Tahukah Anda? Penyerapan Gabah Bulog Sumut Capai 44.788 Ton Hingga Oktober, Perkuat Cadangan Beras Nasional

Hingga Oktober, Penyerapan Gabah Bulog Sumut telah mencapai 44.788 ton gabah kering panen. Angka ini setara 22.394 ton beras, bagaimana dampaknya bagi ketahanan pangan?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Penyerapan Gabah Bulog Sumut Capai 44.788 Ton Hingga Oktober, Perkuat Cadangan Beras Nasional
Hingga Oktober, Penyerapan Gabah Bulog Sumut telah mencapai 44.788 ton gabah kering panen. Angka ini setara 22.394 ton beras, bagaimana dampaknya bagi ketahanan pangan? (AntaraNews)

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara (Sumut) telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Hingga Oktober 2025, Penyerapan Gabah Bulog Sumut berhasil mencapai total 44.788 ton gabah kering panen (GKP) dari para petani lokal. Penyerapan ini dilakukan dengan harga Rp6.500 per kilogram, sesuai arahan Badan Pangan Nasional.

Upaya masif ini bertujuan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di wilayah Sumut. Gabah yang diserap kemudian akan diproses menjadi beras untuk menjamin ketersediaan pasokan bagi masyarakat. Langkah strategis ini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menstabilkan harga dan pasokan pangan.

Meskipun beberapa daerah penyumbang gabah terbesar telah melewati masa panen puncak, Bulog Sumut terus menggencarkan penyerapan gabah. Ini dilakukan di daerah-daerah yang masih memiliki potensi panen, guna memastikan target penyerapan tercapai dan stok beras tetap aman.

Capaian Penyerapan Gabah dan Konversinya

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara mencatat angka penyerapan gabah kering panen (GKP) yang signifikan. Terhitung sejak Januari hingga Oktober 2025, total 44.788 ton GKP telah berhasil diserap dari petani di berbagai wilayah. Angka ini menunjukkan progres positif dalam upaya pengadaan stok pangan.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menjelaskan bahwa jumlah GKP yang diserap tersebut memiliki nilai setara beras. "Penyerapan GKP sebanyak 44.788 ton itu jika dikonversikan menjadi beras setara dengan 22.394 ton," ujarnya.

Konversi ini penting untuk mengukur seberapa besar kontribusi gabah petani terhadap ketersediaan beras nasional. Dengan demikian, setiap ton gabah yang diserap langsung berkontribusi pada penguatan cadangan beras yang siap didistribusikan ke masyarakat. Penyerapan gabah Bulog Sumut ini menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas pasokan.

Fokus Daerah Penyerapan dan Kontribusi Petani

Penyerapan gabah kering panen oleh Bulog Sumut tidak hanya terfokus pada satu wilayah. Budi Cahyanto merinci bahwa kegiatan penyerapan dilakukan di sejumlah daerah sentra produksi padi. Daerah-daerah tersebut antara lain Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Asahan, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Meskipun demikian, kegiatan penyerapan masih terus berlangsung di beberapa lokasi lainnya. Sebagai contoh, di Kabupaten Simalungun, Bulog Sumut masih menyerap sekitar 128 ton GKP. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dan kesigapan Bulog dalam menjangkau potensi panen di berbagai wilayah untuk mendukung penyerapan gabah.

Budi juga menambahkan, "Sementara untuk penyumbang gabah terbesar di Sumut seperti Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan sudah panen, tinggal sedikit lagi penyerapan di wilayah tersebut." Pernyataan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar penyerapan telah berhasil dilakukan di daerah-daerah kunci, namun Bulog tetap siaga untuk sisa panen.

Peran petani dalam proses penyerapan ini sangat vital. Gabah yang mereka jual, terutama yang sudah masuk waktu panen, memastikan kualitas beras yang dihasilkan akan lebih baik. Hal ini penting mengingat beras tersebut akan kembali didistribusikan kepada masyarakat sebagai bagian dari Cadangan Beras Pemerintah.

Penguatan Cadangan Beras Pemerintah dan Harga Acuan

Tujuan utama dari seluruh proses penyerapan gabah ini adalah untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Setelah gabah diserap, tahapan selanjutnya adalah membawanya ke penggilingan. Proses ini mengubah gabah kering menjadi beras yang siap disimpan dan didistribusikan.

Langkah ini merupakan implementasi dari perintah Badan Pangan Nasional. Badan tersebut menugaskan Bulog untuk secara aktif melakukan penyerapan gabah petani dengan harga acuan yang telah ditetapkan. "Hal itu sebagai perintah Badan Pangan Nasional yang menugaskan untuk melakukan penyerapan gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram kembali," kata Budi Cahyanto.

Penetapan harga Rp6.500 per kilogram ini memberikan kepastian bagi petani sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Dengan harga yang kompetitif, petani diharapkan termotivasi untuk menjual gabahnya kepada Bulog, sehingga pasokan CBP dapat terus terjaga melalui penyerapan gabah Bulog Sumut.

Selain penyerapan, Bulog Sumut juga terus memantau stok beras yang ada di gudang. Saat ini, tercatat sekitar 61.380 ton stok beras tersedia. Apabila stok ini mulai menipis, Bulog Sumut akan segera mengajukan penambahan pasokan dari pusat. Ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan pangan di wilayah Sumut tetap tercukupi tanpa hambatan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi