Harga BBM Terancam Naik Dipicu Rencana Trump Setop Ekspor Solar

Trump mempertimbangkan pembatasan ekspor solar. Pelaku industri mengingatkan risiko lonjakan harga BBM dan gangguan pasokan. Ini peringatan mereka.

Arthur Gideon
Oleh Arthur Gideon - Reporter
Harga BBM Terancam Naik Dipicu Rencana Trump Setop Ekspor Solar
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Industri minyak memperingatkan rencana pelarangan ekspor solar dari Amerika Serikat bisa menjadi bumerang dan memperburuk krisis bahan bakar global. Peringatan ini muncul ketika Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan pembatasan ekspor untuk menekan harga BBM, dikutip dari CNBC.

Tekanan politik terhadap Trump meningkat seiring kenaikan harga BBM menjelang pemilu paruh waktu pada November. Ia sebelumnya menyatakan dukungan terhadap penghentian ekspor solar.

“Saya sudah mengatakan, mari kita jangan mengirim solar ke luar negeri. Kita memproduksi banyak solar,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari CNBC, Kamis (24/9/2026). “Saya sudah meminta hal itu kepada orang-orang saya. Saya sudah membicarakannya,” lanjutnya.

Rencana Pembatasan Ekspor Trump

Saham perusahaan pengolahan minyak AS seperti Valero, Marathon Petroleum, dan Phillips 66 melemah pada Rabu setelah Politico melaporkan pemerintahan Trump tengah menyiapkan rencana pelarangan ekspor solar selama 90 hari.

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintah lebih mempertimbangkan pembatasan ekspor ketimbang larangan total.

“Kami berusaha menghindari kebijakan pemerintah yang terlalu menyeluruh, dengan memahami kompleksitas sektor pengolahan minyak,” kata Wright.

Menurut Wright, larangan ekspor dapat membuat harga bensin “lebih mahal seketika”. Ia menilai kilang berpotensi mengurangi produksi, termasuk bensin, ketika tangki penyimpanan penuh.

Eksekutif industri minyak mengatakan kepada CNBC bahwa pelarangan ekspor solar dapat menaikkan harga bahan bakar hingga 30 sen per galon.

Patrick De Haan, kepala analisis minyak di GasBuddy, juga memperingatkan harga bensin dapat mendekati rekor bila larangan ekspor diterapkan.

Wilayah Timur Laut AS Diprediksi Minim Manfaat

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy sekaligus mantan penasihat energi Presiden George W. Bush, menilai larangan ekspor kemungkinan hanya memberi penurunan harga sementara di wilayah tertentu, terutama Gulf Coast dan Midwest bagian bawah yang memiliki kapasitas pengolahan besar.

Adapun wilayah Timur Laut AS diperkirakan tidak banyak mendapat manfaat karena lebih bergantung pada impor. Setelah penurunan sementara, harga justru dapat kembali naik karena kilang mengurangi produksi.

“Harga akan melonjak secara global,” kata McNally.

Ia juga memperingatkan potensi pembalasan dari mitra dagang. AS mengekspor solar ke Eropa, sementara Eropa mengekspor bensin ke AS. Jika Eropa melarang ekspor bensin ke AS, wilayah Timur Laut yang bergantung pada impor akan terdampak.

Tekanan politik terhadap Trump turut meninggi. Harga solar rata-rata AS mencapai US$ 6,52 per galon pada Rabu, hampir US$ 3 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga bensin mencapai US$ 4,47 per galon.

“Ini adalah kepanikan. Pemilu kali ini sulit dan secara historis harga solar sedang meningkat. Ini benar-benar kepanikan,” ujar McNally.

Hingga kini, belum jelas keputusan akhir Trump. Pemerintah AS masih mengkaji kelayakan larangan ekspor, baik penuh maupun sebagian. Salah satu penyebab tingginya harga solar saat ini adalah larangan ekspor Rusia setelah serangan Ukraina terhadap kilang minyaknya.

Rekomendasi