PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menghadirkan terobosan pembiayaan demi memperluas akses masyarakat terhadap hunian vertikal di kawasan Transit Oriented Development (TOD) Manggarai, Jakarta. BTN menyiapkan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bersubsidi dengan masa tenor hingga 40 tahun dan suku bunga tetap 6 persen sampai lunas.
Skema pembiayaan ini meluncur seiring dimulainya pembangunan Hunian Manggarai yang digarap oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui anak usahanya, KAI Properti. Proyek strategis ini dirancang menghadirkan 3.784 unit hunian dalam delapan tower yang terhubung langsung dengan simpul transportasi utama di Jakarta.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan bahwa skema pembiayaan jangka panjang ini dirancang khusus untuk memberi kepastian cicilan terjangkau bagi masyarakat yang ingin tinggal di pusat kota.
"Memang mandat kita mengurus rumah rakyat. Skema KPR-nya ini kita coba yang 40 tahun dengan bunga 6 persen sampai lunas. Jadi bunganya tidak akan berubah," ujar Nixon di sela acara groundbreaking Hunian Manggarai, dikutip Selasa (25/8).
Bersamaan dengan groundbreaking, BTN menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama PT KA Properti Manajemen (KAI Properti). Penandatanganan dilakukan oleh Nixon bersama Direktur Utama KAI Properti Mohamad Ramdany sebagai bentuk pemantapan kolaborasi. Kemitraan ini mencakup pembiayaan, pendaftaran melalui kanal balé by BTN, hingga pemasaran bersama.
Nixon menuturkan bahwa keunggulan Hunian Manggarai terletak pada lokasinya yang strategis di pusat kota dengan harga yang dijaga agar tetap terjangkau di bawah Rp600 juta. "Tengah Jakarta, dekat transportasi, harga kita jagain di bawah Rp600 juta. Dapat subsidi suku bunga," kata Nixon.
Menurut Nixon, Hunian Manggarai diproyeksikan menjadi pilot project hunian vertikal terjangkau yang relevan bagi generasi muda dan masyarakat urban. Konsep ini nantinya berpotensi direplikasi di area stasiun lain serta kawasan LRT dan MRT.
"Di Jabodetabek stasiun itu banyak sekali. Kita akan mulai dari daerah-daerah stasiun kereta karena lebih mudah. Setelah itu mungkin kita akan bicara kawasan LRT dan MRT," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tren hunian ke depan akan bergeser ke vertikal seiring terbatasnya lahan rumah tapak (landed house) di kota-kota besar.
"Di Jakarta dan kota besar, mencari landed house sudah sulit dan terlalu mahal. Jadi kita harus realistis, seperti kota-kota lain di dunia, Jakarta pasti ke atas. Anak muda sekarang juga suka, yang penting di tengah kota dan sarana transportasinya dekat," kata Nixon.
Advertisement
Dua Skema Pembiayaan & Dukungan Pemerintah
Guna merangkul pasar yang lebih luas, BTN menyiapkan dua opsi pembiayaan, yakni Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) serta KPR non-subsidi dengan uang muka mulai 5 persen dan bunga promosi menarik.
Langkah BTN ini mendapat apresiasi dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait. Ia menilai rekam jejak BTN dalam penyaluran FLPP sangat dominan dan siap mendukung pengoptimalan aset-aset KAI lainnya.
"Untuk FLPP juara satu, saya nggak ada lawan BTN. Saya mohon Pak Nixon kita bangun lagi di tempat lain, supaya aset-aset kereta api bisa segera dibangunkan," ujar Ara.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo mengingatkan pentingnya tata kelola agar hunian bersubsidi ini tepat sasaran dan terhindar dari aksi spekulasi. “Kita harus adil, satu pelanggan, satu peminat, satu apartemen,” kata Hashim.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menjelaskan detail proyek Hunian Manggarai yang dibangun di atas lahan seluas 2,2 hektare. Proyek ini mencakup delapan tower setinggi 24 lantai, terbagi dalam Blok G (1.276 unit) dan Blok F (2.508 unit), serta dilengkapi 150 unit area ritel. Pilihan unit bervariasi mulai tipe studio 28 hingga tipe 52 (3 kamar tidur) dengan target masa konstruksi sekitar 18 bulan.