Pacu Ekspor Olahan Laut, Kemenperin Genjot Pasokan dari Hulu

Faisol menilai Indonesia menyimpan potensi yang sangat besar dalam ekspor hasil laut.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Pacu Ekspor Olahan Laut, Kemenperin Genjot Pasokan dari Hulu
<p>Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/10/2025). (Liputan6.com/Winda)</p>

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengupayakan peningkatan daya saing industri pengolahan hasil perikanan nasional di pasar global. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah pembenahan dan penguatan pasokan bahan baku di sektor hulu.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza saat meninjau fasilitas pengolahan milik PT Bumi Menara Internusa (BMI) di Surabaya, Jawa Timur.

Faisol menilai Indonesia menyimpan potensi yang sangat besar dalam ekspor hasil laut, khususnya komoditas udang. Namun, Indonesia dinilai masih harus berbenah di sektor hulu agar tidak tertinggal dari negara produsen lain seperti Ekuador dan India.

Untuk memacu daya saing tersebut, Kemenperin mendorong industri memenuhi standar mutu, keterusuturan (traceability), dan aspek keberlanjutan. Langkah ini juga didukung inovasi penerapan teknologi rantai dingin (cold chain) serta penggunaan kemasan yang efisien.

"Tantangan kita harus bisa buat inline bahan baku dari hulu hingga ke proses pengolahan. Saat ini, kita masih kalah dari negara produsen udang, terutama budi daya udang. Kami minta, secara bersama-sama, memperbaiki teknis di hulu untuk bahan baku yang melimpah agar bisa diproses dengan cepat," tegas Faisol dikutip dari Antara, Jumat (28/8)

Dalam kunjungannya, Wamenperin melihat secara langsung alur produksi di pabrik, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan di ruangan pendingin (cold storage), hingga tahap pengemasan produk beku yang siap dikirim ke Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang.

Dukungan Kebijakan dan Strategi Bahan Baku PT BMI

 

Direktur PT BMI, Aris Utama, menyambut baik perhatian dan kebijakan pro-ekspor dari pemerintah. Pihaknya optimistis dukungan tersebut dapat membuka ruang bagi perusahaan untuk melipatgandakan kapasitas produksi.

"Saat ini kapasitas produksi mencapai 35 ribu ton per tahun dari tujuh pabrik BMI se-Indonesia. Kami mempekerjakan 15 ribu karyawan. Pabrik kami masih bisa meningkatkan produksi hingga 100 persen, karena saat ini kapasitas produksi 35 ribu ton hanya dari satu shift saja," ungkap Aris.

Guna menjaga pasokan bahan baku tetap segar dan berkualitas, PT BMI menjangkau hasil tangkapan hingga wilayah pelosok seperti Papua, Medan, dan Makassar. 

Tak hanya mengandalkan hasil laut domestik, PT BMI juga mengolah bahan baku impor seperti ikan dari Alaska untuk diproses menjadi produk siap saji yang kemudian diekspor kembali ke pasar internasional.

Mitra dengan Petambak Lokal

Sebagai perusahaan yang telah mengantongi berbagai izin dan sertifikasi keberlanjutan, PT BMI aktif bermitra dengan petambak lokal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lombok, Sumbawa, Jawa Barat, Sumatra bagian selatan, hingga Sulawesi.

Khusus komoditas rajungan, kerja sama dilakukan dengan para mitra di sentra produksi seperti Cirebon, Jawa Barat, melalui pembinaan kualitas secara berkala.

"Kami menjalin kemitraan dengan melakukan pembinaan untuk menjaga kualitas. Manfaatkan kemitraan itu untuk buka lapangan pekerjaan masyarakat setempat mengingat pasokan mayoritas dari daerah," pangkas Aris.

Saat ini, seluruh produk olahan PT BMI (100 persen) dialokasikan untuk pasar luar negeri. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan porsi mencapai 80 persen, diikuti Jepang, Eropa, dan Tiongkok. Dari total pengiriman tersebut, komoditas udang mendominasi hingga 70 persen, disusul gurita, ikan, dan rajungan.

Rekomendasi