Pemerintah Provinsi Bali secara aktif mengajukan program peremajaan tanaman kakao guna meningkatkan produktivitas sektor perkebunan. Inisiatif ini bertujuan untuk mendukung hasil komoditas yang memiliki orientasi ekspor tinggi. Pengajuan benih telah disampaikan kepada pemerintah pusat melalui mekanisme e-proposal.
Langkah strategis ini difokuskan pada dua wilayah utama penghasil kakao di Bali, yaitu Kabupaten Jembrana dan Tabanan. Kedua daerah ini memiliki potensi besar namun dihadapkan pada tantangan signifikan. Kondisi tanaman kakao yang sudah tua dan rusak menjadi perhatian utama dalam upaya peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dewa Ayu Nyoman Budiasih, menjelaskan bahwa peremajaan sangat mendesak. Hal ini dikarenakan sebagian besar tanaman kakao di Bali telah berusia di atas 20 tahun, yang berdampak langsung pada penurunan hasil panen. Upaya ini diharapkan dapat mengembalikan kejayaan kakao Bali di pasar global.
Advertisement
Advertisement
Kondisi dan Tantangan Perkebunan Kakao di Bali
Data terbaru dari angka tetap tahun 2024 menunjukkan bahwa luas lahan perkebunan kakao di Bali mencapai total 13.398 hektare. Dari luasan tersebut, produksi kakao tercatat sebesar 4.868 ton per tahun, dengan rata-rata produktivitas sekitar 461 kilogram per hektare per tahun. Angka ini masih tergolong rendah dibandingkan potensi maksimal.
Perkebunan kakao tersebar di delapan kabupaten di Pulau Dewata, tidak termasuk Kota Denpasar yang tidak memiliki lahan perkebunan kakao. Tiga kabupaten dengan luasan perkebunan kakao terbesar adalah Jembrana dengan 6.340 hektare, Tabanan dengan 4.529 hektare, dan Buleleng seluas 1.169 hektare. Sebaran ini menunjukkan konsentrasi utama produksi kakao di wilayah barat dan tengah Bali.
Tantangan utama yang dihadapi adalah tingginya jumlah tanaman kakao yang rusak atau tidak menghasilkan. Totalnya mencapai 2.087 hektare di seluruh Bali. "Hasil produktivitas di Bali rata-rata masih rendah, di bawah 500 kilogram per hektare per tahun kecuali Jembrana yang 687 kilogram karena kebanyakan (tanaman) sudah tua di atas 20 tahun," ungkap Dewa Ayu Nyoman Budiasih.
Advertisement
Kondisi tanaman yang menua dan rusak parah ini paling banyak ditemukan di Jembrana, dengan luas 1.114 hektare, dan di Tabanan mencapai 498 hektare. Angka-angka ini menegaskan urgensi program peremajaan untuk mengembalikan vitalitas perkebunan kakao di kedua kabupaten tersebut. Peremajaan ini krusial untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Advertisement
Potensi Pengembangan dan Kualitas Kakao Premium Bali
Selain program peremajaan, Kabupaten Jembrana dan Tabanan juga memiliki potensi besar untuk pengembangan kakao lebih lanjut. Total lahan yang masih bisa dikembangkan mencapai 2.417 hektare, dengan rincian 359 hektare di Jembrana dan 2.057 hektare di Tabanan. Potensi ini dapat dimanfaatkan untuk perluasan area tanam dan peningkatan kapasitas produksi.
Dewan Kakao Indonesia mengakui Bali sebagai salah satu daerah penghasil kakao premium di tanah air. Kualitas biji kakao dari Bali telah dikenal dan diminati di pasar internasional. Reputasi ini menjadi modal penting bagi pengembangan sektor perkebunan kakao di masa depan.
Pemasaran produk kakao dari Bali bahkan telah berhasil menembus pasar ekspor global. Negara-negara tujuan ekspor meliputi Prancis, Belanda, Belgia, Jepang, Australia, dan Inggris. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa kakao Bali memiliki daya saing tinggi dan standar kualitas yang diakui secara internasional.
Advertisement
Dengan adanya peremajaan dan pengembangan, diharapkan produktivitas kakao Bali dapat meningkat signifikan. Peningkatan ini tidak hanya akan menguntungkan petani lokal tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai produsen kakao premium di kancah global. Dukungan pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
Sumber: AntaraNews