Membedah Penyebab 8 BUMN Bangkrut

Terlilit utang hingga tergilas zaman! Ini dia profil 8 BUMN legendaris yang resmi bangkrut dan dibubarkan pemerintah. Apa saja penyebab utamanya?

Merdeka.com
Oleh Merdeka.com - Reporter
Membedah Penyebab 8 BUMN Bangkrut
<p>Gedung Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)</p>

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) secara bertahap telah membubarkan sejumlah perusahaan pelat merah yang dinilai sudah tidak lagi memiliki nilai ekonomi, terlilit utang besar, serta tidak beroperasi selama bertahun-tahun.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari transformasi untuk membersihkan portofolio negara dari perusahaan yang terus membebani keuangan pemerintah.

Berikut profil dan rekam jejak penyebab bangkrutnya delapan BUMN yang sudah resmi dibubarkan:

1.⁠ ⁠Pabrik Kertas Leces (Persero)

Pabrik kertas yang sudah berdiri sejak tahun 1939 di Probolinggo ini merupakan pabrik kertas kedua yang didirikan belanda setelah PT Kertas Padalarang di Bandung. Pabrik ini sempat berjaya sebagai salah satu pabrik kertas tertua dan terbesar di Indonesia yang memproduksi kertas, koran, kertas tulis, hingga tisu.

Perusahaan ini resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada tahun 2018 setelah gagal memenuhi kewajiban dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Kegagalan leces dipicu oleh ketidakmampuan bersaing dengan industri swasta yang lebih modern, beban utang yang menumpuk, serta terhentinya operasional pabrik karena pasokan gas dan listrik yang diputus akibat menunggak tagihan.

2.⁠ ⁠PT Industri Sandang Nusantara (Persero) / ISN

Dibentuk pada tahun 1961 untuk memenuhi kebutuhan sandang nasional. ISN membawahi beberapa pabrik pemintalan benang dan penenunan yang tersebar di wilayah Jawa dan Sulawesi.

ISN kehilangan taji akibat serbuan produk tekstil impor ilegal dan produk murah dari luar negeri (terutama China) yang memukul pasar domestik. Teknologi mesin yang usang membuat biaya produksi membengkak dan tidak efisien, ditambah manajemen yang kurang adaptif, membuat perusahaan ini mengalami kerugian menahun hingga akhirnya pada tahun 2023 diputuskan untuk dibubarkan.

3.⁠ ⁠PT Istaka Karya (Persero)

BUMN konstruksi yang didirikan pada tahun 1980 (awalnya bernama PT Indonesian Consortium of Construction Industries). Perusahaan ini terlibat dalam berbagai proyek infrastruktur nasional mulai dari jalan tol, jembatan, hingga gedung perkantoran.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat menyatakan Istaka Karya pailit pada tahun 2022. Masalah utama perusahaan ini adalah jeratan utang masa lalu yang sangat masif kepada vendor dan subkontraktor. Meskipun sempat mencoba bertahan melalui jalur restrukturisasi dan PKPU, arus kas perusahaan tetap tidak mampu menutup gunungan liabilitas yang melampaui asetnya.

4.⁠ ⁠PT Merpati Nusantara Airlines

Maskapai penerbangan nasional legendaris yang didirikan pada tahun 1962. Merpati berfokus pada penerbangan perintis untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil di seluruh pelosok nusantara.

Merpati secara resmi berhenti beroperasi sejak tahun 2014 akibat kesulitan keuangan yang ekstrem. Faktor utama kebangkrutannya adalah beban utang triliunan rupiah kepada penyedia avtur, sewa pesawat, dan asuransi. Selain itu, inefisiensi pengelolaan rute perintis yang minim profit serta salah urus (mismanagement) dalam pengadaan armada membuat maskapai ini tidak bisa diselamatkan lagi hingga status pailitnya diketok pada 2022.

5.⁠ ⁠PT Kertas Kraft Aceh (Persero) / KKA

Didirikan pada tahun 1983 di Lhokseumawe, Aceh, KKA adalah produsen kertas kantong semen berkualitas tinggi. Presiden Joko Widodo tercatat pernah bekerja di perusahaan ini pada awal karirnya.

Pabrik KKA sudah berhenti beroperasi total sejak tahun 2008. Alasan utamanya adalah kelangkaan bahan baku berupa gas dan kayu pinus pasca-konflik Aceh serta masalah kelestarian hutan. Tanpa pasokan energi dan bahan baku yang stabil, pabrik tidak dapat berproduksi secara ekonomis, meninggalkan utang dan fasilitas pabrik yang terbengkalai.

​6. PT Industri Gelas (Persero) / Iglas​

Didirikan pada tahun 1956 di Surabaya, Jawa Timur. Iglas berfokus pada produksi kemasan gelas, terutama botol untuk industri minuman bersoda, bir, dan farmasi.

Iglas tergilas zaman karena terjadinya pergeseran tren pasar global yang beralih dari botol kaca ke kemasan plastik (PET) dan kaleng yang lebih ringan dan murah. Ketika pelanggan-pelanggan besar mereka memutus kontrak, pendapatan Iglas anjlok drastis sementara biaya perawatan pabrik peleburan gelas sangat tinggi. Kondisi ini membuat perusahaan tidak beroperasi sejak tahun 2015 sebelum akhirnya resmi dibubarkan.

7. PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (Persero) / PANN

Didirikan pada tahun 1974 dengan bisnis inti di bidang pembiayaan (leasing) kapal laut untuk mendukung industri maritim dan armada niaga nasional.

PT PANN terjebak dalam diversifikasi bisnis yang melenceng jauh dari core business-nya, seperti masuk ke bisnis perhotelan dan pembiayaan pesawat udara. Salah satu beban terberatnya adalah utang dari re-lending agreement (penerusan pinjaman luar negeri) masa lalu untuk pengadaan armada yang gagal menghasilkan profit sebanding. Akibatnya, ekuitas perusahaan menjadi negatif dan operasionalnya mati suri.

​8. PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) / DPS

Perusahaan galangan kapal nasional yang berbasis di Surabaya, didirikan sejak tahun 1910 pada masa kolonial Belanda dengan nama NV Droogdok Maatschappij Soerabaja. Fokus utamanya adalah perbaikan, perawatan, dan pembangunan kapal.

DPS menderita kerugian finansial kronis akibat produktivitas yang menurun, ketatnya persaingan dengan galangan kapal swasta, serta minimnya modernisasi fasilitas dok. Di samping itu, perusahaan terjerat beban utang operasional dan sanksi denda keterlambatan penyelesaian proyek kapal pesanan. Karena tidak mampu lagi menutup biaya operasional harian dan membayar kewajiban keuangan, BUMN ini akhirnya masuk dalam daftar likuidasi pemerintah.

Likuidasi delapan BUMN ini menjadi pelajaran berharga bagi tata kelola perusahaan negara. Mayoritas kebangkrutan dipicu oleh kombinasi klasik: ketidakmampuan beradaptasi dengan disrupsi pasar, beban utang masa lalu yang tidak terkendali, serta inefisiensi operasional akibat teknologi yang usang.

Reporter Magang: Hanan Mahira Amani

Rekomendasi