Jasa Marga Raup Pendapatan Rp5,1 Triliun di Kuartal I-2026, Ini Penyumbang Terbesar

Capaian ini didukung penuh oleh kontribusi Pendapatan Tol senilai Rp4,7 triliun serta Pendapatan Usaha Lain sebesar Rp397,6 miIiar.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Jasa Marga Raup Pendapatan Rp5,1 Triliun di Kuartal I-2026, Ini Penyumbang Terbesar
Tol Jasa Marga. (Istimewa)

PT Jasa Marga (Persero) Tbk membukukan kinerja keuangan positif pada awal tahun 2026. Pada Kuartal I 2026, emiten pengembang dan operator jalan tol terbesar di Indonesia ini mencatatkan Pendapatan Usaha sebesar Rp5,1 triliun, atau tumbuh 10,4 persen dibandingkan dengan Kuartal I Tahun 2025.

Capaian ini didukung penuh oleh kontribusi Pendapatan Tol senilai Rp4,7 triliun serta Pendapatan Usaha Lain sebesar Rp397,6 miIiar, yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 9,4 persen dan 24,4 persen dari periode sebelumnya.

Di samping itu, EBITDA Perseroan tercatat kuat sebesar Rp3,4 triliun, meningkat 10,7 persen secara year-on-year dengan margin EBITDA yang terjaga ketat di level 66,1 persen.

Pertumbuhan kinerja keuangan berjalan beriringan dengan langkah Jasa Marga dalam memperkuat transformasi bisnis untuk menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Selaras dengan arah transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia, Jasa Marga mengakselerasi pergeseran strategi dari orientasi pertumbuhan usaha berbasis infrastruktur (growth-oriented) menuju penciptaan nilai berkelanjutan (value-oriented).

Transformasi tersebut dijalankan untuk memastikan seluruh aset, layanan, dan jaringan jalan tol Jasa Marga Group tidak hanya mendukung pertumbuhan perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat yang semakin luas bagi pengguna jalan, masyarakat, investor, dunia usaha, dan negara.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengatakan bahwa transformasi menjadi fondasi perusahaan dalam memperkuat daya saing melalui tata kelola yang baik, inovasi, digitalisasi, pengembangan kapabilitas organisasi, serta peningkatan kualitas pelayanan.

"Keberhasilan perusahaan tidak lagi hanya diukur dari besarnya aset atau panjang jalan tol yang dikelola, tetapi juga dari nilai yang mampu diciptakan bagi masyarakat dan negara. Karena itu, setiap aset, inovasi, dan kilometer jalan tol harus dikelola secara optimal dengan menempatkan pelanggan sebagai pusat strategi bisnis melalui prinsip Know Your Customer,” ujar Rivan di Jakarta, Kamis (16/7).

Pergeseran orientasi tersebut juga diperkuat melalui perubahan paradigma dari infra as a structure menjadi infra as a culture atau infraculture. Melalui pendekatan ini, Jasa Marga tidak hanya membangun dan mengoperasikan jalan tol, tetapi juga mengembangkan ekosistem infrastruktur transportasi yang mampu memperkuat konektivitas, menggerakkan perekonomian, dan meningkatkan kualitas pengalaman perjalanan.

"Kami ingin infrastruktur yang dikelola Jasa Marga memberikan manfaat yang lebih besar dari sekadar menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Infrastruktur juga harus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, memperkuat kepercayaan publik, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan. Inilah semangat infraculture yang terus kami bangun," jelas Rivan.

Kuasai 42 Persen Pangsa Pasar Jalan Tol

Sebagai pengembang utama, Jasa Marga saat ini menguasai 42 persen pangsa pasar panjang jalan tol komersial yang telah beroperasi di Indonesia, atau sepanjang 1.294 km. Dengan pengalaman selama lebih dari empat dekade, inovasi digital juga terus digenjot untuk merespons kebutuhan zaman.

"Pendekatan digital era baru saat ini ikut mengubah cara masyarakat mengambil keputusan hingga melahirkan ekspektasi pelayanan berbeda yang bertujuan untuk memberikan experience yang lebih baik. Jasa Marga menyempurnakannya menjadi strategi perusahaan menuju customer experience yang lebih baik, salah satunya melalui aplikasi Travoy."

Selain meluncurkan aplikasi Travoy, Jasa Marga turut mentransformasikan layanan pusat panggilan dengan mengubah nomor Call Center dari 14080 menjadi 133. Layanan baru ini bahkan sukses memperoleh predikat Exceptional dan meraih peringkat pertama dalam ajang Contact Center Service Excellence Award 2025.

Di sisi lain, Jasa Marga juga melakukan rejuvenasi pada rest area agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat singgah (transit area), melainkan menjelma menjadi destinasi (destination area) yang menghadirkan pengalaman perjalanan baru sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan pelaku usaha.

"Rest area harus berkembang menjadi bagian dari ekosistem perjalanan yang memberikan pengalaman, membuka peluang ekonomi, dan memperkuat keterlibatan masyarakat di sepanjang koridor jalan tol," kata Rivan menambahkan.

Pembangunan Sejumlah Jalan Tol

Komitmen Jasa Marga dalam memperluas konektivitas juga dibuktikan lewat kelanjutan pembangunan sejumlah jalan tol strategis yang saat ini masih berada dalam tahap konstruksi dan pembebasan lahan. Proyek-proyek tersebut meliputi Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi, Yogyakarta–Bawen, Solo–Yogyakarta–YIA Kulon Progo, Jakarta–Cikampek II Selatan, dan Akses Patimban.

Bahkan, empat ruas di antaranya (selain Jalan Tol Akses Patimban) telah sukses dioperasikan secara fungsional tanpa tarif pada periode Idulfitri 1447 H/Lebaran 2026 kemarin guna mendukung kelancaran mobilitas mudik masyarakat. Pengoperasian jalur fungsional ini terbukti memberikan nilai tambah dalam mengurai titik kepadatan, memangkas waktu tempuh, mempermudah akses konektivitas wisata, serta berkontribusi langsung menggerakkan perekonomian lokal di sekitar koridor tol selama masa libur panjang.

Pengembangan jaringan tersebut menjadi bagian utuh dari upaya Jasa Marga untuk mewujudkan setiap kilometer jalan tol yang lancar, aman, dan nyaman, sekaligus mempermudah distribusi logistik dan memperkuat daya saing nasional.

"Inilah ukuran keberhasilan transformasi Jasa Marga sebagai perusahaan yang terus bertumbuh, kokoh, dan mampu menciptakan nilai berkelanjutan," tutup Rivan.

Rekomendasi