Penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117 resmi merombak total lanskap industri asuransi nasional. Standar anyar ini memaksa perusahaan asuransi menghentikan kebiasaan lama yang hanya mengejar pertumbuhan volume premi semata, lalu mengalihkan fokus pada kualitas portofolio dan profitabilitas jangka panjang.
Di bawah aturan baru ini, penerimaan premi tidak bisa lagi serta-merta diakui sebagai pendapatan akuntansi di periode berjalan. Pengakuan pendapatan dan laba wajib dicatat bertahap sesuai pola pemberian jasa pertanggungan selama masa kontrak.
Fenomena pergeseran peta jalan bisnis ini menjadi pembahasan utama dalam Indonesia Re Broker Re’s Forum 2026 yang digelar PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) di Bali. Forum tahunan ini mengumpulkan para pelaku industri untuk membedah tantangan mitigasi risiko, kepatuhan regulasi, hingga penguatan kerja sama antara perusahaan asuransi dan pialang.
Direktur Teknik Indonesia Re, Delil Khairat, menegaskan bahwa PSAK 117 menuntut industri untuk mengukur kesehatan bisnis secara menyeluruh dalam jangka panjang.
"Dampak ekonomi dan periode pengakuan bisnis asuransi itu bisa berlangsung 5 sampai 6 tahun, bahkan pada portofolio tertentu bisa lebih panjang. Artinya, perusahaan dituntut mampu memproyeksikan kinerja bisnis selama rentang waktu tersebut, termasuk potensi untung dan ruginya," jelas Delil dikutip Senin (26/10).
Implikasinya, evaluasi portofolio kini menjadi krusial. Perusahaan tak bisa lagi sekadar membanggakan besarnya nilai penutupan polis, melainkan harus membedah profil risiko dan prospek hasil keuangan dari tiap kontrak yang ditanggung.
Advertisement
Peran Strategis Reasuransi dalam Mitigasi Risiko
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529130/original/070504200_1773306959-Depositphotos_241371354_L.jpg)
Di tengah ketatnya standar pelaporan baru ini, peran reasuransi menjadi kian vital. Indonesia Re memosisikan diri untuk membantu perusahaan asuransi mengelola akumulasi eksposur risiko, menjaga kapasitas penutupan, serta membentengi struktur keuangan dari potensi klaim besar.
Namun, keputusan pengalihan risiko kini membutuhkan transparansi data yang jauh lebih presisi. Kedua belah pihak harus memahami betul detail portofolio, ketentuan pertanggungan, hingga proyeksi risiko klaim.
"PSAK 117 mengubah cara kita mengelola dan memonitor portofolio. Setiap lini bisnis harus dievaluasi lebih cermat untuk memastikan kontribusinya terhadap keberlanjutan (sustainability) perusahaan," tambah Delil.
Pada akhirnya, penyesuaian PSAK 117 bukan sekadar urusan administrasi akuntansi di meja keuangan, melainkan kompas baru bagi manajemen dalam mengambil keputusan bisnis yang lebih terukur, transparan, dan tahan banting.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543669/original/030456400_1775032500-Depositphotos_111790022_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381638/original/054687100_1792842963-WhatsApp_Image_2026-10-24_at_18.52.44.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5150595/original/014973300_1741079282-WhatsApp_Image_2025-03-04_at_13.56.35.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382387/original/041144500_1792992786-IMG_20261025_151514.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5380585/original/046144400_1760427104-AP25286765038800.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376200/original/084715700_1792312230-AP26290458830942.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382250/original/082581800_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.12.jpeg)