Jakarta, 20/10 (ANTARA) – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) yang saat ini tercatat rendah adalah indikasi kuat kepercayaan investor, baik asing maupun domestik, terhadap fondasi ekonomi Indonesia di masa depan. Penilaian ini disampaikan oleh Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin malam, menyoroti kondisi pasar keuangan domestik.
Menurut Purbaya, tingkat yield SBN yang rendah merupakan cerminan positif dari kondisi ekonomi negara. "Yield-nya rendah kan berarti kita bagus. Orang lain percaya sama kita. Domestik sama asing," kata Purbaya, menjelaskan bahwa kepercayaan ini menjadi faktor utama di balik tren penurunan imbal hasil.
Ia menambahkan bahwa saat ini yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 5,9 persen, sebuah angka yang disebut pasar sebagai level terendah dalam 20 tahun terakhir. Kondisi ini, menurut Purbaya, menjadi bukti nyata bahwa pasar menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan prospektif, menarik minat para investor.
Advertisement
Advertisement
Kepercayaan Investor dan Fondasi Ekonomi Indonesia
Penurunan yield SBN secara signifikan menjadi sorotan utama dalam pasar keuangan Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa fenomena ini adalah sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa investor memiliki keyakinan tinggi terhadap stabilitas dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Angka 5,9 persen untuk yield SBN tenor 10 tahun merupakan pencapaian penting. Ini adalah level terendah yang pernah tercatat dalam dua dekade terakhir. Kondisi ini mengindikasikan bahwa risiko investasi di Indonesia dipandang rendah oleh pasar.
Purbaya menekankan bahwa tanpa adanya kepercayaan yang kuat, yield tidak mungkin bisa turun seperti ini. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya persepsi positif investor. Kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia adalah kunci.
Advertisement
Advertisement
Tren Penurunan Imbal Hasil dan Perbandingan Internasional
Imbal hasil SBN 10 tahun telah menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa imbal hasil tercatat 5,94 persen pada Kamis (16/10). Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar yang menguntungkan bagi pemerintah dalam membiayai kebutuhan anggarannya.
Sebagai perbandingan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Note) 10 tahun berada di level 3,975 persen pada hari yang sama. Selisih (spread) imbal hasil antara SBN dan US Treasury pun semakin menyempit. Ini tercatat sebesar 1,97 persen atau 197 basis poin (bps).
Penyempitan spread ini menunjukkan bahwa daya tarik investasi di SBN Indonesia meningkat relatif terhadap obligasi AS. Investor melihat potensi keuntungan yang kompetitif dengan risiko yang dianggap terkendali. Ini adalah indikator penting bagi posisi Indonesia di pasar keuangan global.
Advertisement
Advertisement
Pergerakan Investor di Pasar SBN dan Kepemilikan
Partisipasi investor di pasar SBN menunjukkan pola yang menarik. Sejak awal tahun hingga 16 Oktober 2025, investor nonresiden tercatat melakukan beli neto sebesar Rp17,28 triliun di pasar SBN. Ini menunjukkan minat yang berkelanjutan dari investor asing terhadap instrumen utang pemerintah Indonesia.
Sebaliknya, pasar saham dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) masih mencatatkan jual neto. Masing-masing sebesar Rp51,24 triliun dan Rp132,75 triliun. Perbedaan ini menunjukkan preferensi investor nonresiden terhadap SBN dibandingkan aset lain di Indonesia.
Total outstanding SBN tercatat sebesar Rp6.592 triliun per akhir September 2025, berdasarkan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI). Jumlah ini terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) Rp5.301 triliun dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp1.290 triliun. Rincian SUN terdiri dari Obligasi Negara (SUN jangka panjang) sebesar Rp5.243 triliun dan Surat Perbendaharaan Negara (SPN, jangka pendek) Rp58,7 triliun. Berdasarkan kepemilikan, SUN mayoritas dipegang oleh bank swasta nasional Rp526 triliun, diikuti bank pemerintah/BUMN Rp316,5 triliun dan bank asing Rp74,9 triliun. Sementara pada SPN, kepemilikan terbesar adalah bank pemerintah Rp3,45 triliun dan bank asing Rp2,58 triliun.
Advertisement
Sumber: AntaraNews