Sebuah makam diduga berasal dari abad 16 dibongkar warga Kelurahan Sembung, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung. Makam tersebut diketahui berada di lahan milik warga.
Tidak ada nama dalam batu nisan makam tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, batu nisan ini memiliki corak khas tembayat atau bayat, diduga berasal dari periode peralihan Hindu-Buddha pada awal penyebaran Islam sekitar abad ke-16.
Pemilik Tanah, Imam Mustajib mengatakan, makam kuno itu pertama kali ditemukan sekitar tahun 1995. Saat itu, terdapat pohon trembesi di pekarangan rumahnya ditebang dan di bawahnya terdapat makam kuno tersebut.
"Sampai sekarang tidak ada warga yang tahu tentang makam kuno ini. Warga juga tidak mengetahui siapa yang di makamkan di sini," ujar Imam.
Advertisement
Temuan Ahli
Proses pembongkaran makam kuno ini dilakukan setelah adanya proses musyawarah lintas sektor. Rencananya, jasad di dalam makam tersebut akan dipindahkan ke komplek pemakaman di Kelurahan Botoran. Namun hingga kedalaman 3 meter, warga belum menemukan jasad di makam itu. Sebagai simbol mereka lalu memindahkan sebagaian tanah untuk dikubur di pemakaman umum.
Sementara itu, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tulungagung, Haryadi mengaku sudah melakukan penelitian pribadi terkait makam kuno itu. Makam kuno tersebut memiliki nisan bergaya Tembayat atau Bayat.
Menilai dari karakteristik batu nisan itu, umumnya ditemukan pada komplek pemakaman dari periode Hindu-Buddha menuju masa awal penyebaran Islam. Haryadi menduga makam itu berasal dari abad ke-16 sampai abad ke-17 masehi.
"Bentuk nisan menyerupai kelir atau gunungan, dengan ciri khas bagian atas melebar dan memimpih membentuk siluet. Itu menyerupai gunungan dalam pewayangan atau bentuk kurawal makara kuno," kata Haryadi.
Selain itu, nisan pada makam tersebut dipahat langsung dari batu andesit dengan tekstur guratan kasar bekas pahatan manual. Bagian bawah nisan diduga bertumpu pada umpak batu persegi berundak yang meniru gaya arsitektur lapik arca atau bangunan suci masa pra-Islam.
"Nisan dengan langgam seperti ini merekam jejak akulturasi budaya yang kuat antara seni ukir masa klasik Majapahit/ Demak berpadu dengan makam kasepuhan Islam," pungkasnya.