknya 24 jam sebelum melakukan pembayaran.

Setelah itu, pertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan dan apakah harganya sesuai dengan anggaran. Jika keinginan membeli sudah hilang, kemungkinan keputusan tersebut hanya didorong oleh keinginan sesaat. Namun, jika masih membutuhkannya setelah 24 jam dan sesuai anggaran, pembelian dapat dilakukan dengan pertimbangan lebih matang.

Rekomendasi