Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan kemampuan pelajar Indonesia masih tertinggal signifikan dari mayoritas negara di Asia Tenggara. Laporan dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada Selasa (8/9) mengungkapkan bahwa Indonesia mencatatkan skor mengalami peningkatan dibandingkan skor PISA 2022.
Dibandingkan dengan PISA 2022, capaian Indonesia menunjukkan dinamika beragam di setiap bidangnya. Skor sains Indonesia meningkat dari 383 menjadi 389 poin dan berada di peringkat 73 dari 91 negara, dengan 36,81 persen siswa mencapai kompetensi minimum.
Skor membaca juga mengalami kenaikan dari 359 menjadi 365 poin, menempatkan Indonesia di peringkat 74 dari 90 negara dengan 27,11 persen siswa mencapai standar minimum. Sebaliknya, skor matematika turun tipis dari 366 menjadi 364 poin sehingga Indonesia berada di peringkat 78 dari 90 negara, di mana hanya 16,93 persen siswa mencapai kompetensi minimum.
Meskipun skor sains dan membaca naik, posisi peringkat Indonesia tidak otomatis membaik secara signifikan karena adanya perbedaan jumlah negara peserta dibanding periode sebelumnya.
Advertisement
Indonesia Masih Tertinggal dengan Negara ASEAN
Secara regional, capaian Indonesia masih berada di papan bawah ASEAN. Dari negara-negara ASEAN mengikuti PISA 2025, Singapura menjadi negara ASEAN dengan capaian tertinggi, dengan skor 560 poin untuk sains, 535 poin untuk membaca, dan 563 poin untuk matematika.
Vietnam menyusul di posisi berikutnya dengan mencatat 457 poin untuk sains, 392 poin untuk membaca, dan 443 poin untuk matematika. Brunei Darussalam juga mencatatkan hasil tinggi dengan memperoleh 439 poin untuk sains, 426 poin untuk membaca, dan 435 poin untuk matematika.
Thailand berada di atas Indonesia dengan skor 432 sains, 392 membaca, dan 407 matematika, disusul Malaysia mencatatkan 419 poin sains, 393 membaca, dan 397 matematika.
Indonesia berada di bawah kelima negara tersebut dalam ketiga bidang, kecuali sains jika dibandingkan dengan Filipina dan Kamboja. Filipina diketahui memperoleh 373 poin untuk sains, 367 poin untuk membaca, dan 371 poin untuk matematika, sedangkan Kamboja mencatat 382 poin untuk sains, 347 poin untuk membaca, dan 366 poin untuk matematika.
Dengan demikian, Kamboja menjadi negara dengan skor membaca terendah di ASEAN, yakni 347 poin. Sementara untuk matematika, skor terendah dicatat Indonesia dengan 364 poin. Pada bidang sains, Filipina berada di posisi terbawah dengan 373 poin.
Kesenjangan kualitas pendidikan Indonesia makin terlihat nyata jika disandingkan dengan standar rata-rata negara anggota OECD.
Rata-rata OECD mencatatkan skor 482 poin untuk sains, 461 poin untuk membaca, dan 463 poin untuk matematika. Hal ini menandakan bahwa Indonesia masih tertinggal cukup jauh dari standar internasional, yaitu selisih 93 poin pada kategori sains, 96 poin pada kategori membaca, dan 99 poin pada kategori matematika.