Memberdayakan Pesisir NTB lewat Sekolah Alam Berbasis Mangrove

Merangkul 135 penerima manfaat, program ini menjadikan alam terbuka sebagai media pembelajaran utama.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Memberdayakan Pesisir NTB lewat Sekolah Alam Berbasis Mangrove
Memberdayakan Pesisir NTB lewat Sekolah Alam Berbasis Mangrove

Upaya pemberdayaan masyarakat pesisir terus diperkuat oleh PT Pertamina Patra Niaga lewat Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat. Inisiatif yang diresmikan sejak 2024 ini ditinjau langsung dalam agenda kunjungan media pada Selasa (8/10/2026) untuk melihat dari dekat integrasi antara pendidikan, kelestarian ekosistem, dan penguatan ekonomi lokal.

Merangkul 135 penerima manfaat, program ini menjadikan alam terbuka sebagai media pembelajaran utama. Anak-anak di kawasan pesisir tidak sekadar duduk di dalam kelas, melainkan diajak mengenali ekosistem mangrove, mengasah kreativitas, memupuk kepedulian lingkungan, hingga memahami potensi ekonomi di daerah asal mereka.

VP Community Involvement Development PT Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan dampak berkelanjutan melalui peningkatan akses pendidikan dan potensi warga.

"Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas, dan kemandirian anak-anak. Kami percaya bahwa pemberdayaan yang mengintegrasikan pendidikan, ekologi, dan ekonomi dapat menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat pesisir," ujar Dian.

Dampak Ekologi, Pendidikan, dan Ekonomi

Pengembangan kawasan ini bertumpu pada pendekatan 3E (Ekologi, Edukasi, dan Ekonomi). Lingkungan pesisir, bakau, dan area terbuka dimanfaatkan secara aktif sebagai sarana belajar interaktif—mulai dari aksi menanam dan merawat mangrove, edukasi ekosistem, permainan tradisional, hingga pengenalan peluang ekonomi daerah. 

Dampak nyata dari program ini tecermin dalam tiga aspek utama:

  • Sektor Ekologi: Mendorong penanaman 4.500 bibit mangrove untuk pemulihan area pesisir, yang berpotensi menyerap karbon hingga 80,763 ton CO₂ per hektare.
  • Sektor Pendidikan: Melibatkan 1.772 peserta dalam 11 agenda pembelajaran pesisir, serta mencatatkan 860 kunjungan tahunan ke destinasi edukasi mangrove dan pesisir.
  • Sektor Ekonomi: Menghasilkan potensi pendapatan tambahan bagi kelompok warga berbasis potensi lokal sebesar Rp24.000.000 per tahun, ditambah penghematan biaya energi Rp6.600.000 per tahun berkat pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Peta Jalan Pengembangan dan Sosok di Balik Gerakan

Pemberdayaan ini dirancang secara bertahap. Pada 2024, fokus diawali dengan pembentukan kelompok, pembangunan Rumah Literasi, serta benchmarking ke Anak Alam Learning House di Sumbawa, NTB. Masuk tahun 2025, penyusunan Kurikulum 3E dirampungkan sebagai pedoman belajar. Selanjutnya pada 2026, dikembangkan modul Pertakid sebagai media edukasi khusus bagi para siswa.

Kehadiran program ini tak lepas dari peran Zahit Idris, pendiri Komunitas Sanggar Belajar Jalan Pulang yang menginisiasi gerakan pendidikan anak di Desa Cendi Manik sejak 2022. Berawal dari keprihatinan atas maraknya anak putus sekolah, kegiatan belajar tersebut dulunya hanya diampu untuk delapan anak dan menumpang di musala tanpa kurikulum resmi maupun kelas permanen.

"Sanggar Belajar Jalan Pulang hadir untuk dapat menjadi ruang belajar dan tempat pulang bagi anak-anak pesisir di Cendi Manik yang kurang memiliki akses pendidikan. Melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir, anak-anak dapat belajar menjaga lingkungan, mengembangkan kreativitas dan diri, serta memperluas wawasan tentang alam," ujar Zahit.

Melalui sinergi Sekolah Alam Anak Pesisir ini, Pertamina Patra Niaga terus menggalang partisipasi aktif masyarakat demi mengoptimalkan potensi lokal, meluaskan jangkauan pendidikan, dan menjaga kelestarian kawasan pesisir.

Rekomendasi