Beras Premium 5 Kg Langka, Menteri Perdagangan Budi Santoso Beri Penjelasan

Menteri Perdagangan menanggapi kelangkaan beras premium 5 kg di ritel. Bulog diminta memperkuat pasokan BFood ke Aprindo, termasuk varian medium.

Thurfah Mahira Ahnaf
Oleh Thurfah Mahira Ahnaf - Reporter
Beras Premium 5 Kg Langka, Menteri Perdagangan Budi Santoso Beri Penjelasan
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/3/2026). Mendag akan memanggil para pengusaha guna membahas dampak perang Iran-Amerika Serikat. (Liputan6.com/Arief)

Menteri Perdagangan Budi Santoso menanggapi kelangkaan beras premium kemasan 5 kg di sejumlah ritel modern dengan mendorong Perum Bulog memperkuat pasokan, khususnya merek BFood, ke jaringan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Ia menyebut Kementerian Perdagangan terus berkoordinasi dengan Bulog dan Aprindo agar stok beras Bulog segera mengisi rak-rak ritel dan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Pernyataan itu disampaikan Budi di sela acara Peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan Menuju Indonesia Emas 2045 dan Trade Corporate University Kemendag, Rabu (2/9/2026).

Mengenai peluang masuknya beras Bulog ke jaringan ritel anggota Aprindo, Budi menegaskan produk tersebut sejatinya sudah tersedia. "Sekarang kan ada beras premium juga dari Bulog, namanya BFood," kata Budi.

Budi menambahkan Kemendag mendorong agar beras Bulog, termasuk lini produk BFood (BeFood), dipasok lebih masif untuk mengatasi langkanya beras premium 5 kg. "Aprindo kan yang jualan ya, jadi kita koordinasi terus justru supaya Bulog bisa memasok ke Aprindo," jelasnya.

Selain varian premium, ia menyebut Kemendag bersama Bulog tengah menyiapkan beras medium untuk segera disalurkan ke ritel modern.

BPS: Panen Menyusut dan Distribusi Tersendat Angkat Harga Beras Agustus 2026

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga beras, baik kualitas medium maupun premium, naik pada Agustus 2026. Penurunan potensi luas panen dan hambatan distribusi ke pasar disebut menjadi pendorong utama kenaikan tersebut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan inflasi beras terjadi secara bulanan (month-to-month/mtm) dan tahunan (year-on-year/yoy) pada periode itu. "Inflasi yang terjadi pada beras pada Agustus ini tercermin dari penurunan potensi luas panen dan produksi beras pada Agustus 2026," kata Ateng dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik, Selasa (1/9/2026).

Ia menegaskan faktor nonproduksi juga berperan. "Kendati demikian, inflasi beras tidak semata-mata disebabkan oleh produksi padi di lapangan, tetapi juga dipengaruhi terutama oleh faktor distribusi beras ke pasar," imbuhnya.

Di tingkat eceran, BPS mencatat inflasi beras 0,42% mtm pada Agustus 2026 dan 2,77% secara yoy.

"Secara historis, bulan Agustus mulai memasuki fase transisi setelah melewati puncak panen raya. Oleh karena itu, kami mencatat kondisi beras mengalami inflasi pada Agustus," terang Ateng.

Di Penggilingan, Kenaikan Beras Premium Lebih Tajam

BPS mencatat rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Agustus 2026 naik 1,32% mtm dan 5,52% yoy.

Jika dirinci menurut kualitas di penggilingan, beras premium naik 1,22% mtm dan 10,07% yoy, sedangkan beras medium naik 1,48% mtm dan 4,03% yoy.

"Jadi secara year-on-year, kenaikan harga beras premium memang lebih tinggi dibandingkan dengan beras medium," jelas Ateng.

Rekomendasi