Bursa Rais Aam Memanas, Cak Imin Kritik 5 Tahun Kepengurusan PBNU

Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN), KH Asep Saifuddin Chalim meminta KH Miftachul Akhyar tidak kembali maju sebagai calon Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Bursa Rais Aam Memanas, Cak Imin Kritik 5 Tahun Kepengurusan PBNU
Kiai Asep Saifudin Chalim.

Ketua Umum Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim meminta KH Miftachul Akhyar tidak kembali maju sebagai calon Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU.

Ketua Umum Pergunu ini pun mengaku memiliki kedekatan dengan Miftachul Akhyar. Bahkan, dia mengaku pernah mengajak Miftach masuk dalam struktur NU ketika dirinya menjabat Ketua PCNU Kota Surabaya pada 1995.

"Saya sebagai orang yang dekat dengan Kiai Miftah, dan pernah mengajak Kiai Miftah menjadi pengurus NU, yaitu menjadi Wakil Rais di cabang Kota Surabaya ketika saya menjadi ketua cabangnya dulu," ujar Kiai Asep.

Atas dasar hubungan tersebut, Kiai Asep justru meminta Miftach mempertimbangkan kembali pencalonannya sebagai Rais Aam. Menurut dia, posisi tersebut membutuhkan kapasitas dan kesiapan yang kuat.

"Saya merasa kasihan kepada beliau. Saya minta beliau untuk mundur dan jangan mencalonkan sebagai Rais Aam. Karena menurut saya, beliau tidak punya kapasitas untuk itu," kata dia.

Kiai Asep juga mengaitkan persoalan tersebut dengan marwah organisasi. Menurut kiai Asep, NU membutuhkan figur Rais Aam yang mampu menghadirkan keteduhan sekaligus kewibawaan di tengah jamaah.

"NU perlu kembali diagungkan marwahnya, dibesarkan marwahnya. Untuk itu harus di-handle oleh orang yang teduh, oleh orang yang berakhlak karimah, oleh orang yang haibah," kata Kiai Asep.

Sodorkan Nama KH Nurul Huda Jazuli

Kiai Asep menyodorkan nama KH Nurul Huda Jazuli. Dia menilai pengasuh Ponpes Al Falah Ploso tersebut memiliki karakter sepuh, teduh, dan damai yang dibutuhkan untuk memimpin Syuriyah PBNU. "Nah, beliau itu adalah Kiai Nurul Huda Jazuli, sepuh dan damai," kata dia.

Menurut dia, aspek fisik tidak semestinya menjadi pertimbangan utama dalam memilih Rais Aam. Ia lebih menekankan kualitas pemikiran, keteduhan, dan akhlak seorang ulama. "Walaupun beliau secara fisik mungkin kurang mumpuni misalnya, tetapi kan bukan itu. Pemikiran dan keteduhannya serta akhlaknya yang kita butuhkan," ujarnya.

Kiai Asep berharap kepemimpinan baru Syuriyah PBNU nantinya mampu menggerakkan kembali kiprah NU di tengah masyarakat, termasuk memperkuat peran ulama, ilmuwan, birokrat, pengusaha, dan profesional untuk kepentingan rakyat.

Terpisah, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meminta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menjadi momentum evaluasi terhadap perjalanan organisasi selama lima tahun terakhir. Dia menilai persoalan yang mengganggu ukhuwah nahdliyah tidak boleh kembali terulang.

Cak Imin.
Cak Imin.

Respons Cak Imin

Cak Imin mengatakan, kekuatan NU hanya dapat bertahan apabila organisasi memiliki sistem yang mandiri dan tidak bergantung kepada pihak mana pun. Menurut dia, kemandirian tersebut membutuhkan soliditas internal dan ukhuwah nahdliyah yang kuat.

"Kita mengetuk kesadaran para pimpinan NU. Tidak ada jalan lain agar kekuatan NU ini tidak punah kecuali NU memiliki sistem yang mandiri, tidak bergantung kepada siapa pun," kata Cak Imin.

Menurut Cak Imin, perjalanan NU selama lima tahun terakhir harus menjadi bahan evaluasi serius. Ia menilai konflik internal yang terjadi telah berdampak terhadap hubungan antarelemen organisasi dan berpotensi melemahkan kekuatan sosial serta ekonomi NU.

"Kegagalan lima tahun terakhir ini merusak ukhuwah nahdliyah, ukhuwah yang merekatkan potensi-potensi agar kemandirian dan kekuatan sosial ekonomi NU bisa terjaga," ujar Cak Imin.

Cak Imin menegaskan, Muktamar merupakan forum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan langkah perbaikan ke depan. Karena itu, berbagai persoalan yang terjadi dalam periode sebelumnya tidak boleh kembali terjadi.

"Karena Muktamar itu forum evaluasi. Evaluasi untuk apa? Tidak mengulangi kegagalan yang sama. Jangan jatuh di lubang yang sama, jangan mengulangi kesalahan yang sama," kata Cak Imin.

Dia menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya telah mencederai ukhuwah nahdliyah, mulai dari pemecatan hingga konflik internal yang berujung pada menurunnya kewibawaan para kiai.

"Karena kebesaran NU ini ternodai kalau ukhuwah nahdliyah selama lima tahun ini rusak, saling pecat, berantem, kharisma atau kewibawaan kiai hilang, saling mengancam tidak diberi SK," tutur Cak Imin.

Menurut dia, kondisi tersebut pada akhirnya merugikan NU karena dapat mengikis loyalitas para pengurus dan kader terhadap organisasi.

"Ini yang rugi adalah ketika semua loyalitas itu hilang. Nah, ketika loyalitas hilang itu, lalu kita bergantung kepada siapa?" ucap Cak Imin.

Karena itu, Cak Imin menilai penguatan kembali ukhuwah menjadi salah satu pekerjaan penting bagi kepemimpinan NU ke depan. Dia berharap para pimpinan NU mampu mengambil pelajaran dari berbagai persoalan yang terjadi selama lima tahun terakhir.

"Satu-satunya cara bangun ukhuwah, jangan mengulangi kesalahan," tegas Cak Imin.

Saat ditanya mengenai sosok calon yang dianggap sesuai untuk memimpin NU ke depan, Cak Imin memberikan jawaban singkat. Menurut dia, calon yang tepat adalah mereka yang mampu memastikan kesalahan masa lalu tidak kembali dilakukan.

"Yang sesuai itu ya jangan mengulangi yang salah," kata Cak Imin.

Rekomendasi